Penyakit Kulit yang Sering Terjadi saat Hamil
Kehamilan adalah periode perubahan besar dalam tubuh seorang wanita, termasuk pada kulit. Perubahan hormon dan sistem kekebalan tubuh sering kali menyebabkan berbagai masalah kulit yang mungkin belum pernah Mama alami sebelumnya. Dari gatal-gatal yang mengganggu hingga bercak gelap yang membuat kurang percaya diri, kondisi ini bisa sangat mengganggu kenyamanan ibu hamil.
Meskipun sebagian besar masalah kulit ini bersifat sementara dan akan menghilang setelah melahirkan, penting bagi Mama untuk memahami mana yang wajar dan mana yang memerlukan perhatian ekstra. Berikut adalah sembilan penyakit kulit yang sering terjadi selama masa kehamilan:
1. PUPPP (Pruritic Urticarial Papules and Plaques of Pregnancy)
PUPPP adalah keluhan kulit yang paling umum dialami oleh ibu hamil. Kondisi ini biasanya muncul di trimester ketiga saat kulit perut mulai meregang. Gejalanya berupa bentol-bentol kemerahan yang terasa sangat gatal, mirip dengan biduran, yang menyebar di sekitar stretch marks perut.
Rasa gatal akibat PUPPP bisa sangat mengganggu, terutama di malam hari, dan kadang menyebar ke paha atau bokong. Meski tidak membahayakan janin, kondisi ini bisa sangat mengganggu kenyamanan ibu hamil. Untuk meredakannya, kompres dingin dan pelembap aloe vera bisa menjadi solusi efektif.
2. Melasma (Masker Kehamilan)

Melasma atau dikenal juga sebagai chloasma (topeng kehamilan) adalah bercak kecokelatan yang muncul tiba-tiba di pipi, dahi, hidung, atau di atas bibir. Kondisi ini disebabkan oleh lonjakan hormon kehamilan yang merangsang produksi pigmen melanin, terutama saat kulit terpapar sinar matahari.
Bercak gelap ini biasanya tidak gatal atau sakit, hanya mengganggu penampilan. Untuk mencegahnya makin gelap, Mama wajib menggunakan sunscreen fisik setiap hari dan memakai topi lebar saat keluar rumah. Bercak ini biasanya akan memudar perlahan setelah melahirkan.
3. Stretch Marks (Striae Gravidarum)

Hampir 90 persen ibu hamil mengalami stretch marks. Kondisi ini terjadi ketika kulit meregang lebih cepat daripada kemampuan kulit untuk memproduksi kolagen. Akibatnya, jaringan di bawah kulit “robek” dan memunculkan garis-garis berwarna merah muda, ungu, atau cokelat di perut, paha, dan payudara.
Awalnya, guratan ini mungkin terasa gatal karena kulit yang menipis dan kering. Meski sulit dicegah sepenuhnya, menjaga kelembapan kulit dengan rutin mengoleskan minyak atau krim khusus sejak awal kehamilan dapat membantu memudarkan tampilannya.
4. Jerawat

Bagi sebagian ibu hamil, kehamilan justru memicu breakout parah layaknya masa pubertas. Lonjakan hormon progesteron memicu kelenjar minyak di wajah berproduksi secara berlebihan, sehingga menyumbat pori-pori.
Jerawat hormonal biasanya muncul di sekitar rahang dan dagu. Mama harus hati-hati dalam memilih obat jerawat, hindari produk yang mengandung retinoid atau isotretinoin karena berbahaya bagi janin. Pilihlah bahan alami seperti tea tree oil atau obat totol yang diresepkan aman oleh dokter.
5. Linea Nigra

Garis gelap vertikal yang memanjang dari pusar hingga ke area kemaluan ini sebenarnya sudah ada sebelum hamil (linea alba), namun warnanya samar. Saat hamil, peningkatan melanin membuat garis ini menjadi hitam dan sangat tegas (linea nigra).
Sama seperti melasma, garis perut ini murni akibat perubahan pigmentasi hormonal dan sama sekali tidak berbahaya. Mitos yang mengatakan garis ini bisa memprediksi jenis kelamin bayi hanyalah mitos belaka. Garis ini akan memudar beberapa bulan setelah menyusui.
6. Varises dan Spider Veins

Selama hamil, volume darah meningkat drastis untuk menyuplai janin. Di sisi lain, rahim yang membesar menekan pembuluh darah balik di panggul. Akibatnya, pembuluh darah di kaki sering menonjol besar dan berwarna kebiruan (varises) atau muncul guratan halus seperti jaring laba-laba (spider veins) di wajah dan kaki.
Kondisi ini sering membuat kaki terasa berat dan pegal. Untuk menguranginya, hindari berdiri terlalu lama dan biasakan mengangkat kaki lebih tinggi saat berbaring agar aliran darah kembali lancar.
7. Prurigo of Pregnancy

Jika Mama menemukan benjolan-benjolan kecil seperti gigitan serangga yang terasa gatal di lengan atau kaki, bisa jadi itu adalah prurigo of pregnancy. Berbeda dengan PUPPP yang ada di perut, prurigo biasanya muncul di area ekstensor (bagian luar lengan atau kaki).
Penyebab pastinya belum diketahui, namun diduga terkait dengan perubahan sistem imun tubuh ibu hamil. Benjolan ini bisa bertahan cukup lama, bahkan hingga beberapa minggu setelah melahirkan. Usahakan jangan digaruk ya, Ma. Dengan tidak menggaruk, maka tidak akan meninggalkan bekas luka koreng.
8. Skin Tags

Perubahan hormon dan gesekan kulit sering memicu pertumbuhan daging jadi atau kutil kecil yang disebut skin tags. Biasanya “kutil” jinak ini muncul di area lipatan tubuh yang lembap seperti leher, ketiak, bawah payudara, atau selangkangan.
Ukurannya bervariasi dari sebutir beras hingga kacang hijau. Skin tags tidak berbahaya dan tidak menular. Jika posisinya mengganggu atau sering tersangkut pakaian, Mama bisa meminta dokter kulit untuk mengangkatnya setelah proses persalinan selesai.
9. Eksim atau Dermatitis yang Kambuh

Bagi ibu hamil yang memiliki riwayat alergi atau asma, kehamilan sering kali menjadi pemicu kambuhnya eksim (eczema). Kulit akan menjadi sangat kering, merah, bersisik, dan gatal parah, biasanya di lipatan siku atau belakang lutut.
Perubahan fungsi kekebalan tubuh selama hamil membuat kulit lebih sensitif terhadap iritan seperti sabun atau detergen. Kunci penanganannya adalah hidrasi, gunakan sabun mandi yang lembut (hypoallergenic) dan rajin memakai pelembap emollient sesering mungkin.
Itulah beberapa penyakit kulit yang sering terjadi saat hamil. Sebagian besar kondisi ini akan membaik dengan sendirinya setelah hormon ibu hamil kembali normal. Namun, jika gatalnya sudah tidak tertahankan hingga mengganggu tidur, jangan ragu konsultasi ke dokter.







