Kebuntuan Diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat
Garda Revolusi Iran mengingatkan Amerika Serikat untuk memilih jalan diplomasi daripada operasi militer, mengingat situasi yang semakin memanas antara kedua negara. Konflik ini telah berlangsung cukup lama dan memicu ketegangan yang semakin meningkat, terutama setelah Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran terkait penghentian perang dan pembukaan Selat Hormuz.
Ketegangan tersebut juga menyebabkan dampak ekonomi global serta tekanan ekonomi yang signifikan di Iran. Infomalangraya.com melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran memberi peringatan kepada pemerintah Amerika Serikat bahwa mereka kini berada di persimpangan antara melanjutkan operasi militer yang disebut “mustahil” atau mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Peringatan ini muncul setelah Trump menolak proposal perdamaian yang diajukan oleh Iran. Hubungan antara kedua negara masih dalam kebuntuan sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April lalu. Hingga saat ini, hanya satu putaran pembicaraan damai yang telah dilakukan secara langsung.
Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan bahwa Teheran telah menyerahkan proposal berisi 14 poin yang difokuskan pada upaya mengakhiri perang. Pemerintah Iran juga menyebut bahwa Amerika Serikat telah memberikan respons melalui mediator dari Pakistan.
“Kami sedang meninjau hal ini dan akan memberikan respons yang diperlukan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei kepada televisi pemerintah. Namun, Trump langsung menolak proposal tersebut dengan nada penolakan.
“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya sulit membayangkan itu dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Laporan media Amerika Serikat, Axios, menyebut bahwa proposal Iran itu berisi tenggat waktu satu bulan untuk mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Strait of Hormuz, penghentian blokade laut Amerika Serikat, serta pengakhiran perang di Iran dan Lebanon.
Dalam pernyataannya pada Minggu, Garda Revolusi Iran menyebut bahwa pilihan kini berada di tangan Trump. Mereka mengatakan presiden Amerika Serikat harus memilih antara “operasi yang mustahil” atau “kesepakatan buruk dengan Republik Islam Iran”.
“Ruang pengambilan keputusan Amerika Serikat kini semakin sempit,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.
Di tengah situasi ini, negara-negara sekutu Amerika Serikat di Eropa mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian global. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mendesak agar jalur pelayaran tersebut segera dibuka kembali.
Dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Wadephul menegaskan dukungan Jerman terhadap solusi diplomatik, namun meminta Iran menghentikan ambisi senjata nuklir dan membuka Selat Hormuz.
Sementara itu, Trump mengatakan kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran masih terbuka. “Jika mereka bertindak buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, kita lihat nanti. Tetapi itu tentu saja bisa terjadi,” ujar Trump kepada wartawan di Florida.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan blokade laut yang diterapkan Washington hanyalah bagian dari tekanan ekonomi yang lebih luas terhadap Iran. “Kami sedang mencekik rezim itu dan mereka tidak mampu membayar tentaranya,” kata Bessent dalam wawancara dengan Fox News.
Di pihak lain, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei melontarkan ancaman terhadap kapal perang Amerika Serikat. “Bersiaplah menghadapi kuburan bagi kapal induk dan pasukan Anda,” tulisnya di platform X.
Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti bahwa Iran pernah menenggelamkan kapal militer Amerika Serikat selama konflik berlangsung.
Ketegangan yang terus berlanjut membuat dampak ekonomi semakin terasa, terutama setelah Iran mempertahankan penutupan Selat Hormuz sejak perang dimulai. Situasi tersebut mengganggu distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia, sementara harga minyak dilaporkan melonjak sekitar 50 persen dibanding sebelum konflik pecah.
Di dalam negeri Iran, tekanan ekonomi juga semakin berat akibat penurunan ekspor minyak dan lonjakan inflasi yang disebut telah melampaui 50 persen. “Semua orang berusaha bertahan, tetapi mereka mulai hancur,” kata Amir, warga Teheran berusia 40 tahun.







