Penangkapan Kiai Cabul di Wonogiri
Pada hari Kamis (7/6/2026) pagi, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi di Desa Bakalan, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri. Seorang tersangka pencabulan santriwati asal Pati, Ashari, ditangkap oleh aparat kepolisian setelah bersembunyi di kawasan perbukitan yang dianggap keramat oleh warga. Kejadian ini diwarnai suara tembakan yang memecah keheningan subuh, membuat sebagian warga bingung.
Suara Tembakan Saat Subuh
Dari informasi yang diperoleh, penangkapan dilakukan pada pagi hari sehingga sebagian besar warga tidak mengetahui kejadian tersebut. Namun, beberapa warga yang tinggal dekat lokasi sempat mendengar suara tembakan satu kali. Menurut sumber, suara tersebut mungkin hanya peringatan.
Bersembunyi di Kawasan Makam Keramat
Ashari diketahui bersembunyi di kawasan yang jauh dari permukiman warga. Dalam pelariannya, ia mendatangi Gedong Giyono yang berada di kompleks makam di puncak bukit. Ashari tiba di Desa Bakalan sejak Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 07.00 WIB menggunakan ojek dari Kecamatan Purwantoro. Setelah itu, ia kembali berganti ojek untuk menuju lokasi persembunyiannya.
Menurut sumber, Ashari menginap di salah satu rumah warga. Ia tidak dikenal, cuma numpang menginap karena lokasinya dekat dengan makam tersebut. Rumah warga tersebut sering digunakan peziarah untuk menginap, sehingga pemilik rumah tidak menaruh kecurigaan.
Mengaku Jalani Perintah Guru
Kepada warga sekitar, Ashari mengaku datang untuk menjalankan perintah gurunya, yakni berpuasa selama tiga tahun. Ia mengatakan bahwa ia baru saja menjalani tiga bulan dan disuruh ke sana. Warga tidak curiga, tidak ada yang tahu status tersangka.

Ditangkap saat Keluar Rumah
Penangkapan dilakukan bukan di rumah tempat pelaku menginap. Pada Kamis pagi, Ashari sempat meminjam sepeda motor milik warga dengan alasan hendak menemui temannya. “Ditangkapnya sudah bukan di rumah warga, pagi itu pinjam sepeda motor, ngakunya untuk bertemu temannya. Lha pas keluar dan di jalan itu ditangkapnya,” jelas Kades.
Modus Pencabulan dengan Dalih ‘Menghilangkan Penyakit’
Pelarian AS (51), pimpinan Pondok Pesantren Ndholo Kusumo Pati, berakhir di Wonogiri. Ia diduga mencabuli santriwati dengan dalih ritual penyembuhan, menggunakan otoritas guru untuk mendoktrin korban agar patuh.
Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama, membenarkan penangkapan tersebut. AS ditangkap aparat kepolisian di Petilasan Eyang Gunungsari, Kabupaten Wonogiri, pada Kamis (7/5/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB. Penangkapan tersebut mengakhiri pelarian tersangka lintas provinsi.
Dalih Ritual Penyembuhan
AS diduga mencabuli sejumlah santriwati dengan modus mengatasnamakan penyembuhan penyakit melalui pendekatan spiritual. Hal tersebut disampaikan Dewi Intan, tim pendamping korban, dalam konferensi pers bersama pengacara Hotman Paris di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (7/5/2026).
Ia mengungkapkan bahwa pelaku menggunakan narasi religius untuk memengaruhi korban. “Waktu awal dia merayu mereka dengan bilang bahwa hal ini bisa melunturkan semua penyakit yang ada di dalam badan,” ujar Dewi. Menurutnya, pelaku meyakinkan korban bahwa tindakan tersebut dapat menghilangkan “penyakit hati” maupun gangguan dalam tubuh.
Tekanan terhadap Korban
Dewi juga mengungkapkan adanya tekanan terhadap korban apabila menolak ajakan tersebut. Dalam beberapa kasus, korban disebut mengalami tindakan kekerasan fisik. “Kalau mereka menolak, sesekali dilakukan kekerasan dengan menoyor kepala,” katanya.
Pengaruh Spiritual Pelaku
Saksi lain berinisial S (47), yang pernah bekerja di lingkungan pondok pesantren tersebut, menyebut bahwa pelaku memiliki pengaruh besar di kalangan lingkungan sekitar karena dianggap memiliki kedekatan spiritual. “Setiap orang yang dekat dengan pelaku merasa seolah-olah dia itu dekat dengan Allah,” ujarnya.
Pengakuan Korban
Sementara itu, korban berinisial K (19) mengaku mengalami dugaan pencabulan selama sekitar tiga tahun saat masih berada di lingkungan pesantren. Ia menyebut keberaniannya melapor didorong oleh keyakinan bahwa ada korban lain yang mengalami hal serupa. “Sudah banyak korban lain. Teman-teman saya tidak ada yang berani,” kata K dalam konferensi pers.
Ayah korban, M (52), mengatakan laporan ke pihak berwajib dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban lain. “Kalau dibiarkan, itu mungkin saja banyak sekali yang jadi korban,” ujarnya.







