Infomalangraya.com, JAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konten digital yang dikonsumsi oleh anak-anak. Banyak dari mereka kini terpapar video berbasis AI, yang memicu kekhawatiran para ahli tentang dampaknya terhadap perkembangan mental dan emosional anak.
Fenomena ini dikenal sebagai “AI slop”, yaitu konten AI berkualitas rendah yang dinilai memiliki potensi untuk membingungkan dan memengaruhi cara berpikir anak-anak. Isu ini kian mengemuka setelah banyaknya konten AI yang muncul di platform seperti YouTube, yang menjadi salah satu sumber hiburan utama bagi anak-anak.
Para ahli dan organisasi perlindungan anak menilai bahwa belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa konten AI aman bagi anak. Mereka khawatir, jika tidak diatur dengan baik, konten-konten ini bisa membuat anak terlalu lama terpaku pada layar, sehingga mengganggu perkembangan kognitif dan sosial mereka. Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada CEO YouTube Sundar Pichai dan Neil Mohan, koalisi yang dipimpin organisasi nirlaba Fairplay menegaskan bahwa konten AI untuk anak masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Menurut penulis surat tersebut, konten AI yang tidak teruji dapat berdampak negatif, baik secara mental maupun perilaku, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Mereka juga menyebutkan adanya risiko distorsi persepsi realitas dan beban kognitif berlebihan akibat paparan konten digital yang terus-menerus. Selain itu, kebiasaan menonton video AI bisa mengurangi aktivitas nyata yang penting bagi pertumbuhan anak.
Keberadaan konten AI yang semakin marak juga semakin memperkuat kekhawatiran. Salah satunya adalah kerja sama antara YouTube dengan studio AI Animaj, yang memproduksi konten anak dengan penayangan miliaran kali. Langkah ini dinilai berpotensi memperluas penyebaran konten AI di kalangan anak-anak usia dini.
Jenny Radesky, seorang pakar perkembangan anak, menekankan bahwa platform digital harus lebih memperhatikan dampak konten terhadap anak. Menurutnya, anak-anak jangan hanya dianggap sebagai target pasar, tetapi juga perlu dilindungi dari bahaya digital. Ia menegaskan bahwa saat ini sudah waktunya platform menghormati perhatian dan pikiran anak, bukan hanya menjadikannya sebagai sumber keuntungan.
Selain itu, Jonathan Haidt, penulis buku The Anxious Generation, turut menandatangani surat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa isu paparan konten digital pada anak telah menjadi perhatian luas di kalangan akademisi dan ahli psikologi.
Koalisi tersebut kemudian mengusulkan beberapa langkah kebijakan agar anak-anak lebih dilindungi dari paparan konten AI. Beberapa rekomendasi meliputi pembatasan distribusi konten AI, transparansi label, serta penguatan kontrol orang tua dalam mengatur konsumsi konten anak.
YouTube merespons dengan menyatakan bahwa mereka telah menerapkan standar ketat untuk konten anak. Platform ini juga mengklaim hanya menampilkan konten AI dari kanal berkualitas tinggi di YouTube Kids, serta menyediakan fitur pemblokiran bagi orang tua. Namun, kritik tetap bermunculan karena sistem algoritma dinilai masih mendorong anak-anak untuk terus mengkonsumsi konten serupa.
Laporan dari The New York Times menemukan ribuan video AI berkualitas rendah yang masih beredar di internet, sebagian di antaranya melanggar kebijakan keselamatan anak. Direktur program Fairplay, Rachel Franz, menilai kondisi ini membuat anak sulit menghindari konten AI. Ia menegaskan bahwa platform digital harus segera bertindak sebelum dampaknya semakin meluas pada generasi muda.
Hingga kini, YouTube masih menjadi platform video paling populer di kalangan anak-anak, terutama di keluarga berpenghasilan rendah. Kondisi ini membuat isu keamanan konten digital semakin mendesak untuk segera ditangani secara serius.







