Kondisi Desa Limbur yang Masih Belum Teraliri Listrik
Desa Limbur, yang terletak di Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan, masih menghadapi tantangan dalam hal akses listrik. Meskipun desa ini berbatasan langsung dengan beberapa daerah tetangga seperti Tanah Bumbu dan Hulu Sungai Selatan, masyarakatnya belum bisa menikmati pasokan listrik dari PLN.
Menurut Sekdes Limbur, Mudir Munir, sejak desa tersebut dibentuk pada tahun 1983, masyarakatnya yang terdiri dari sekitar 154 Kepala Keluarga (KK) masih bergantung pada generator set (genset) dan energi surya untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari. “Survei sudah beberapa kali dilakukan, termasuk oleh PLN. Semoga rencana tahun ini benar-benar terwujud,” ujarnya.
Untuk mendukung rencana pemasangan listrik, masyarakat Desa Limbur sepakat menghibahkan sebagian tanah maupun pohon-pohon yang akan terkena pemasangan tiang listrik. Hal ini dilakukan agar proses pemasangan dapat berjalan lancar.
Sebagai wilayah yang berada di kaki Pegunungan Meratus, Desa Limbur menghadapi kendala medan yang sulit. Hal ini menjadi faktor penghambat lambannya masuknya listrik ke desa tersebut. Selain listrik, jaringan telepon, internet, dan infrastruktur jalan juga masih sangat terbatas, meski saat ini sudah bisa dicapai menggunakan kendaraan roda empat.
“Meski mobil bisa sampai ke desa, namun kendaraan double gardan atau sejenisnya akan kesulitan saat cuaca panas,” tambah Mudir.
Jarak dari pusat Kecamatan Hampang ke Desa Limbur sekitar 35 km, dan perjalanan biasanya memakan waktu sekitar 2 jam. Kondisi ini menjadikan akses menuju desa tersebut tidak mudah.
Beberapa waktu lalu, Wakil Bupati Kotabaru, Syari Mukhlis, menyatakan komitmennya untuk mendorong masuknya listrik ke desa-desa yang belum teraliri. Termasuk Desa Limbur, yang telah masuk dalam tahap pengajuan melalui anggaran APBN di pemerintah pusat.
“Rasio desa berlistrik di Kotabaru saat ini telah mencapai sekitar 97,52 persen,” kata Syari. Pihaknya menargetkan bahwa seluruh wilayah Kotabaru akan teraliri listrik hingga tahun 2028.
Energi Alternatif: Pengertian dan Macamnya
Selama ini, manusia memanfaatkan bahan bakar fosil untuk kebutuhan sehari-hari. Bahan bakar fosil terbentuk dari tumbuhan dan hewan yang mati jutaan tahun lalu. Contohnya adalah batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Menurut data Encyclopaedia Britannica (2015), sekitar 80 persen energi di dunia dihasilkan dari bahan bakar fosil.
Namun, bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang tidak terbarukan. Artinya, jumlahnya terbatas dan suatu saat akan habis. Oleh karena itu, para ilmuwan mulai mencari alternatif sumber energi lain sebelum bahan bakar fosil habis. Energi ini disebut sebagai energi alternatif.
Berikut beberapa macam energi alternatif:
Matahari
Energi matahari dapat dimanfaatkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Di Indonesia, posisi yang berada di garis khatulistiwa membuat intensitas sinar matahari cukup kuat. Matahari bersinar sepanjang hari, sehingga cocok digunakan sebagai sumber listrik. Namun, kekurangannya adalah energi ini hanya tersedia ketika langit cerah.Panas Bumi
Panas bumi atau geotermal juga bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Panas dari dalam bumi menghasilkan uap yang kencang, yang kemudian diolah di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).Angin
Energi angin dapat dimanfaatkan melalui kincir angin. Contohnya adalah PLTB Sidrap yang memiliki 30 turbin kincir angin, masing-masing setinggi 80 meter dengan baling-baling sepanjang 57 meter. Setiap turbin menghasilkan listrik 2,5 MW, sehingga total kapasitas mencapai 75 MW.Air
Air juga bisa digunakan sebagai sumber energi. Contohnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang memanfaatkan air terjun, arus sungai, ombak, dan pasang surut laut untuk menghasilkan listrik.







