Perayaan Hari Kartini di Tempayan Indonesian Bistro
Semangat Hari Kartini masih terasa di Tempayan Indonesian Bistro, Kota Bandung, Jawa Barat. Restoran yang dikenal dengan kekayaan kuliner Nusantara ini menghadirkan perayaan yang berbeda, yaitu dengan memadukan budaya, pemberdayaan perempuan, dan dukungan terhadap pelaku UMKM lokal melalui kolaborasi dengan Batik Kina.
Marcom Manager Justus Group, Fariz Pinuji, menjelaskan bahwa momentum ini sengaja dihadirkan untuk mengingatkan kembali pelanggan terhadap akar budaya Indonesia. “Tempayan memang spesialis restoran Indonesia, kami ingin ikut merayakan budaya Indonesia. Kami ingin customer tidak lupa dengan tradisi dan sejarah,” ujar Fariz saat ditemui di Tempayan Bistro, Jalan Citarum, Kota Bandung, Sabtu (24/4/2026).
Tak hanya menyajikan kuliner, Tempayan juga menggandeng UMKM batik lokal, Batik Kina, sebagai bagian dari upaya memperluas eksposur produk budaya. Menurut Fariz Pinuji, kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama bisnis, melainkan bentuk saling dukung antarpelaku kreatif. “Kita punya tempat dan traffic yang cukup besar, kenapa tidak kita manfaatkan untuk membantu memperkenalkan batik kepada pelanggan Tempayan?” katanya.
Dalam acara tersebut, konsep fashion show pun dibuat berbeda. Alih-alih menggunakan model profesional, Tempayan Bistro menghadirkan tiga perempuan inspiratif dari latar belakang berbeda. Mereka dipilih karena dinilai merepresentasikan perempuan masa kini yang berani, tangguh, dan tetap mengejar mimpi.
Salah satunya adalah Juliana, seorang terapis muda yang dengan percaya diri membagikan profesinya di media sosial. Di tengah stigma yang masih melekat pada pekerjaan tertentu, Juliana justru menunjukkan bahwa passion tak perlu disembunyikan.
Selain itu, hadir pula Nina, perempuan yang sempat viral karena mengalami diskriminasi saat bekerja sebagai pengemudi. Pengalaman ditolak pelanggan tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja dan membuktikan kemampuan diri. Sosok lainnya adalah Dinda, perempuan yang bangkit dari masa lalu sulit dan kini menjadi pekerja keras meski telah berkeluarga. Ketiganya menjadi representasi bahwa perempuan tidak harus terkungkung dalam peran domestik semata.
“Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak harus diam di rumah. Mereka bisa berkarya, mandiri, dan tetap mengejar mimpi,” tambah Fariz.
Sementara itu Founder Batik Kina, Rakha Wahyu, menjelaskan bahwa karya yang ditampilkan bukan sekadar motif, melainkan refleksi dari sejarah panjang tanaman kina di Jawa Barat. Menurutnya, konsep Batik Kina lahir dari keprihatinan terhadap semakin langkanya pohon kina, yang dulunya menjadi komoditas penting sejak era kolonial. Ia menyebut karyanya sebagai “heritage commodity” atau komoditas warisan sejarah.
“Kina ini bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari sejarah. Dulu menjadi komoditas penting, sekarang mulai hilang. Maka kami abadikan melalui motif batik, dari akar, batang, sampai daun,” kata Rakha.
Proses pengembangan Batik Kina dimulai sejak 2018, dengan riset mendalam di kawasan Gambung, Kabupaten Bandung, yang dahulu menjadi pusat budidaya kina. Setelah melalui perjalanan panjang, motif ini resmi diakui sebagai salah satu kekayaan batik khas Jawa Barat pada 2021.
Secara filosofi, Rakha menyebut Batik Kina mengangkat nilai-nilai ketangguhan, kekuatan, kekokohan, dan sifat menaungi, merepresentasikan karakter pohon kina yang rindang sekaligus kuat bertahan dalam berbagai kondisi.
“Batik Kina juga telah menembus pasar internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, karya ini dipamerkan di berbagai negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara hingga Eropa dan Timur Tengah,” kata dia.
Meski demikian, Rakha menegaskan bahwa fokus utamanya tetap pada pelestarian nilai budaya dan sejarah, bukan sekadar ekspansi pasar. Upaya penanaman kembali pohon kina pun mulai digalakkan, sebagai bentuk menjaga keberlanjutan warisan tersebut.







