Penjelasan Awal Mula Keterlibatan Anggota TNI dalam Kasus Pembunuhan
Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, terungkap awal mula keterlibatan tiga anggota TNI dalam kasus pembunuhan Kacab Bank BUMN Mohamad Ilham Pradipta. Ketiga anggota tersebut adalah Serka Mochamad Nasir, Kopda Feri Herianto, dan Serka Frengky Yaru. Mereka dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan yang beragendakan pemeriksaan saksi.
Saksi utama dalam sidang ini adalah Yohanes Joko Pamungtas, yang memberikan keterangan tentang bagaimana dirinya diperintahkan oleh terdakwa Dwi Hartono. Menurut Yohanes, peristiwa dimulai saat Dwi Hartono berencana untuk menggeser dana dari rekening dorman atau rekening tak aktif. Untuk mencapai tujuannya, Dwi meminta bantuan kepada Yohanes dengan mencari preman atau anggota TNI yang bisa memberikan tekanan terhadap korban.
Yohanes menirukan ucapan Dwi Hartono dalam persidangan: “Ada kenalan preman nggak.” Ia mengatakan bahwa Dwi sudah lama mengenalnya, terutama karena Dwi sering meminta bantuan soal urusan preman akibat pekerjaannya di parkiran. Yohanes juga menyebutkan bahwa Dwi pernah bertanya tentang kenalan preman sejak masa kuliah.
Awalnya, Yohanes tidak tahu tujuan Dwi mencari preman. Namun, setelah mendapat permintaan tersebut, ia mengingat tetangganya, Serka Mochamad Nasir. Ia kemudian merekomendasikan Nasir kepada Dwi. Setelah berbincang, Dwi meminta Yohanes untuk mempertemukan dirinya dengan Nasir.
Dalam pertemuan tersebut, Yohanes menirukan kata-kata Nasir: “Itu temanmu, bagaimana mintanya?” Setelah itu, Yohanes mempertemukan Dwi dengan Nasir di sebuah kafe di Kota Cibubur, Jakarta Timur. Dari situ, Dwi menjelaskan tugas-tugas yang harus dilakukan Nasir. Saat itu, Dwi hanya meminta agar korban dipertemukan dengan tim penjemput. Dari sana, dua anggota Kopassus lainnya, yaitu Kopda Feri Herianto dan Serka Frengky Yaru, ikut terlibat.
Alasan Pemilihan Aparat dalam Kasus Ini
Menurut saksi Antonius Aditia Maharjuna, alasan pemilihan aparat adalah untuk lebih meyakinkan korban. Ia menjelaskan bahwa Dwi meminta agar korban tidak disentuh atau lecet. “Kalau sipil ketemu sipil, bahasanya lebih sulit dipercaya dibanding ketemu aparat,” ujar dia.
Selain itu, dalam sidang, saksi Yohanes Joko bersama Serka Mochamad Nasir memperagakan detik-detik mereka membuang jenazah korban di wilayah Bekasi. Saksi lainnya, David Setia Darmawan, yang merupakan teman Joko, turut menyaksikan bagaimana korban dimasukkan ke mobil. David mengaku sempat bergantian menjadi sopir dengan Joko. Ia juga menyebut bahwa sebelum dibuang, korban dililit handuk pada bagian leher oleh Nasir.
Dalam adegan yang diperagakan, Joko membantu Serka Nasir mengeluarkan tubuh korban dari mobil. Ia juga menjelaskan bahwa korban terikat di bagian tangan depan dan kaki saat dibuang. Joko merasa tubuh korban masih hangat meskipun tidak ada tanda perlawanan.
Serka Nasir juga memperagakan arah di mana ia membuang tubuh korban. “Ke parit,” katanya di persidangan. Selain Joko dan Nasir, David juga hadir dalam adegan tersebut. Ia sempat bergantian sebagai sopir dengan Joko sebelum tubuh Ilham dibuang di kawasan Bekasi.
Daftar Terdakwa dalam Kasus Ini
Tiga prajurit TNI, yaitu Serka Mochamad Nasir, Kopda Feri Herianto, dan Serka Frengky Yaru, didakwa melakukan pembunuhan berencana. Dalam kasus ini, terdapat 18 tersangka, 15 di antaranya berasal dari kalangan sipil dan 3 dari TNI.
Para tersangka sipil meliputi Candy alias Ken (41), Dwi Hartono (40), AAM alias A (38), JP (40), Erasmus Wawo (27), REH (23), JRS (35), AT (29), EWB (43), MU (44), DSD (44), Wiranto (38), Eka Wahyu (20), Rohmat Sukur (40), dan AS (25). Mereka diadili di pengadilan sipil.
Sementara itu, tiga terdakwa dari TNI diadili di Pengadilan Militer. Mereka didakwa terlibat dalam dugaan penculikan hingga pembunuhan berencana terhadap Mohamad Ilham Pradipta.







