Desa Wisata Terong: Transformasi Bekas Tambang Menjadi Daya Tarik Ekonomi
Di tangan masyarakat Desa Terong, bekas tambang timah dapat disulap menjadi desa wisata bernilai ekonomi. Dahulunya, Belitung merupakan pemasok 90% timah nasional. Tak heran jika bekas tambang timah tersebar di mana-mana. Dari ketinggian sekitar 1.500 meter di pesawat saja, bekas galian tambang tampak jelas tersebar di sejumlah titik. Namun masyarakat Desa Terong tak mau berlarut-larut hidup di tengah kerusakan alam. Mereka berhasil mengubah desanya menjadi desa wisata. Upaya ini dilakukan untuk memulihkan citra desa sekaligus mendorong perekonomian masyarakat.
Desa Terong berada di pesisir utara Kabupaten Belitung. Jaraknya sekitar 27,5 kilometer dari Bandara H.A.S Hanandjoeddin atau sekitar 40 menit berkendara. Desa ini berlokasi di pesisir pantai utara Kabupaten Belitung. Kepala Desa Terong Iswandi menceritakan bagaimana ia bersama warga setempat bergotong royong merintis Desa Wisata Kreatif Terong sejak 2013. Gagasan ini muncul setelah Belitung ramai dikunjungi wisatawan pasca populernya film Laskar Pelangi. Saat itu, wisatawan banyak berkunjung ke Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang, sementara Desa Terong belum dilirik.
“Kita harus membuat sesuatu yang berbeda dari desa lain, termasuk desa Tanjung Kelayang. Akhirnya kita membangun sebuah konsep mengembangkan desa wisata,” kata Iswandi di Belitung saat berbincang dengan Infomalangraya.com akhir April lalu. Iswandi mengatakan, konsep ini terinspirasi dari Desa Wisata Pentingsari di Yogyakarta. Keduanya merupakan desa binaan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Perjalanan membangun desa wisata itu tak mudah. Masyarakat bergotong royong saat libur kerja dan sekolah di akhir pekan. Selama sekitar tiga setengah tahun menutup lubang bekas tambang secara manual, hanya dengan cangkul dan sekop.
Sedikit demi sedikit, galian bekas tambang tersebut mulai tertutup. Warga desa kemudian mulai membangun konsep wisata. Hasilnya mulai terlihat pada 2016 saat Desa Terong mulai bisa menjual paket wisata. Salah satu destinasi unggulannya adalah Wisata Aik Rusa Berehun, kawasan bekas tambang yang direklamasi secara swadaya dan kini dilengkapi fasilitas UMKM, area pertunjukan seni, pondok pertemuan hingga kolam pemancingan.
Wisata edukasi ini berbasis pengalaman langsung. Seperti pengalaman menikmati kuliner lokal di depan kolam buatan. Kolam itu dibangun warga dari bekas galian tambang. Pengunjung juga bisa menikmati jalur hiking sambil melihat bagaimana kawasan bekas tambang dihidupkan kembali. Wisata lainnya adalah makan bedulang, tradisi makan bersama khas Belitung. Satu paket dulang dihargai Rp 250.000. Isi dulang bermacam-macam, ada ikan kuah kuning, cumi goreng, hingga ayam kecap.
Makan bedulang memiliki tata cara khusus. Orang yang paling muda bertugas membagikan piring satu per satu kepada peserta yang lebih tua, lalu menyendokkan nasi secara berurutan mulai dari yang tertua. Sementara untuk pengambilan lauk dilakukan sebaliknya, yakni dimulai dari yang paling tua hingga giliran yang paling muda. Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan sekaligus penghormatan kepada yang lebih tua.
Iswandi mengakui, setelah mengubah desanya menjadi desa wisata, pendapatan desa meningkat. Pada 2020, jumlah pendapatan desa bahkan mencapai Rp 500 juta per tahun. Namun angka tersebut susut menjadi Rp 200 juta setelah wabah Covid-19 menyebar, yang menyebabkan pengunjung wisatawan berkurang.
Bukit Peramun: Destinasi Wisata Alam yang Memukau
Selain Desa Terong, destinasi lain yang layak dikunjungi saat berada di Belitung adalah Bukit Peramun. Dari puncak bukit setinggi 129 meter di atas permukaan laut ini, wisatawan bisa menikmati bentang alam Belitung, hamparan batu granit khas hingga panorama Laut Cina Selatan. Jika cuaca cerah, Bukit Peramun menjadi spot bagus untuk menikmati matahari terbenam. Jika malam tiba, pengunjung yang beruntung juga bisa melihat Tarsius, primata kecil yang aktif pada sore hingga malam hari.
Bukit Peramun berada di kawasan strategis, di antara Kota Tanjung Pandan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang dan Bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Tanjung Pandan atau sekitar 22 kilometer dari bandara. Kawasan ini dikelola masyarakat melalui Kelompok Hutan Kemasyarakatan Arsel sejak 2006 dan mulai dibuka sebagai destinasi wisata pada 2017 dengan konsep community-based tourism.
Desa Wisata ini terkenal berkat pengelolaan berbasis teknologi. Kawasan ini bahkan dinobatkan sebagai Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Salah satu inovasi andalannya adalah aplikasi pemandu virtual berbasis Android yang membantu pengunjung mengenali jenis-jenis tanaman di kawasan hutan. Aplikasi tersebut dapat diunduh melalui laman peramun.com.
IT Support Bukit Peramun Wahyu Ramadhan mengatakan aplikasi ini dikembangkan untuk membantu para pemandu wisata yang sebelumnya kesulitan menjelaskan informasi tanaman secara verbal. Awalnya, sistem informasi menggunakan barcode yang harus dipindai. Namun, model tersebut dinilai kurang praktis karena pengunjung cenderung enggan membaca penjelasan panjang.
“Jadi awal mulanya itu dari keresahan para guide-guide kita yang agak kesulitan menjelaskan secara verbal. Aplikasi kita yang bikin. Keluarlah audio atau foto atau apa namanya, informasi-informasi yang berupa secara interaktifnya,” kata Wahyu. Menurut dia, seluruh data dalam aplikasi disusun berdasarkan hasil penelitian flora di kawasan Bukit Peramun dan disesuaikan dengan penamaan lokal. Wahyu menambahkan, sistem digital ini juga ramah lingkungan karena tidak merusak pohon. Penanda hanya menggunakan cat hitam-putih yang dapat diperbarui tanpa perlu memasang paku atau kawat pada batang pohon.







