Kinerja Emen CPO Tahun 2025 yang Positif dan Prospek di Tahun 2026
Pada tahun 2025, kinerja emiten crude palm oil (CPO) menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan. Hal ini terlihat dari peningkatan pendapatan dan laba bersih yang dicatatkan oleh beberapa perusahaan besar dalam sektor sawit. Dengan demikian, kinerja positif tersebut diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2026.
Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Bersih
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi salah satu contoh perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan yang baik. Pada tahun 2025, AALI berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,15 triliun, meningkat 27,83% secara tahunan dibandingkan periode sama pada tahun 2024. Pendapatan yang diperoleh AALI juga naik sebesar 31,3% menjadi Rp 28,65 triliun.
Direktur Astra Agro, Tingning Sukowignjo menjelaskan bahwa peningkatan kinerja keuangan AALI dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, harga CPO mengalami peningkatan. Rata-rata Crude Palm Oil (CPO) CIF Rotterdam sepanjang tahun 2025 mencapai US$ 1.222 per ton, meningkat 13% dibandingkan harga rata-rata tahun 2024 yang besarnya US$ 1.084/ton. Sementara itu, dari sisi internal, AALI mencatatkan kenaikan 13,3% yoy pada penjualan CPO beserta turunannya dan 15,8% yoy pada penjualan kernel dan turunannya.
Selain AALI, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatatkan pertumbuhan yang baik. Penjualan LSIP sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 5,51 triliun, naik 21% YoY dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 4,56 triliun. Laba bersih LSIP juga meningkat 28% YoY menjadi Rp 1,89 triliun per Desember 2025.
Perusahaan Lain yang Menunjukkan Pertumbuhan
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) juga mencatatkan penjualan sebesar Rp 21,06 triliun sepanjang tahun 2025, naik 32% YoY dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 15,96 triliun. Laba bersih SIMP naik 33% YoY menjadi Rp 2,07 triliun. Laba inti alias core profit tumbuh 26% YoY menjadi Rp 2,91 triliun.
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 11,40 triliun pada tahun 2025, naik 17,89% YoY. Laba bersih TAPG menjadi sebesar Rp 3,7 triliun di 2025, naik 18,65% YoY dari Rp 3,12 triliun.
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) membukukan penjualan bersih emiten CPO Grup Sinarmas ini mencapai Rp 86,94 triliun sepanjang tahun 2025, naik 10,28% YoY. SMAR pun mencatat laba bersih Rp 2,58 triliun pada 2025, melesat 102,23% YoY.
Prospek Tahun 2026
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, kinerja positif 2025 didorong oleh harga CPO yang tinggi sepanjang tahun lalu. “Ini terutama akibat kombinasi pasokan yang sempat ketat, kebijakan biodiesel (B40), serta permintaan ekspor yang masih solid,” ujarnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, tingginya kinerja emiten CPO tahun lalu masih didorong oleh peningkatan harga CPO lantaran kuatnya permintaan, baik secara global maupun domestik. “Kebijakan B40 membuat permintaan domestik kuat dan para emiten bisa memanfaatkan tingginya harga CPO sepanjang tahun lalu,” ujarnya.
Namun, prospek emiten CPO pada tahun 2026 cenderung mixed dan tumbuh moderat. Azis melihat, pertumbuhan moderat emiten CPO pada tahun ini disebabkan oleh kebijakan B50 yang ditunda, sehingga menjadi pupus harapan dalam meningkatkan permintaan. Di sisi lain, biaya operasional emiten CPO di tahun ini juga bisa terpengaruh akibat peningkatan biaya seperti pupuk yang diimpor.
Rekomendasi Investasi
Azis merekomendasikan beli dengan target Rp 1.450 per saham. Nafan pun merekomendasikan accumulative buy untuk AALI dengan target harga Rp 8.700 per saham. Rekomendasi add juga disematkan untuk LSIP, TAPG, dan SIMP dengan target harga masing-masing Rp 1.435 per saham, Rp 2.080 per saham, dan Rp 700 per saham.
Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe menambahkan, harga CPO di tahun ini akan ada di kisaran MYR 4.200 – MYR 4.500 per ton sepanjang tahun 2026. Artinya, harga CPO global tak akan berbeda jauh dengan besaran di tahun lalu. “Sehingga, tidak akan ada pertumbuhan laba bersih yang signifikan dari emiten CPO di tahun ini, kecuali produksi mereka naik,” katanya.
Pada tahun ini, kinerja TAPG diproyeksikan masih dalam tren naik lantaran usia tanaman mereka yang masih di masa produktif. Sementara, AALI dan LSIP masih fokus melakukan replanting. Secara umum, produksi sawit nasional juga kemungkinan hanya bisa naik 5% di tahun ini lantaran profil tanaman yang sudah tua. Kondisi ini bisa membuat harga CPO stabil.
“Kecuali, average selling price mereka bisa dipasang di MYR 4.800 per ton, itu bisa menutup risiko dari penurunan produksinya,” ungkapnya.
Selain itu, ada kemungkinan juga margin para emiten akan tertekan lantaran konflik geopolitik yang bisa meningkatkan biaya untuk sejumlah hal yang perlu diimpor, seperti pupuk dan BBM.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli untuk LSIP dan AALI karena price to book value (PBV) masih di bawah 1x, yaitu masing-masing 0,67x dan 0,6x. Target harga untuk LSIP dan AALI hingga akhir 2026 masing-masing adalah Rp 1.800 – Rp 2.000 per saham dan Rp 11.000 – Rp 13.000 per saham.







