Infomalangraya.com.CO.ID, BEIJING— Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan, China berencana untuk terus membeli minyak dari Iran.“Namun pada saat yang sama, dia (Presiden China Xi Jinping) mengatakan bahwa mereka membeli banyak minyak dari sana, dan mereka ingin terus melakukannya,” kata Trump kepada Fox News, Kamis (14/5).
Trump menambahkan, Xi juga ingin Selat Hormuz tetap terbuka. Sebelumnya pada hari yang sama, Gedung Putih menyatakan bahwa pemimpin China itu juga menyampaikan minat Beijing untuk membeli minyak dari Amerika Serikat.
Trump sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 13–15 Mei. Pembicaraan Trump dengan Xi berlangsung pada Kamis, ketika pemimpin China itu turut mengangkat isu penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan. Pada Jumat, kedua pemimpin dijadwalkan menggelar jamuan makan siang kerja (working lunch).
Minyak Iran
Pemerintah China dilaporkan tidak akan mematuhi sanksi AS terhadap lima firma yang selama ini menjadi pembeli minyak Iran. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Perdagangan Iran pada Sabtu (2/5/2025), dikutip CNA.
China adalah konsumen utama minyak Iran, terutama melalui kilang-kilang independen yang mengandalkan minyak dengan harga diskon dari Iran. Saat ini, AS sedang mencoba untuk ‘mencekik’ pemasukan Teheran dari minyak melalui sanksi dan blokade maritim.
Berdasarkan perintah Kementerian Perdagangan China, terkait dengan sanksi yang diumumkan AS sejak tahun lalu, Beijing menyatakan bahwa sanksi-sanksi AS tidak dapat dituruti.

Sanksi-sanksi AS dinilai “secara tak tepat melarang dan membatasi perusahaan-perusahaan China untuk menjalani ekonomi, perdagangan dan aktivitas terkait secara normal dengan negara ketiga … dan menyalahi hukum internasional dan norma-norma dasar dalam hubungan pemerintahan internasional,” demikian keterangan resmi Kementeri Perdagangan China.
Perintah dari Kementerian Perdagangan China berlaku untuk perusahaan yang terletak di Provinsi Shandong – Shandong Jincheng Petrochemical Group, Shandong Shouguang Luqing Petrochemical dan Shandong Shengxing Chemical. Selain itu, dua perusahaan yang ada di kawasan China lain yakni Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery dan Hebei Xinhai Chemical Group juga mendapat instruksi serupa.
Sebelumnya pada Jumat (1/5/2026), Washington menerapkan sejumlah sanksi untuk perusahaan-perusahaan China yang mereka nilai telah mengimpor “puluhan juta barel” minyak mentah Iran, yang mengakibatkan penerimaan miliaran dolar AS bagi Teheran.
Sanksi terbaru ini menyusul kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran tanpa ada resolusi permanen pascakonflik akibat agresi AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Selain menerapkan beragam sanksi, AS juga memblokade Iran sehingga Teheran tak bisa mengekspor minyak mereka. Presiden Donald Trump menggambarkan penyitaan kapal-kapal Iran oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz sebagai “bisnis yang sangat menguntungkan,” dan membanggakan. Washington telah mengambil alih kargo dan minyak Iran sebagai bagian dari blokadenya.
“Kami mengambil alih kargo. Mengambil alih minyak, bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut, tapi kami tidak sedang main-main,” kata Trump dalam sebuah acara di negara bagian Florida, AS, Jumat.

Soal blokade, Trump berargumen bahwa Iran telah menggunakan, “Selat Hormuz sebagai senjata selama bertahun-tahun, mereka mengatakan akan menutupnya. Jadi, mereka menutupnya, lalu saya menutupnya untuk kapal mereka.”
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, yang menyebabkan kerusakan dan jatuhnya korban sipil. Serangan tersebut bahkan membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas, dan Trump memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi waktu kepada Iran dalam mengajukan “proposal terpadu.”
Peningkatan ketegangan akibat serbuan AS-Israel terhadap Iran itu hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Peningkatan ketegangan itu mendorong kenaikan harga bahan bakar di banyak negara di dunia.






