Kecanduan Gawai pada Anak: Dampak dan Solusi dari RSUD Kota Malang
Kecanduan gawai pada anak-anak kini menjadi isu yang semakin sering muncul di tengah masyarakat. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang, hampir 90 persen pasien anak yang ditangani terkait dengan dampak kecanduan gadget. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini tidak lagi bisa diabaikan.
Beberapa keluhan yang dialami oleh anak-anak akibat kecanduan gawai antara lain kurang fokus, telat bicara, hiperaktif, serta kurangnya aktivitas fisik. Kondisi-kondisi tersebut sering kali menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan di pusat rehabilitasi medik RSUD Kota Malang dalam menangani anak-anak yang mengalami gangguan psikologis dan mental.
Dampak Negatif Kecanduan Gawai
Kecanduan gawai pada anak memiliki pola yang mirip dengan adiksi lainnya. Anak akan merasa gelisah ketika tidak memegang perangkat, bahkan menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RSUD Kota Malang, dr Nunik Eveline Hanoto, Sp KFR, menyatakan bahwa pencegahan menjadi kunci utama agar anak tidak terjebak dalam ketergantungan sejak dini.
Menurutnya, langkah paling mendasar adalah membatasi penggunaan gadget sesuai usia anak. Ia menyarankan agar anak di bawah usia dua tahun tidak terpapar gadget sama sekali. Untuk usia dua sampai lima tahun, maksimal satu jam per hari, dan itu pun harus konten yang sesuai. Meskipun tidak mungkin untuk sepenuhnya menghindari penggunaan gadget di zaman modern, ia menekankan pentingnya pengawasan orang tua.
Kesalahan Umum Orang Tua
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua memberikan gadget hanya untuk menenangkan anak, misalnya saat makan atau ketika rewel. Padahal, kebiasaan tersebut justru menjadi awal dari ketergantungan. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental anak, terutama saat berada di usia emas (golden age) 0-5 tahun.
dr Nunik juga menegaskan bahwa terapi di rumah sakit hanya berlangsung singkat. Rata-rata sekitar 20 menit per sesi. Jadi, latihan di rumah menjadi faktor penentu utama dalam proses pemulihan. Peran keluarga sangat besar dalam membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi.
Pendekatan Terapi di RSUD Kota Malang
Di RSUD Kota Malang, penanganan anak dengan kecanduan gadget umumnya dilakukan melalui dua pendekatan, yakni terapi wicara dan terapi okupasi. Terapi wicara difokuskan untuk melatih kemampuan komunikasi anak, sedangkan terapi okupasi membantu meningkatkan konsentrasi serta mengelola perilaku.
Namun, dr Nunik menekankan bahwa terapi di rumah sakit hanya berlangsung singkat. Rata-rata sekitar 20 menit per sesi. Jadi, latihan di rumah menjadi faktor penentu utama dalam proses pemulihan. Peran keluarga sangat besar dalam membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi.
Pentingnya Interaksi Sosial
Salah satu dampak terbesar dari penggunaan gadget berlebihan adalah berkurangnya interaksi sosial anak. Anak menjadi lebih fokus pada layar dibanding berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Akibatnya, anak berisiko mengalami keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hingga kesulitan bersosialisasi.
Ia menyarankan agar anak lebih banyak diajak bermain secara aktif, termasuk aktivitas fisik yang merangsang perkembangan motorik dan sosial. Gadget tidak boleh menggantikan aktivitas sehari-hari, seperti bermain, berbicara, dan berinteraksi langsung. Harus tetap ada peran orang tua, dan orang-orang di sekitarnya yang harus mengajak mereka untuk berinteraksi.
Konsistensi dalam Pencegahan
Dalam praktiknya, pencegahan kecanduan gadget tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga membutuhkan konsistensi seluruh anggota keluarga. dr Nunik menyoroti pola asuh dalam keluarga besar yang seringkali tidak sejalan. Ketika orang tua melarang, anggota keluarga lain justru memberikan gadget.
Harus satu suara. Kalau tidak konsisten, anak jadi bingung dan akhirnya tetap ketergantungan. Selain membatasi durasi, orang tua juga perlu mendampingi anak saat menggunakan gadget. Hal ini penting agar anak tetap mendapatkan stimulasi interaksi.
Kesimpulan
dr Nunik menegaskan bahwa pencegahan kecanduan gadget tidak bisa instan. Dibutuhkan kesadaran dan edukasi yang berkelanjutan dari orang tua. Yang paling penting, jangan sampai gadget jadi “pengasuh utama”. Anak tetap butuh interaksi nyata untuk tumbuh kembangnya.






