Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    3 Berita Terpopuler Sumbar: Waspadai Kenaikan Harga, Kloter 1 Haji Sumbar, dan Pria Tipu Teman dengan Motor

    22 April 2026

    Lux Grooming House Kediri, Potong Rambut dengan Sensasi Relaksasi

    22 April 2026

    Pahami Pelunasan, Angsuran, dan Perpanjangan Gadai

    22 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 22 April 2026
    Trending
    • 3 Berita Terpopuler Sumbar: Waspadai Kenaikan Harga, Kloter 1 Haji Sumbar, dan Pria Tipu Teman dengan Motor
    • Lux Grooming House Kediri, Potong Rambut dengan Sensasi Relaksasi
    • Pahami Pelunasan, Angsuran, dan Perpanjangan Gadai
    • Standar Limbah Sawit 100 mg/L Dianggap Tidak Ramah Tanah
    • Kumpulan Sholawat Hadroh 2026, Bangkitkan Cinta pada Nabi Muhammad SAW
    • Masyarakat Siap Menghadapi Biaya Kesehatan Kapan Pun
    • 20 Resep Peningkat ASI yang Efektif, Coba Sekarang!
    • Kapan Waktu Tepat Beli Emas? 7 Tips Cerdas untuk Investasi Menguntungkan!
    • Jadwal Haji 2026: Jambi Berangkat 5 Mei
    • Perempuan Tangguh Seperti Kartini dalam Film-Film
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Politik»Ketua Harian PSI Sebut Pernyataan Jusuf Kalla Emosional, Uceng: Pak JK Sering Lindungi Jokowi

    Ketua Harian PSI Sebut Pernyataan Jusuf Kalla Emosional, Uceng: Pak JK Sering Lindungi Jokowi

    adm_imradm_imr22 April 20267 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Peran Jusuf Kalla dalam Karier Politik Joko Widodo

    Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mengenai perannya dalam membawa Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden RI kembali menjadi sorotan. Dalam pernyataannya, JK menyebut dirinya sebagai sosok yang berperan penting dalam proses pengangkatan Jokowi sebagai Presiden. Pernyataan ini menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, termasuk dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

    Penilaian PSI terhadap Pernyataan JK

    Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, menilai bahwa pernyataan JK terlalu emosional. Menurutnya, kemenangan Pilpres 2014 bukan hanya hasil kerja satu pihak, melainkan kolaborasi antara pasangan calon, tim sukses, dan partai politik. Ia menegaskan bahwa Jokowi dan JK maju sebagai pasangan yang bekerja secara kolektif.

    Selain itu, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, juga menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, terpilihnya Jokowi sebagai Presiden adalah hasil perjuangan banyak elemen masyarakat. Ia menekankan bahwa Jokowi dipilih oleh rakyat dan komponen lain yang mendukungnya.

    Penjelasan Jubir Jusuf Kalla

    Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah (dikenal dengan panggilan Uceng), memberikan penjelasan terkait pernyataan JK yang sempat menjadi perdebatan. Menurut Uceng, nada bicara JK tidak merupakan luapan emosi, tetapi upaya untuk menjelaskan fakta sejarah yang selama ini tidak dibahas secara terbuka.

    Uceng menjelaskan bahwa langkah politik JK menjadi kunci dalam pembukaan jalan bagi karier nasional Jokowi. Ia mengungkapkan bagaimana JK secara aktif meyakinkan Megawati Soekarnoputri agar mencalonkan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012 silam. Tanpa peran mediasi dan dorongan dari JK di fase krusial tersebut, kemungkinan besar jalur politik Jokowi akan berbeda.

    Peran JK dalam Pilpres 2014

    Masuknya Pilpres 2014, peran JK kembali menjadi penting dalam koalisi. Uceng memaparkan bahwa Megawati sempat bersikeras tidak akan menandatangani pencalonan Jokowi sebagai presiden jika wakilnya bukan Jusuf Kalla. Saat itu, Jokowi dianggap memiliki elektabilitas tinggi namun masih minim pengalaman di tingkat nasional.

    “Posisi JK sebagai pendamping bukan atas permintaan pribadi JK, melainkan permintaan langsung dari Megawati untuk menjaga stabilitas dan melengkapi kepemimpinan Jokowi,” ujarnya.

    Pernyataan Jusuf Kalla

    Dalam sebuah keterangan pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Jusuf Kalla mengingatkan kembali peran vitalnya dalam meyakinkan Megawati untuk membawa dan mengusung Jokowi ke Jakarta sebagai Calon Gubernur DKI pada tahun 2012. Keberhasilan di ibu kota itulah yang menurut JK menjadi batu loncatan Jokowi hingga melenggang ke kursi kepresidenan.

    Bahkan saat Pilpres 2014, JK menyebut posisinya sebagai cawapres adalah permintaan langsung dari Megawati untuk mendampingi Jokowi. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas berbagai fitnah yang menyerangnya, termasuk tudingan tak berdasar mengenai pendanaan isu ijazah yang kerap digunakan untuk memojokkan dirinya dan pemerintah.

    Siapa yang Berutang Budi?

    Menanggapi narasi mengenai siapa yang sebenarnya berhutang budi, Husain Abdullah menegaskan bahwa JK praktis tidak memiliki beban hutang budi kepada Jokowi; justru sebaliknya. Uceng mengungkapkan bahwa sejarah mencatat kontribusi besar JK dalam setiap fase transisi kepemimpinan Jokowi.

    Sepanjang lima tahun mendampingi Jokowi di periode pertama, JK dikenal sebagai sosok yang konsisten “pasang badan” dalam berbagai momen krusial pemerintahan. Peran Pak JK tidak hanya sebagai ban serep, tetapi sebagai pilar stabilitas yang memastikan roda pemerintahan tetap berjalan efektif menghadapi berbagai dinamika politik di DPR maupun isu nasional lainnya.

    Penjelasan Terkait Pernyataan Emosional

    Uceng juga menepis anggapan Ahmad Ali yang menyebut pernyataan JK bersifat emosional. Menurutnya, apa yang disampaikan JK adalah kejujuran sejarah yang harus diketahui publik agar tidak terjadi distorsi informasi. Penjelasan ini bukan bertujuan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk meluruskan kedudukan masing-masing tokoh dalam sejarah kepemimpinan Indonesia.


    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Catatan dan Saran KPK untuk Program MBG

    By adm_imr22 April 20261 Views

    7 Contoh Pidato Hari Kartini 2026 dengan Topik Menarik dan Mudah Diingat

    By adm_imr22 April 20265 Views

    Akademisi dan Mahasiswa Apresiasi Pemerintah Wujudkan Swasembada Pangan

    By adm_imr22 April 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    3 Berita Terpopuler Sumbar: Waspadai Kenaikan Harga, Kloter 1 Haji Sumbar, dan Pria Tipu Teman dengan Motor

    22 April 2026

    Lux Grooming House Kediri, Potong Rambut dengan Sensasi Relaksasi

    22 April 2026

    Pahami Pelunasan, Angsuran, dan Perpanjangan Gadai

    22 April 2026

    Standar Limbah Sawit 100 mg/L Dianggap Tidak Ramah Tanah

    22 April 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Karcis Masuk Pantai Pasir Panjang Disorot, Transparansi Retribusi Dipertanyakan

    7 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?