Kemungkinan invasi darat AS ke Iran dinilai masih belum layak dilakukan. Hal ini disampaikan oleh A.S. Dulat, seorang pakar militer dan mantan kepala badan intelijen eksternal India, Research and Analysis Wing (RAW), dalam sebuah wawancara dengan mantan Menteri Luar Negeri India, Salman Khurshid.
Dulat menyatakan bahwa masyarakat Amerika tidak akan mudah menerima tindakan invasi darat yang berisiko tinggi. Ia menekankan bahwa penempatan pasukan di lapangan akan membawa konsekuensi berupa kembalinya “peti mati” dari medan perang, yang tentu akan sangat tidak populer di kalangan rakyat Amerika.
Selain itu, Dulat juga mengungkap bahwa CIA mungkin telah memberi informasi penting kepada Mossad Israel terkait pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada akhir Februari lalu. Penilaian ini didasarkan pada informasi intelijen yang ia peroleh.
Menurut Dulat, Iran telah mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa Khamenei memiliki daftar lengkap penerus yang siap menggantikannya di berbagai posisi penting jika terjadi situasi tak terduga.
Ia juga mengkritik sikap AS yang sering meremehkan Iran. Dulat mengacu pada kunjungan Henry Kissinger ke India pada tahun 2005, saat ia masih menjadi anggota NSA (Badan Keamanan Nasional) di sana. Saat itu, Kissinger menyatakan bahwa jika Iran tidak berperilaku baik, maka Iran akan lenyap dari muka bumi. Namun, hingga saat ini, hal tersebut belum terwujud.
Dulat juga menyoroti perkembangan poros Rusia-China sebagai poros yang kuat dalam skenario geopolitik global. Menurutnya, kedua negara tersebut secara aktif mendukung Iran, tanpa keraguan sedikit pun.
Mengenai kemungkinan gencatan senjata atau berakhirnya konflik antara Iran dan AS, Dulat menyatakan bahwa beberapa konsesi, meskipun hanya bersifat kosmetik, harus diberikan kepada Iran. Ia juga menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump dikabarkan telah mengirimkan proposal perdamaian ke Iran secara sepihak. Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan dan ditindaklanjuti ke Iran.
Namun, Teheran dilaporkan menolak 15 poin dalam proposal Trump dan mengajukan lima tuntutan tambahan. Di tengah upaya diplomasi ini, AS juga dikabarkan menambah 1.000 personel militer di Timur Tengah. Informasi ini mencuat bahwa AS ingin mencaplok Pulau Kharg, yang menjadi basis minyak Iran.
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, menegaskan bahwa Pakistan percaya bahwa negosiasi dan solusi diplomatik adalah cara terbaik untuk menangani krisis internasional, khususnya krisis antara Iran dan AS-Israel. Ia menyatakan bahwa Pakistan sangat berharap agar solusi dapat ditemukan melalui dialog.
Chaudhri mengatakan bahwa Pakistan telah berupaya memainkan peran sebagai mediator dalam krisis tersebut. Ia juga menyambut baik ide untuk menjadi tuan rumah dialog antara Iran dan AS-Israel di Islamabad. “Kami sangat senang menjadi tuan rumah dialog seperti itu di Islamabad di mana kita semua dapat duduk bersama dan menemukan solusi untuk konflik tersebut,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang ketidakpercayaan Iran terhadap AS karena serangan yang terjadi saat keduanya sedang bernegosiasi, Chaudhri menekankan bahwa negosiasi tetap menjadi jalan terbaik. Ia menambahkan bahwa Pakistan bekerja sama dengan semua negara sahabat di kawasan dan tetap percaya bahwa solusi diplomatik masih mungkin dilakukan.
Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa Islamabad siap menjadi tuan rumah pembicaraan “bermakna dan konklusif” antara AS dan Iran. Ia menekankan bahwa Pakistan sepenuhnya mendukung upaya dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah demi perdamaian dan stabilitas di kawasan.


![Kualitas Tak Pernah Palsu! Ini Alasan Honda CBR 150R [K45R] Indonesia Jadi Raja Sport Sejati!](https://infomalangraya.com/wp-content/uploads/2026/03/Heaa2365942af450ab66c7f19207692e4s-300x300.webp)




