Perpanjangan Tenggat Serangan terhadap Fasilitas Energi Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari. Keputusan ini diambil dengan alasan negosiasi antara AS dan Iran masih berlangsung secara baik. Pernyataan ini menjadi perpanjangan kedua setelah sebelumnya Trump menyatakan akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tidak ada kesepakatan.
Pada hari Jumat (27/3/2026), Trump mengumumkan bahwa ia akan menunda periode penghancuran pembangkit energi selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026 pukul 20.00 waktu Timur. Ia menegaskan bahwa negosiasi masih berjalan sangat baik meskipun ada beberapa pernyataan yang tidak akurat dari media berita palsu dan pihak lain.
Sebelumnya, pada Kamis (26/3/2026), Trump menyebut bahwa operasi militer dapat berlangsung selama empat hingga enam pekan dan menyatakan bahwa upaya perang AS berjalan lebih cepat dari jadwal. Namun, perpanjangan tenggat waktu ini juga memberikan waktu tambahan bagi AS untuk memperkuat pengerahan pasukan.
Laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip pejabat anonim di Pentagon menyebut bahwa Departemen Pertahanan sedang mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah. Hal ini memberi lebih banyak opsi bagi Trump dalam menghadapi situasi yang semakin memburuk.
Persiapan Militer dan Negosiasi
Perlu diketahui bahwa belum jelas siapa saja pihak yang sedang melakukan negosiasi dengan AS karena sejumlah pejabat tinggi Iran telah tewas. Trump menyampaikan bahwa Iran awalnya meminta penundaan tujuh hari, tetapi ia memberikan waktu 10 hari. Namun, laporan dari Wall Street Journal menyebut bahwa para mediator mengatakan Teheran sebenarnya tidak meminta penundaan 10 hari tersebut.
Dalam pernyataannya, pemerintah Iran menyatakan masih menunggu respons setelah menolak rencana perdamaian 15 poin yang diajukan AS. Mereka menawarkan syarat-syarat sendiri, termasuk jaminan bahwa AS dan Israel tidak akan melanjutkan serangan, pembayaran reparasi perang, serta pengakuan atas otoritas Iran di Selat Hormuz.
Iran juga menuntut penghentian perang di seluruh front konflik, yang kemungkinan merujuk pada perang paralel Israel melawan kelompok militan Hezbollah yang didukung Teheran di Lebanon.
Kenaikan Harga Energi dan Dampak Ekonomi
Dalam rapat kabinet, Trump mengatakan Iran telah mengizinkan 10 kapal pengangkut minyak melintasi selat tersebut sebagai isyarat itikad baik. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menambahkan bahwa program asuransi AS untuk mendorong pelayaran akan segera diluncurkan.
Di sisi lain, pejabat militer Prancis menyatakan bahwa mereka bersama mitra internasional tengah menyiapkan inisiatif untuk memulihkan kebebasan navigasi setelah konflik mereda. Sementara itu, parlemen Iran sedang menyusun rancangan undang-undang untuk mengenakan biaya transit kapal yang melintasi selat tersebut, menurut kantor berita Fars News Agency.
Kenaikan harga energi juga mendorong Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menaikkan proyeksi inflasi negara-negara G20 tahun ini menjadi 4%, dengan tingkat yang bahkan lebih tinggi di AS.
Konflik Berlanjut dan Korban Jiwa
Meski pembicaraan berlangsung, pertempuran masih berlanjut. Israel Defense Forces melaporkan serangan udara ke Teheran dan Isfahan, sementara televisi pemerintah Iran mengumumkan gelombang serangan rudal ke Israel. Dua orang dilaporkan tewas setelah puing rudal yang berhasil dicegat jatuh di Abu Dhabi.
Secara keseluruhan, lebih dari 4.500 orang telah tewas dalam konflik tersebut, menurut pemerintah dan lembaga nonpemerintah. Sekitar tiga perempat korban jiwa terjadi di Iran. Hampir 1.100 orang tewas di Lebanon, sementara lebih dari satu juta orang mengungsi. Puluhan korban juga dilaporkan di Israel serta negara-negara Teluk Arab.
Beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam perang, menurut sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Komentar dan Harapan Damai
Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk AS, Yousef Al Otaiba, dalam opini di Wall Street Journal menulis bahwa Iran tidak boleh dibiarkan menyandera AS, UEA, dan perekonomian global. “Gencatan senjata sederhana tidaklah cukup,” tulisnya.
Trump sebelumnya juga menegaskan bahwa setiap perjanjian damai harus melarang Iran memperoleh senjata nuklir atau memperkaya material radioaktif bahkan untuk tujuan sipil. Rencana AS juga mengharuskan Iran membatasi persenjataan rudalnya hanya untuk pertahanan diri. Sebagai imbalannya, Iran berpotensi memperoleh pelonggaran sanksi ekonomi.







