Kehidupan Ratidjo yang Berawal dari Cinta pada Jamur
Ratidjo Hardjo Suwarno, seorang pria berusia 82 tahun, telah menghabiskan lebih dari 50 tahun dalam dunia jamur. Sejak tahun 1968, ia memulai perjalanan panjangnya dengan menekuni budidaya jamur, meskipun saat itu tidak banyak orang yang percaya pada potensi bisnis ini. Dari satu meja di pinggir jalan hingga menjadi ikon kuliner Yogyakarta, Jejamuran kini dikenal sebagai rumah makan spesialis olahan jamur yang populer.
Perjalanan Ratidjo tidak mudah. Pada awalnya, ia tidak mendapatkan dukungan dari bank karena bisnis agro dinilai terlalu berisiko. Meski sempat memiliki pengalaman sebagai pimpinan perusahaan dan kenal dengan beberapa pegawai bank, tidak ada yang berani memberikan pinjaman kepadanya. Namun, dengan semangat dan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk membangun usaha sendiri.
Dengan lahan seluas 131 meter persegi dan modal yang berasal dari pinjaman sana-sini, Ratidjo membangun Jejamuran. Awalnya, semua peralatan seperti meja dan kursi dibeli bekas, bahkan beberapa di antaranya dipinjam dari komunitas RW. Ketika Jejamuran mulai berkembang, Ratidjo akhirnya mendapatkan kepercayaan dari BRI dan memperoleh pinjaman sebesar Rp200 juta untuk memperluas usahanya.
Cinta pada Jamur Sejak Tahun 1968
Ratidjo mengaku bahwa cintanya pada jamur sudah dimulai sejak tahun 1968. Saat itu, ia belajar dari ahli jamur asal Taiwan ketika jamur belum populer di Indonesia. Pengalaman ini membawanya terlibat dalam industri jamur skala besar, namun ia memilih kembali ke Yogyakarta dan membangun usaha sendiri dari nol.
Menurut Ratidjo, kunci sukses dalam berbisnis jamur adalah mencintai dengan sepenuh hati. Ia menyatakan bahwa meskipun bukan lulusan pertanian, ia bisa berkomunikasi dengan jamur. Menurutnya, mempelajari tanaman hidup tidak harus melalui pendidikan tinggi, tetapi cukup dengan rasa dan hati.

Namun, Ratidjo juga mengakui bahwa membedakan jamur yang aman dikonsumsi dan yang beracun sangat sulit. Di Indonesia, jumlah jamur beracun lebih banyak daripada jamur yang aman untuk dimakan. Berkat tangan dinginnya, beberapa jenis jamur yang sebelumnya hanya bisa tumbuh di dataran tinggi kini dapat dibudidayakan di Sleman.
Langkah Besar Tahun 2006: Membangun Jejamuran dari Nol
Awalnya, Jejamuran hanya merupakan rumah makan kecil dengan satu meja di pinggir jalan. Pelanggan utamanya adalah sopir truk dan petani yang pulang dari sawah. Namun, dari kesederhanaan itulah, Ratidjo mulai memperkenalkan olahan jamur kepada masyarakat. Ia bahkan rela berkeliling dari rumah ke rumah untuk memberi edukasi bahwa jamur bisa diolah, aman, dan lezat.
Butuh tiga tahun bagi Ratidjo dan istrinya untuk meyakinkan masyarakat bahwa jamurnya aman dikonsumsi. Meskipun sering mendapat komentar negatif, ia tidak pernah patah arang karena niatnya tulus.
Tahun 2006 menjadi titik penting ketika Jejamuran resmi berdiri sebagai rumah makan. Dengan bantuan modal dari BRI, Jejamuran mulai berkembang pesat. Bahkan, Jejamuran pernah direview oleh almarhum Bondan Winarno, yang turut membantu popularitasnya.

Puncak kesuksesannya terjadi pada tahun 2009 ketika Ratidjo meraih penghargaan sebagai UMKM terbaik DIY dari Hamengkubuwono X. Ia juga pernah diundang ke Istana Negara di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi).
Jejamuran Kini Jadi Destinasi Kuliner Wajib di Jogja
Meskipun terletak jauh dari pusat Kota Yogyakarta, Jejamuran kini menjadi destinasi kuliner yang wajib dikunjungi. Tak jarang pelanggan datang dari luar DIY. Salah satunya adalah Putri Ayuntari (36), yang selalu mampir ke Jejamuran setiap kali mudik.
Menu di Jejamuran cukup beragam, termasuk tongseng jamur, sate jamur, king oyster lada hitam, jamur bakar, telur dadar shiratake, goreng tepung tiram, martabak risoles lumpia, sup jamur, dan lainnya. Jejamuran buka dari pukul 10.00 WIB-22.00 WIB tiap Senin sampai Kamis, serta pukul 09.00 WIB-21.00 WIB tiap akhir pekan. Di sini juga tersedia fasilitas meeting room dan pusat oleh-oleh bagi para pelancong.






