Kasus Pembunuhan di Mojokerto yang Menyedihkan
Kota Mojokerto kembali digegerkan dengan sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan seorang pria bernama Satun alias Tuan. Peristiwa tragis ini terjadi di rumah pelaku pada Rabu (6/5/2026) dan menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Tuan mengakui bahwa selama ini ia merasa tidak dihargai sebagai kepala rumah tangga. Ia bahkan secara terbuka menceritakan berbagai masalah dalam rumah tangganya yang telah lama dipendam. Hal ini akhirnya memicu tindakan sadis yang dilakukannya terhadap istri dan ibu mertuanya sendiri.
Tuan diketahui menikah dengan Sri Wahyuni (35) pada tahun 2020 silam. Saat menikah, Sri sudah memiliki seorang anak dari hubungan sebelumnya. Dari pernikahan mereka, pasangan ini kemudian dikaruniai seorang anak lagi yang kini masih berusia balita.
“Sama ini 2, meninggal 1, tinggal satu. Cuman yang satu anak gawang,” kata Tuan. Ucapan itu disampaikan Tuan saat menjelaskan kondisi keluarganya setelah tragedi mengerikan tersebut terjadi. Kini anak mereka yang masih berusia menjelang empat tahun harus menghadapi kenyataan pahit akibat konflik berdarah dalam keluarganya sendiri.
Dalam kejadian tersebut, ibu mertua pelaku bernama Siti Arofah (54) dilaporkan meninggal dunia akibat luka tusuk yang cukup parah, sementara Sri Wahyuni mengalami luka serius dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Menyimpan Dendam
Tuan mengaku memendam dendam terhadap keduanya. Ia menyebut bahwa sang istri sudah mengkhianatinya. “Istri saya selingkuh. Sebenarnya saya sudah tahu sejak lama tapi saya ikuti alurnya, dibiarin kok tambah gitu,” katanya.
Satuan merasa emosi karena sang istri tidak melihat perjuangannya mencari uang. Sehari-hari Tuan menjadi badut penjual balon. Ketika bekerja dia selalu mengajak anak. “Cuma saya mangkelnya gak lihat saya kalau kerja sama anak kecil hujan kehujanan, panas kepanasan. Jalan sering dari Mojosari sampai rumah sering,. 4 hari 3 hari ke Surabaya ya ikut,” katanya.
Dia mengatakan banyak orang sampai bertanya keberadaan sang ibu karena anaknya selalu ikut. “Sampai-sampai orang nanya ibunya kemana,” katanya.
Istri Tak Mau Urus Anak
Tuan sendiri enggan membawa sang anak bekerja. Namun jika ia bekerja tak ada lagi orang yang bersedia menjaga. Menurut Tuan, sang istri bersedia menjaga anak bilamana semua kebutuhannya sudah terpenuhi. “Bilangnya kalau mau momong kalau semua dipenuhi, uang belanja sendiri, uang sekolah sendiri, make up sendiri,” katanya.
Sedangkan penghasilan Tuan tak menentu. Sampai akhirnya Sri Wahyuni memilih untuk mencari pria lain. “Saya kan pengahasilan kan gak tentu akhirnya larinya cari yang beruang. Maunya pokoknya yang instan,” kata Tuan.
Penghasilan Tuan tak menentu, mulai dari Rp 4 ribu sampai Rp 400 ribu. “Gak mesti. Sehari dapat Rp 4 ribu ya pernah, Rp 25 ribu pernah, kalau ngamen di lampu merah dapat Rp 300 ribu, Rp 400 ribu pernah,” katanya.

Detik-Detik Tragis
Seorang saksi, Aida (32) menceritakan detik-detik Tuan tusuk mertua sampai tewas dan aniaya istri hingga alami luka parah. Menurut Aida, awalnya Siti Arofah datang ke rumah Tuan berniat memberikan paket COD. “Tapi rumah dikunci. Digedor tidak menjawab, akhirnya korban masuk lewat pintu belakang,” katanya.
Ketika masuk Siti mendapati Tuan sedang menganiaya Sri Wahyuni. Tuan langsung seketika menusuk leher dan perut mertua menggunakan pisau dapur.
Motif Pelaku
Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata mengungkap motif Tuan bunuh dan aniaya istri. “Tersangka S dalam kondisi panik dan terdesak karena ketahuan ibu mertuanya melakukan KDRT. Begitu mertuanya masuk, dia langsung melakukan aksi penusukan tersebut secara spontan,” katanya.
Selain itu Tuan juga sudah memendam perasaan sejak lama karena sering diperlakukan tidak baik oleh kedua korban. “Tersangka sakit hati dengan korban, merasa tidak dihargai sebagaimana mestinya seorang menantu,” katanya.







