Pengelola indeks global MSCI Inc dikabarkan akan mereformasi status pasar modal di sejumlah negara, termasuk Korea Selatan dan Vietnam. Kedua pasar tersebut berpotensi naik kelas dalam klasifikasi MSCI. Perubahan ini bisa mengubah peta aliran dana asing di kawasan Asia, termasuk terhadap pasar modal Indonesia.
Korea Selatan saat ini sedang mempercepat reformasi pasar modal guna meningkatkan status dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar maju (developed market). Hal ini terlihat dari kenaikan agresif pasar saham KOSPI yang melonjak 81,51% sejak awal tahun atau year to date. Angka ini adalah yang tertinggi di antara bursa negara-negara kawasan Asia.
Di sisi lain, Vietnam juga berupaya untuk meningkatkan statusnya dari pasar perintis (frontier market) menjadi emerging market. Jika kedua perubahan tersebut terealisasi, dampak terhadap Indonesia bisa sangat berbeda. Kenaikan status Vietnam berpotensi meningkatkan persaingan perebutan dana asing di indeks MSCI emerging markets, karena Indonesia sendiri saat ini masih berada di kelas emerging market.
Wall Street Bergerak Terbatas, Investor Menanti Data Indeks Konsumen AS
IHSG Diproyeksi Lanjut Koreksi, Analis Rekomendasi Saham ADRO, ANTM hingga AMRT
Bursa Bakal Terus Awasi Kasus Anomali Transaksi Rp 5 Triliun TLKM, Libatkan OJK
Bagaimana Skenarionya?
Menurut Deputy Head of Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, jika Vietnam masuk ke kelas emerging market, maka manajer investasi global yang mengikuti MSCI secara pasif harus menambah kepemilikan saham Vietnam. Penyesuaian portofolio ini berpotensi mengurangi alokasi dana ke negara emerging market lain, termasuk Indonesia.
Selain itu, bobot Indonesia dalam indeks MSCI emerging markets berpotensi tergerus apabila Vietnam resmi masuk. Kondisi ini dapat mengurangi eksposur investor global terhadap pasar saham domestik.
Vietnam dinilai memiliki beberapa keunggulan kompetitif, seperti pertumbuhan ekonomi yang konsisten tinggi dalam lima tahun terakhir, birokrasi investasi yang relatif cepat, serta insentif pajak yang lebih kompetitif.
Namun, potensi kenaikan status Korea Selatan justru dapat menjadi katalis positif bagi Indonesia. Kresna menjelaskan bahwa peluang kenaikan bobot Indonesia di MSCI emerging markets akan lebih besar jika Korea Selatan naik kelas menjadi developed market. Berdasarkan data MSCI, bobot Korea Selatan di MSCI Emerging Markets saat ini mencapai 18,69%.
“Jadi kalau ada 20% dari indeks itu keluar otomatis jika simplistik kita bagi rata aja Indonesia dapat kebagian limpahan,” ujar Kresna dalam acara Mandiri Macro & Market Brief Q2 2026, Senin (11/5).
Menurut Kresna, jika dibandingkan dengan potensi masuknya Vietnam ke emerging market, efek positif dari keluarnya Korea Selatan dari indeks justru lebih besar bagi Indonesia.
“Kalau Vietnam naik dari frontier market ke emerging market, estimasi kami secara kasar dampaknya tidak akan mampu mensubstitusi potensi tambahan bobot yang ditinggalkan Korea,” ujarnya.
Dengan demikian, secara bersih Indonesia masih memiliki peluang memperoleh kenaikan bobot dalam indeks MSCI Emerging Markets. Meski begitu, Kresna mengingatkan bahwa perubahan tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Dia menyampaikan, berdasarkan informasi yang beredar di publik, baik Korea Selatan maupun Vietnam kemungkinan baru masuk dalam watch list MSCI pada Juni tahun ini. Jika kemudian MSCI memutuskan adanya perubahan klasifikasi, implementasinya paling cepat baru berlangsung pada 2027 atau bahkan efektif pada 2028.
Artinya, perkembangan ini masih bersifat jangka menengah dan belum akan berdampak langsung pada pergerakan pasar tahun ini.
“Ini memberikan peluang bagi pasar modal kita untuk terus berbenah dan mengantisipasi perubahan tersebut,” kata Kresna.
Dalam keterangannya, MSCI menyatakan pihaknya saat ini terus memantau implementasi serta penerimaan pasar terhadap berbagai langkah untuk meningkatkan aksesibilitas pasar saham Korea, guna menilai apakah langkah-langkah tersebut telah mampu menghasilkan dampak yang setara dengan pasar valuta asing (FX) offshore yang beroperasi penuh seperti yang terdapat di negara-negara dengan status developed market.
Sementara itu, untuk pasar Indonesia, MSCI belum ada mengumumkan akan melakukan perombakan status dari saat ini berada di kelas emerging market.







