Perang Iran vs Amerika Memasuki Hari ke-66
Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki hari ke-66, dengan fokus kembali pada ancaman terhadap pasukan Donald Trump. Kekuatan militer AS telah mengumumkan misi angkatan laut baru yang diberi nama Proyek Kebebasan, yang bertujuan untuk membantu kapal-kapal yang terjebak akibat blokade de facto Iran di Selat Hormuz.
Proyek Kebebasan akan dimulai pada hari Senin, dengan tujuan memastikan kelancaran navigasi di jalur vital energi global tersebut. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi ini akan membantu membebaskan kapal-kapal yang terdampar, meskipun tidak merinci teknisnya secara rinci.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Setiap gangguan di jalur ini berdampak besar pada pasar global. Namun, harga minyak dunia tidak langsung turun setelah pengumuman tersebut, dengan patokan Brent tercatat relatif stabil.
Militer Iran merespons keras rencana AS tersebut, dengan memperingatkan akan menyerang setiap pasukan asing yang memasuki wilayah selat. Pernyataan militer Iran menyatakan bahwa setiap pasukan bersenjata asing, terutama Angkatan Darat AS yang agresif, akan diserang jika mereka mencoba mendekati dan memasuki Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga menyebut tindakan AS sebagai langkah sepihak yang melanggar hukum internasional. Sementara itu, Iran mengonfirmasi telah menerima tanggapan dari AS atas proposal perdamaian terbaru, meski sebelumnya Trump menilai usulan tersebut “tidak dapat diterima”.
Di sisi lain, Washington terus menunjukkan komitmen militernya di kawasan. Trump menyebut, banyak kapal dan awaknya kini “terkurung” di Selat Hormuz dan mulai kehabisan logistik akibat konflik berkepanjangan. Reuters melaporkan, AS juga telah mengevakuasi 22 awak kapal Iran ke Pakistan sebagai bagian dari langkah yang disebut “membangun kepercayaan”.
Upaya diplomasi masih terus berlangsung, termasuk komunikasi antara Pakistan dan Iran terkait stabilitas kawasan. Al Jazeera melaporkan, Pakistan berupaya memediasi konflik untuk mendorong terciptanya perdamaian di kawasan. Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan negara-negara Eropa mulai meningkatkan dukungan terhadap AS setelah mendapat tekanan dari Washington.
Di sisi lain, Australia dan Jepang sepakat memperkuat kerja sama energi sebagai respons terhadap terganggunya perdagangan global akibat konflik. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut, tingkat ancaman keamanan di Selat Hormuz tetap berada pada level kritis. Situasi ini diperparah dengan berlanjutnya operasi militer serta ketidakpastian diplomatik antara kedua pihak.
Konflik Meluas ke Lebanon
Ketegangan juga meluas ke Lebanon selatan, di mana serangan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah wilayah seperti Qana, Srifa, dan Braachit. Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, serangan tersebut terjadi setelah militer Israel memerintahkan evakuasi warga dari daerah terdampak.
Kronologi Penting di Selat Hormuz
Mengutip Al Jazeera, berikut kronologi penting terkait situasi di Selat Hormuz:
- 4 Maret 2026 – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah mengambil kendali penuh atas Selat Hormuz. IRGC menyatakan bahwa jalur air tersebut terbuka bagi dunia, tetapi tertutup bagi musuh-musuh Iran. Iran juga memberlakukan “gerbang tol” yang mengharuskan kapal memperoleh izin dan dalam beberapa kasus, membayar sejumlah biaya dalam yuan China.
- 8 April – AS dan Iran menyepakati gencatan senjata. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut dengan alasan serangan Israel yang berlanjut terhadap Lebanon.
- 13 April – Setelah pembicaraan damai di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan, AS memberlakukan blokade, menargetkan kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran. Sejak saat itu, militer AS menyatakan telah mengalihkan setidaknya 49 kapal komersial yang terkait dengan Iran di Teluk Oman serta menangkap sedikitnya dua kapal tanker minyak terkait Iran di Samudra Hindia. Iran juga menyatakan Selat Hormuz tertutup bagi semua kapal dan telah menangkap dua kapal komersial asing.
- 2 Mei – Trump mengumumkan peluncuran Proyek Freedom untuk mengawal kapal yang terdampak di Selat Hormuz. Iran menyatakan operasi tersebut merupakan pelanggaran gencatan senjata.







