Pernyataan Kontroversial Donald Trump tentang Pengambilalihan Minyak Iran
Donald Trump, mantan presiden Amerika Serikat, kembali membuat pernyataan yang menarik perhatian dunia. Dalam sebuah rapat kabinet di Gedung Putih, ia menyebut pengambilalihan minyak Iran sebagai salah satu opsi strategis AS dalam menghadapi konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan ini memicu kekhawatiran global karena potensi konflik yang bisa melebar dan mengganggu stabilitas energi dunia.
Trump mencontohkan keberhasilan AS di Venezuela sebagai bukti nyata bahwa pendekatan serupa bisa dilakukan terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa keterlibatan AS di sektor minyak Venezuela telah menghasilkan keuntungan besar, hingga miliaran dolar. Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa kekuatan ekonomi dan militer dapat bekerja bersama untuk mencapai tujuan tertentu.
Opsi Penguasaan Minyak Iran
Dalam rapat kabinet tersebut, Trump secara terbuka menyebut kemungkinan AS mengambil alih sektor minyak Iran. Ia menjelaskan bahwa ini adalah sebuah opsi, meskipun tidak akan membicarakan detailnya. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya siap memainkan peran dominan dalam perebutan energi dunia.
Ia juga mengungkap adanya “hadiah” terkait minyak dari Iran, yang memperkuat narasi kepentingan energi dalam konflik tersebut. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru, karena ambisi menguasai minyak berpotensi memperluas konflik dan mengguncang stabilitas kawasan secara lebih luas.
Tenggat Waktu dan Ancaman Trump
Pernyataan Trump disampaikan sehari sebelum tenggat waktu yang ia berikan kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sebelumnya, ia mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak sepenuhnya membuka selat tersebut dalam waktu 48 jam.
Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kini praktis terhambat akibat konflik yang berlangsung. Trump menegaskan bahwa jika Iran membuat “kesepakatan yang tepat”, maka Selat Hormuz akan dibuka kembali.
Klaim Iran Ingin Berunding
Trump juga kembali menegaskan klaimnya bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Ia menyatakan bahwa Iran adalah negosiator yang hebat, meskipun ia mengklaim bahwa mereka adalah petarung yang buruk. Menurutnya, Iran memohon untuk membuat kesepakatan, meski ia mengkritik lambatnya tindakan yang dilakukan oleh pihak Iran.
Klaim Trump soal negosiasi ini membuatnya kembali mengundur tenggat waktu serangan ke aset energi Iran hingga 6 April mendatang. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan mengakui adanya pertukaran pesan tidak langsung dengan AS melalui perantara, namun menegaskan hal itu belum merupakan negosiasi formal.
Proposal Damai 15 Poin
Dalam rapat kabinet yang sama, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Washington telah menyusun daftar tindakan berisi 15 poin sebagai kerangka kesepakatan damai dengan Iran. Proposal tersebut mencakup tuntutan AS terkait program nuklir dan misil Iran, stok uranium, serta isu lainnya.
Trump juga mengungkapkan bahwa Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz pada pekan ini sebagai sebuah “hadiah,” yang pada Selasa ia sebut sebagai pemberian yang sangat signifikan tanpa merinci lebih lanjut.
Sindiran ke Sekutu NATO
Selain itu, Trump kembali menyampaikan kekecewaannya terhadap sekutu NATO yang tidak memenuhi permintaannya untuk memberikan bantuan angkatan laut guna mengamankan Selat Hormuz. Menurutnya, permintaan tersebut merupakan “uji” bagi komitmen sekutu terhadap AS.
“Jika kalian tidak melakukannya, kami akan mengingatnya, ingat saja,” kata Trump. “Mereka punya ungkapan yang bagus: Jangan pernah lupa. Jangan pernah lupa.”







