PR JATENG – Momen pengukuhan Prof. Dr. Mimi Mulyani, M.Hum sebagai guru besar di Universitas Tidar (Untidar) Magelang, Senin, 4 Mei 2026, tak hanya berlangsung khidmat. Ada sentuhan santai yang langsung mencuri perhatian: pantun dari Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si.
Di hadapan hadirin dan tamu undangan di GKU dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, ia membuka sambutan dengan pantun yang spontan dibuatnya.
“Mini market di tengah area pertokohan,
Jual kompor harganya obralan,
Mimi muda katanya kepoan,
Setelah profesor, semoga menjadi sabaran.”
Pantun tersebut langsung disambut tawa hadirin. Namun di balik candaan itu, terselip pesan serius: menjadi profesor bukan sekadar capaian akademik, tapi juga tentang kedewasaan sikap.
Pesan Rektor: Profesor Harus Jadi Teladan
Rektor menegaskan, gelar profesor membawa tanggung jawab moral yang besar. Ia berharap Prof. Dr. Mimi Mulyani bisa menjadi contoh dan penggerak di lingkungan akademik.
“Dengan posisi sebagai profesor, saya harap semakin menunduk dan memberikan yang terbaik bagi diri, keluarga, dan institusi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali filosofi pendidikan nasional:
- Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan)
- Ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat)
- Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)
Menurutnya, profesor tidak hanya mengajar, tapi juga harus memotivasi dosen lain agar berkembang hingga mencapai jenjang serupa.
Target: 4 Profesor dalam Setahun
Selain pesan personal, Rektor juga menyampaikan target besar untuk kampus.
Ia mengungkapkan bahwa dalam periode sebelumnya, Untidar hanya mampu melahirkan satu profesor dalam empat tahun. Saat ini, jumlahnya baru bertambah dengan dikukuhkannya Prof Mimi. Namun ke depan, targetnya jauh lebih agresif.
“Mulai tahun depan harus empat profesor dalam satu tahun,” tegasnya, yang langsung diamini seluruh hadirin.
Target ini menjadi bagian dari dorongan untuk mempercepat peningkatan kualitas akademik kampus.
Fokus Prof Mimi: Literasi Berbasis Budaya dan Spiritualitas
Dalam pidato ilmiahnya, Prof Mimi mengangkat tema revitalisasi budaya literasi melalui pembelajaran menulis berbasis kearifan lokal dan nilai spiritualitas.
Rektor menilai gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Ia bahkan mengaitkan konsep tersebut dengan nilai religius dan budaya lokal, termasuk filosofi membaca (iqra), menulis, serta pentingnya integritas spiritual.
“Jangan merasa paling baik, jangan kebablasan meniru yang tidak sesuai budaya kita,” pesannya.
4 Pesan Kunci Rektor untuk Prof Mimi
Dalam sambutannya, ada empat poin penting yang ditekankan Rektor:
- Tetap rendah hati setelah meraih gelar profesor
- Menjadi teladan bagi lingkungan akademik
- Mendorong kolega untuk ikut berkembang
- Menguatkan budaya lokal dalam pendidikan
Ia juga menyoroti pentingnya nilai-nilai Jawa seperti tata krama, unggah-ungguh, hingga etika sosial sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Guru Besar ke-10 Untidar
Secara institusi, pengukuhan ini juga menambah deretan profesor di Untidar.
Prof Mimi tercatat sebagai:
- Guru besar ke-5 dari kalangan internal asli Untidar
- Guru besar ke-10 secara keseluruhan di kampus tersebut
Momentum ini sekaligus menandai dorongan baru bagi Untidar untuk mempercepat lahirnya profesor-profesor berikutnya.
Pantun Rektor yang sempat mengundang tawa itu justru menjadi pesan yang mengena: sederhana, tapi penuh makna. Bahwa di balik gelar tinggi, ada tuntutan untuk tetap sabar, rendah hati, dan memberi dampak nyata.***







