Kehidupan yang Seimbang dan Budaya Kolaborasi
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin mengungkapkan bahwa kebanyakan orang tidak termasuk dalam kategori jenius atau bloon. Ia menyebut mereka sebagai “yang di tengah”. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa keinginan masyarakat untuk selalu menang, unggul, dan menjadi yang terbaik seringkali menciptakan pola pikir yang tidak sehat. Seolah-olah, jika seseorang tidak menjadi juara, maka dia dianggap tidak bernilai. Bahkan, anak-anak yang tidak masuk peringkat atas seringkali dianggap tidak layak disayangi.
Pola pikir ini juga memengaruhi cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Kita cenderung egois, hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, keluarga, dan lingkaran dekat. Tidak jarang, kita mengabaikan orang lain yang tidak memiliki kelebihan seperti kita. Hal ini menciptakan ketimpangan dalam masyarakat.
Budaya Kompetisi dalam Dunia Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, kita terbiasa dengan budaya kompetisi daripada kolaborasi. Meskipun saat ini rapor siswa tidak lagi menyebutkan ranking, orang tua tetap ingin tahu posisi anaknya. Guru kadang-kadang mengumumkan peringkat satu hingga sepuluh, sehingga membuat anak-anak yang tidak masuk dalam peringkat tersebut merasa tertinggal.
Budaya kompetisi ini tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga antar lembaga pendidikan. Setiap sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dan pesantren berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Akibatnya, kesenjangan antar lembaga pendidikan semakin besar. Masyarakat terjebak dalam persaingan untuk masuk sekolah unggulan.
Contoh dari Belanda: Pendekatan yang Berbeda
Saat kami tinggal di Belanda, pengalaman pendidikan anak kami berbeda. Saat rapor dibagikan, orang tua tidak dipanggil bersama. Justru, setiap orang tua diminta membuat janji bertemu guru secara individual. Waktu pertemuan hanya 5-10 menit. Guru memberikan penilaian secara pribadi, tanpa ada orang lain yang mendengar. Hal ini menciptakan suasana yang lebih tenang dan tidak saling bersaing.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak merasa bersaing. Yang ditanamkan adalah saling membantu dan menolong. Anak yang lebih cerdas bisa membantu yang kurang pandai. Anak baru dibimbing oleh temannya yang sudah lama masuk. Kolaborasi jauh lebih diutamakan daripada kompetisi.
Kelebihan yang Harus Diwujudkan sebagai Tanggung Jawab
Anak yang memiliki kelebihan, baik kecerdasan, keterampilan, maupun kekuatan fisik, harus dihargai. Namun, kelebihan itu bukanlah hak istimewa. Sebaliknya, itu adalah tanggung jawab. Orang yang lebih cerdas, lebih terampil, atau lebih kuat memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih besar terhadap sesama manusia.
Cara berpikir ini juga berlaku dalam bidang ekonomi. Pasar bebas memang perlu untuk mendorong persaingan yang sehat. Namun, kebebasan ini hanya layak dilakukan oleh mereka yang setara dan mampu bersaing. Mereka yang lemah tetap harus dilindungi. Inilah fungsi negara, seperti memberikan subsidi kebutuhan pokok, beasiswa, dan perumahan murah.
Politik dan Tanggung Jawab Seorang Pemimpin
Dalam politik, logika menang-kalah seringkali menjadi dasar. Namun, setiap calon pemimpin harus ingat bahwa kelebihan yang dimilikinya adalah tanggung jawab dan kewajiban terhadap sesama, bukan hak istimewa.
Sayangnya, dalam kenyataan seringkali tidak demikian. Banyak pemimpin yang hanya ingin menang dengan segala cara. Mereka tidak sadar bahwa kelebihan yang dimiliki adalah tanggung jawab, bukan keistimewaan.
Elit yang Altruis
Seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan untuk orang banyak. Jika dia egois, keputusan hanya akan menguntungkan dirinya sendiri. Untuk bisa mengutamakan kepentingan umum, seorang pemimpin harus merasa cukup dengan apa yang diraihnya sendiri dan keluarganya. Dia bukan manusia serakah. Dia menjadi pemimpin semata-mata ingin mengabdi kepada orang banyak.
Kita merindukan elit yang altruis, bukan yang egois, yang mengutamakan orang banyak, bukan diri sendiri.






