Antusiasme Warga dalam Program Imunisasi di Kota Malang
Ruliana (64), seorang nenek yang tinggal di Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang, merupakan contoh nyata dari kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi. Ia membawa cucunya yang berusia 9 bulan ke Balai RW 3 untuk mendapatkan vaksin campak. Kehadirannya tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar pemerintah daerah dalam mencapai target kekebalan komunitas.
Kesadaran Masyarakat yang Tinggi
Sejak pagi hari, Ruliana sudah tiba di Balai RW 3 dan duduk tenang sambil memangku cucunya. Di sebelahnya, para petugas medis sedang mempersiapkan alat-alat imunisasi seperti jarum suntik dan kapas. Ini adalah momen pertama bagi cucu ketiganya untuk menerima vaksin campak. Ruliana mengungkapkan bahwa ia sangat yakin dengan manfaat imunisasi bagi kesehatan anak. Dua cucunya yang lain telah menerima dua kali imunisasi campak, sehingga ia ingin cucu ketiganya juga mendapatkan perlindungan yang sama.
“Ini demi masa depan cucu saya agar tumbuh sehat,” ujarnya dengan penuh semangat. Ia juga menjelaskan bahwa orang tua cucunya bekerja, sehingga ia yang bertanggung jawab mengantarkan cucunya ke balai RW.
Pengalaman dari Lingkungan Sekitar
Ruliana mengaku memiliki tetangga yang anaknya belum menerima imunisasi. Anak tersebut sempat sakit selama beberapa waktu. Mengetahui hal ini, Ruliana semakin yakin bahwa imunisasi sangat penting. Ia juga menyebutkan bahwa masih ada orang tua yang ragu untuk memberikan vaksinasi kepada anaknya. Namun, ia berharap semua orang tua dapat memahami bahwa imunisasi adalah langkah penting untuk melindungi anak-anak dari penyakit serius.
“Lebih baik melihat anak kita sehat daripada harus melihat mereka sakit,” tambahnya sambil mengelus-elus dada cucunya.
Tantangan dalam Pelaksanaan Program
Di lapangan, Dinas Kesehatan Kota Malang (Dinkes) menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan program Catch-Up Campaign. Salah satu kendala utamanya adalah ketidakhadiran sasaran di lokasi vaksinasi. Hal ini disebabkan oleh faktor transportasi maupun kurangnya izin dari orang tua.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan kunjungan rumah bagi warga yang tidak hadir. Selain itu, ada sebagian orang tua yang masih menolak imunisasi. Oleh karena itu, pendekatan edukatif yang berkelanjutan diperlukan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya vaksinasi.
Target Capaian Imunisasi
Hingga 3 April 2026, tercatat sebanyak 700 anak usia 9 hingga 59 bulan yang telah menerima imunisasi campak penuh. Jumlah ini mencapai 50 persen dari target 1.400 anak pada tahun 2026. Untuk mencapai kekebalan komunitas sebesar 95 persen, Dinkes Kota Malang terus menggencarkan program Catch-Up Campaign.
Program ini ditujukan bagi anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap. Vaksin campak idealnya diberikan dua kali, yakni pada usia 9 bulan dan 18 bulan, untuk memberikan perlindungan optimal. Program ini dilaksanakan di berbagai fasilitas layanan kesehatan, termasuk puskesmas, rumah sakit, klinik, dan posyandu.
Ancaman Penyebaran Campak
Sementara itu, sepanjang tahun 2026 tercatat sebanyak 61 kasus suspek campak di Kota Malang. Kasus-kasus ini masih dalam tahap pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan lanjutan menggunakan metode Whole Genome Sequencing (WGS) dilakukan untuk memperoleh data yang lebih akurat.
Husnul Muarif menegaskan bahwa campak merupakan penyakit menular yang dapat berdampak serius, bahkan berisiko menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat, khususnya orang tua, sangat penting dalam upaya mengejar target imunisasi dan menekan penyebaran campak.







