Tekanan Global dan Kenaikan Harga Mengancam Pasar Elektronik
Pasar elektronik di berbagai belahan dunia kini menghadapi tantangan yang semakin berat. Berbagai faktor seperti konflik geopolitik, kelangkaan komponen, serta pelemahan nilai tukar rupiah menunjukkan tekanan yang signifikan terhadap industri ini. Hal ini tidak hanya memengaruhi biaya impor, tetapi juga mengganggu rantai pasok global dan menahan daya beli masyarakat yang masih belum pulih sepenuhnya.
Perusahaan Teknologi Global Melaporkan Penurunan Permintaan
Samsung Display Corporation (SDC), salah satu perusahaan teknologi ternama, melaporkan bahwa permintaan pasar untuk televisi layar kecil dan menengah masih lemah. Faktor-faktor seperti kenaikan harga memori dan ketidakpastian pasar hingga semester II/2026 menjadi penyebab utamanya. Dalam kuartal I/2026, SDC mencatat pendapatan konsolidasi sebesar KRW6,7 triliun dengan laba operasional KRW0,4 triliun. Namun, bisnis layar kecil dan menengah mengalami penurunan pendapatan akibat faktor musiman dan kenaikan harga memori.
Sementara itu, bisnis layar besar masih stabil berkat permintaan monitor gaming OLED. SDC memperkirakan visibilitas pasar layar kecil dan menengah akan tetap rendah hingga akhir tahun, sehingga perusahaan fokus pada produk premium dan ekspansi OLED untuk menjaga pertumbuhan pendapatan.
Tren Penurunan Pengiriman PC dan Tablet
Tekanan serupa juga terlihat pada industri perangkat komputer dan tablet global. International Data Corporation (IDC) memangkas proyeksi pengiriman PC global 2026 menjadi minus 11,3%, jauh lebih dalam dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar minus 2,4%. IDC juga memperkirakan pengiriman tablet turun 7,6% tahun ini akibat kekurangan memori, kenaikan harga komponen, dan gangguan rantai pasok global yang diperkirakan berlanjut hingga 2027.
Eskalasi konflik di Timur Tengah turut memperbesar tekanan terhadap industri, termasuk teknologi dan perangkat keras global. Wakil Presiden Grup, Perangkat, dan Konsumen IDC, Ryan Reith, menyatakan bahwa industri teknologi secara keseluruhan terus menghadapi hambatan yang tak terkendali, jika digabungkan, mengakibatkan gangguan besar.
Kenaikan Harga Diprediksi Memicu Inflasi Impor
Di Indonesia, tekanan global dan lemahnya nilai tukar rupiah berpotensi memicu inflasi impor, terutama untuk produk yang masih bergantung pada bahan baku, penolong, maupun konsumsi. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut bahwa biaya distribusi akan meningkat, kelangkaan barang tertentu, serta pelemahan rupiah akan mulai mendorong kenaikan harga barang dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Salah satu yang mulai terdampak ialah plastik dan bahan kemasan yang banyak digunakan pada industri elektronik. Barang elektronik juga akan terdampak karena sebagian besar komponennya masih impor. Pasti akan membuat harga dari elektronik buatan dalam negeri akan lebih mahal.
Nailul menilai, produsen elektronik kini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, biaya produksi meningkat akibat kurs rupiah yang melemah. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat belum cukup kuat untuk menerima kenaikan harga secara agresif. Kondisi itu membuat banyak produsen atau vendor memilih menahan harga jual dengan konsekuensi margin usaha semakin tertekan. Jika tekanan berlanjut, pelaku industri diperkirakan akan melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.
Pengaruh Rupiah Terhadap Harga Smartphone
Di pasar smartphone, tekanan rupiah juga mulai memengaruhi strategi vendor. Analis Pasar Smartphone Indonesia Aryo Meidianto Aji mengatakan, hampir seluruh komponen smartphone masih menggunakan denominasi dolar AS, mulai dari chipset, memori, layar, hingga baterai. Menurutnya, vendor yang masih mengandalkan impor utuh atau completely built up (CBU) berpotensi menaikkan harga jual antara 5% hingga 15%, tergantung segmen produk.
Biaya produksi naik karena kurs, sementara daya beli masyarakat belum pulih 100%. Vendor terpaksa akan menaikkan harga atau mengurangi bonus penjualan. Akibatnya, permintaan pasar pasti akan tertahan. Dia juga mengatakan, konsumen kini cenderung menunda pergantian smartphone. Jika sebelumnya siklus pergantian perangkat berada di kisaran 12–18 bulan, kini dapat mundur hingga lebih dari 24 bulan.
Segmen Entry-Level Paling Rentan
Sementara itu, Aryo menyampaikan bahwa segmen entry-level hingga low-mid dengan rentang harga Rp1,5 juta hingga Rp3 juta menjadi yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah karena sangat sensitif terhadap kenaikan harga. “Naik Rp100.000 sampai Rp200.000 saja bisa membuat konsumen batal membeli,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, tren pergeseran konsumen ke smartphone entry-level dan perangkat second diperkirakan semakin kuat. Konsumen dinilai mulai mencari alternatif yang lebih terjangkau di tengah keterbatasan daya beli. Aryo juga menilai vendor dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih tinggi memiliki daya tahan lebih baik terhadap fluktuasi kurs dibandingkan merek yang masih bergantung besar pada impor. Menurutnya, produsen dengan fasilitas manufaktur lokal memiliki bantalan biaya lebih kuat karena sebagian proses produksi menggunakan rupiah, sehingga memiliki ruang lebih luas untuk menjaga stabilitas harga jual di pasar domestik.






