Iran Menolak Rencana 10 Poin yang Diajukan AS
Iran telah mengumumkan rencana 10 poin yang menyerukan pengakhiran perang secara permanen. Dokumen ini disampaikan melalui Pakistan dan menjadi jawaban resmi terhadap proposal perdamaian 15 poin yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS). Dalam penolakan tersebut, Iran menegaskan bahwa hanya akan menerima pengakhiran konflik yang bersifat menyeluruh dan berkelanjutan.
Dalam dokumen tersebut, Iran menyebut pengalaman masa lalu sebagai alasan utama penolakan terhadap skema gencatan senjata sementara. Selain itu, beberapa tuntutan utama yang diungkapkan dalam rencana 10 poin antara lain:
- Penghentian konflik regional secara permanen.
- Pembentukan jalur aman pelayaran melalui Selat Hormuz.
- Rekonstruksi wilayah yang terdampak perang.
- Pencabutan sanksi internasional.
Menyusul perkembangan terkini di wilayah barat dan tengah Iran, termasuk kegagalan operasi helikopter AS, Iran menyampaikan dokumen tersebut. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali memperpanjang tenggat waktu yang sebelumnya ditetapkan dan menyesuaikan ancaman-ancaman terdahulu.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin, Trump menyebut rencana 10 poin Iran sebagai “langkah signifikan”, namun menilai proposal tersebut “belum cukup baik”. Ia menambahkan bahwa para perantara “sedang bernegosiasi sekarang”.
Trump juga menegaskan bahwa tenggat waktu hari Selasa yang ia tetapkan bersifat final. Menurutnya, hanya presiden AS yang berwenang menentukan apakah gencatan senjata akan diberlakukan.
Ancaman Terhadap Selat Hormuz
Menjelang tenggat waktu tersebut, Trump kembali memperkeras ancamannya terhadap Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia menyatakan memiliki opsi yang “lebih buruk” dibanding ancaman sebelumnya untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Trump mengatakan AS, bukan Iran, seharusnya mengenakan biaya tol terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Ia menyatakan:
“Bagaimana kalau kita mengenakan biaya tol? Saya lebih suka melakukan itu daripada membiarkan mereka (Iran) memilikinya.”
Ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang. “Kita harus mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh saya, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita menginginkan lalu lintas minyak dan segala hal lainnya berjalan bebas,” pungkasnya.
Rincian 15 Poin AS yang Ditolak Iran
Berikut ini 15 poin AS yang ditolak Iran:
- Gencatan senjata awal — jangka waktu tertentu (misalnya 30-45 hari) untuk membuka ruang bagi negosiasi lanjutan.
- Hentikan semua permusuhan dan operasi militer antara AS-sekutunya dan Iran.
- Penghentian program nuklir militer — Iran diminta untuk berhenti memperkaya uranium di dalam negeri.
- Penyerahan atau pengurangan stok uranium yang diperkaya ke pihak internasional (IAEA).
- Pengawasan internasional penuh oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) atas fasilitas nuklir Iran.
- Pembongkaran fasilitas nuklir tertentu (sebagian besar fasilitas sensitif seperti Natanz, Fordow, dll).
- Batasan terhadap program rudal balistik — jumlah dan jangkauan rudal dibatasi.
- Pembatasan industri drone dan senjata strategis lainnya serta konversi ke penggunaan hanya pertahanan.
- Menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata proxy regional (mis. Hezbollah, Houthis, dan lain-lain).
- Jaminan akses bebas dan aman melalui Selat Hormuz untuk pelayaran internasional.
- Pelucutan sanksi ekonomi secara bertahap sebagai imbalan atas pemenuhan poin-poin keamanan.
- Pengembalian aset keuangan Iran yang dibekukan di luar negeri.
- Putusan akhir mencapai perjanjian komprehensif dalam periode waktu tertentu setelah gencatan senjata.
- Jaminan nondiskriminasi terhadap hak energi sipil Iran (misalnya kerjasama nuklir damai/energi).
- Mekanisme penegakan dan jaminan agar konflik tidak kembali berlanjut, melalui perjanjian multilaterik.







