Kenaikan Harga Daging Sapi di Pasar Besar Malang
Harga daging sapi di Pasar Besar Malang mengalami kenaikan menjelang hari besar keagamaan. Meski demikian, para pedagang menyebutkan bahwa kondisi ini merupakan siklus tahunan yang sudah biasa terjadi. Salah satu pedagang daging, M Yusuf, mengungkapkan bahwa kenaikan harga daging telah mulai terasa sejak sebelum Lebaran.
Harga daging sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram. “Memang sudah siklus tahunan. Sebelum Lebaran itu biasanya naik, dari Rp120 ribu, lalu Rp130 ribu, sampai sekarang sempat Rp140 ribu per kilogram,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Menurut Yusuf, kenaikan harga tersebut biasanya disertai dengan imbauan dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) terkait penyesuaian harga daging di tingkat pedagang. Namun, saat ini belum ada keterangan resmi.
Meskipun harga naik, kondisi penjualan di Pasar Besar Malang justru tidak terlalu menggeliat. Yusuf mengaku bahwa sebagian besar penjualannya berasal dari pelanggan tetap, bukan pembeli yang datang langsung ke pasar. “Di Pasar Besar ini agak sulit kalau mengandalkan pembeli yang datang. Sekitar 80 persen penjualan dari pelanggan, hanya 20 persen dari pengunjung,” katanya.
Pelanggan tetap tersebut mayoritas merupakan pelaku usaha kuliner seperti penjual bakso dan tahu campur yang membutuhkan pasokan daging secara rutin. “Kalau menunggu orang datang itu tidak bisa. Kami lebih banyak menyalurkan ke pelanggan tetap,” jelasnya.
Namun demikian, Yusuf memprediksi bahwa harga daging kemungkinan kembali mengalami penurunan dalam waktu dekat. Tepatnya seiring mendekatinya Hari Raya Iduladha, ketika pasokan daging dari hewan kurban meningkat. “Mungkin nanti turun lagi, karena menjelang Idul Adha banyak yang menyembelih hewan kurban. Meski kecenderungannya, kalau sudah naik, harga naik terus,” ujarnya.
Pedagang yang telah berjualan lebih dari 20 tahun ini menilai bahwa fluktuasi harga daging merupakan hal yang lumrah dan sudah menjadi bagian dari dinamika perdagangan setiap tahun.
Penyebab Kenaikan Harga
Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Indra Permana, menegaskan bahwa kenaikan harga daging sapi yang terjadi saat ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa langkah nyata dari pemerintah. Berdasarkan pemantauan di lapangan, penurunan ketersediaan sapi hidup di pasaran menjadi penyebab utama kenaikan harga.
Sementara permintaan tetap tinggi, kondisi ini membuat harga terus naik dan menekan pelaku usaha. Situasi ini sudah berdampak langsung pada pelaku usaha dari hulu hingga hilir. Jagal kesulitan mendapatkan pasokan, pedagang menghadapi ketidakpastian harga, dan pelaku usaha kuliner mulai dari bakso, restoran, hingga kafe terancam oleh meningkatnya biaya produksi.
“Kalau kondisi ini dibiarkan, maka bukan hanya pelaku usaha yang terdampak, tapi stabilitas ekonomi daerah juga bisa terganggu,” tuturnya. Ia menilai bahwa pemerintah tidak boleh terlambat dalam merespons situasi ini.
Diperlukan langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi untuk menjaga pasokan serta menstabilkan harga di lapangan. “Ini bukan lagi sekadar persoalan pasar, tapi sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk hadir dan melindungi pelaku usaha serta masyarakat.”
Sebagai kota dengan kekuatan sektor kuliner, Kota Malang membutuhkan kepastian pasokan bahan baku agar roda ekonomi tetap berjalan dengan baik. “Kita tidak boleh membiarkan pelaku usaha berjalan sendiri. Negara harus hadir, menjaga dari hulu sampai hilir, karena di situlah denyut ekonomi rakyat berada,” tegasnya.







