Penurunan Volume Sampah di Kota Malang Selama Momen Lebaran 2026
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mencatat adanya fenomena unik selama momen Lebaran 2026, yaitu penurunan volume sampah sebesar 100 ton. Jika biasanya rata-rata volume sampah harian mencapai 600 ton, saat libur Lebaran angka tersebut berkurang menjadi 500 ton per hari.
Plh Kepala Dinas LH, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh banyaknya mahasiswa yang meninggalkan Kota Malang untuk mudik ke kampung halaman. Hal ini cukup signifikan dalam mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan selama masa libur Lebaran.
Lonjakan Titik Tertentu
Meskipun terjadi penurunan secara keseluruhan, DLH Kota Malang tetap mengantisipasi lonjakan volume sampah di beberapa titik tertentu. Misalnya, saat Lebaran, sejumlah lokasi seperti masjid mengalami peningkatan volume sampah akibat aktivitas keagamaan.
Untuk menghadapi situasi ini, DLH telah menyiapkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, termasuk operasional Tempat Pembuangan Sampah (TPS) seperti biasanya. Di Alun-alun Merdeka Malang dan depan Masjid Jami, DLH menurunkan dua truk dan 30 personil untuk membersihkan sampah setelah salat Ied. Sementara di Masjid Sabilillah, petugas yang dikerahkan sebanyak 20 orang. Kondisi di lokasi tersebut diklaim sudah bersih dalam waktu kurang dari tiga jam.
Transisi Teknologi Pengolahan Sampah
Selain itu, DLH Kota Malang sedang melalui proses transisi serius dalam pengelolaan sampah setelah batalnya Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Supiturang. Hal ini memaksa Pemkot Malang mencari alternatif lain untuk pengolahan sampah.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah revitalisasi enam Tempat Penampungan Sementara (TPS) untuk memperbaiki manajemen sampah dari sumber. Meski demikian, dampak dari revitalisasi ini masih belum terlihat secara signifikan.
Strategi RDF Alternatif Pengelolaan Sampah
Sebagai gantinya, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengungkapkan rencana strategi alternatif dalam pengelolaan sampah. Salah satunya adalah melalui program Lingkungan, Sosial, Dampak, Bermanfaat (LSDB), yang memanfaatkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
Teknologi ini memungkinkan pengolahan sampah tanpa harus menunggu kapasitas hingga 1.000 ton per hari seperti pada skema PSEL. “Dengan RDF dan program LSDB tidak harus sampai seribu ton per hari,” ujar Wahyu Hidayat.
Program ini juga mendapat dukungan dari pihak Jepang serta investasi dari pemerintah pusat. Ia menambahkan bahwa meskipun fasilitas pengolahan energi dari sampah nantinya akan berada di wilayah Kabupaten Malang, pengelolaan sampah antara kedua daerah tetap saling berkaitan.
“Sampah kita nanti juga tetap dibuang ke Kabupaten Malang,” ujarnya.
Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Selain upaya pemerintah, partisipasi masyarakat juga sangat penting dalam pengelolaan sampah. DLH Kota Malang terus berupaya memberikan edukasi dan sosialisasi kepada warga tentang pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Dengan kombinasi inovasi teknologi, kebijakan pemerintah, dan kesadaran masyarakat, diharapkan pengelolaan sampah di Kota Malang dapat semakin efisien dan berkelanjutan.







