Warung Makan Sapu Jagad: Menghidupkan Rasa Kuliner Khas Osing dengan Cara Tradisional
Warung Makan Sapu Jagad di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, menawarkan pengalaman kuliner yang unik dan autentik. Berbeda dari kebanyakan warung atau restoran lainnya, warung ini menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak seluruh menu yang disajikan. Hal ini dilakukan agar rasa dan aroma makanan tetap terjaga sesuai dengan cara masak tradisional yang biasa dilakukan oleh warga setempat.
Desa Kemiren sendiri merupakan desa wisata adat Osing, suku asli Banyuwangi yang kaya akan budaya dan tradisi. Budaya tersebut juga mencakup berbagai jenis kuliner khas yang sudah dikenal sejak lama. Dua di antaranya yang paling terkenal adalah pecel pitik dan ayam uyah asem. Warung Makan Sapu Jagad turut menyediakan dua menu tersebut, serta beberapa menu lain yang khas Banyuwangi, baik dalam bentuk makanan berat maupun kudapan.
Proses Memasak yang Berbeda
Pemilik Warung Makan Sapu Jagad, Mohammad Yazid Sofyan (43), menjelaskan bahwa pesan utama dari warung ini adalah ingin menghadirkan kuliner khas yang dibuat sebagaimana warga setempat memasaknya di rumah masing-masing zaman dulu. Dengan menggunakan tungku kayu bakar, proses memasak tidak hanya memberikan rasa yang khas, tetapi juga aroma yang khas.
Namun, memasak dengan kayu bakar tentu lebih rumit dibandingkan dengan kompor berbahan bakar elpiji. Api yang digunakan tidak bisa diatur secara manual dan konsisten, sehingga proses memasak membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk menghindari pelanggan merasa kelaparan, para pemasak di warung ini memiliki trik. Sebelum warung buka, mereka menyiapkan semua menu dalam kondisi setengah jadi. Saat ada pelanggan datang, menu tinggal dimasak tanpa menunggu waktu lama untuk matang.
Bahan Baku Lokal dan Mandiri
Yang menarik, Warung Makan Sapu Jagad menyediakan sebagian besar menu secara mandiri. Pengelola punya peternakan ayam kampung skala kecil untuk menyuplai bahan ayam menu utama. Ayam yang digunakan dipelihara hingga usia 3 bulan hingga 3,5 bulan, saat ayam memiliki berat antara 0,9 kg hingga 1,1 kg. Di usia dan berat itu, ayam tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, sehingga tekstur dagingnya pas untuk dimasak.
Selain itu, kudapan semanggi juga diproduksi sendiri. Daun semanggi ditanam di kebun yang lokasinya berjarak sekitar 200 meter dari tempat makan. Kebun tersebut juga ditumbuhi pohon-pohon yang dahan dan rantingnya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Dengan demikian, warung ini tidak pernah membeli kayu bakar.
Biaya Operasional yang Lebih Hemat
Karena menggunakan bahan baku lokal dan mandiri, biaya operasional untuk memasak di warung ini tergolong minim jika dibandingkan dengan memasak menggunakan kompor elpiji. Bahkan, jika harus membeli kayu bakar, harganya tetap lebih murah daripada menggunakan elpiji nonsubsidi.
Suasana yang Menyatu dengan Budaya
Bukan hanya bahan dan menu saja yang lokal. Pegawai yang memasak di warung tersebut juga warga asli Kemiren. Sebelum bekerja di warung, mereka sudah biasa memasak makanan-makanan yang disediakan warung di dapur rumah masing-masing. Menu dan rasa yang lokal juga diperkuat dengan suasana warung yang terasa ndeso. Mayoritas bangunan warung terdiri dari kayu. Lantainya susunan bata merah yang berlumut di sebagian kecil isi. Ornamen-ornamen di sana juga terlihat lawas.
Untuk pesanan khusus rombongan 50 hingga 100 orang, warung tersebut juga menyediakan suasana makan yang berbeda. Pemesan bisa menikmati suasana di Sanggar Sapu Jagad di belakang warung makan. Tungku dan berbagai perlengkapan di pindah di sana sehingga rombongan bisa menyaksikan langsung proses memasak.







