Hubungan Israel dan UEA: Kedekatan yang Tersembunyi di Tengah Perang Iran
Hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali menjadi sorotan setelah muncul berbagai laporan yang menyebut keduanya diam-diam semakin mempererat kerja sama di berbagai bidang strategis. Meski di depan publik pemerintah UEA terlihat menjaga jarak dan cenderung berhati-hati dalam menunjukkan kedekatan dengan Israel, komunikasi serta koordinasi kedua negara disebut tetap berjalan intensif di belakang layar.
Situasi tersebut terjadi di tengah memanasnya konflik kawasan Timur Tengah yang memicu tekanan politik besar terhadap negara-negara Arab, termasuk UEA. Langkah Abu Dhabi menjaga citra di hadapan publik dinilai sebagai upaya meredam kritik masyarakat Arab yang masih menaruh perhatian besar terhadap isu Palestina dan perang di Gaza.
Di sisi lain, hubungan diplomatik serta kepentingan ekonomi dan keamanan antara UEA dan Israel disebut sulit dipisahkan setelah normalisasi hubungan melalui Kesepakatan Abraham beberapa tahun lalu. Sejumlah pengamat menilai UEA kini berada dalam posisi rumit karena harus menyeimbangkan kepentingan geopolitik dengan tekanan opini publik regional yang terus berkembang.
Walau tidak lagi terlalu terbuka menunjukkan kedekatan seperti sebelumnya, berbagai kerja sama strategis antara kedua negara diyakini masih terus berlangsung secara aktif. Bahkan, muncul dugaan bahwa komunikasi tingkat tinggi tetap dilakukan secara tertutup demi menjaga stabilitas hubungan tanpa memicu reaksi keras dari masyarakat internasional maupun negara-negara Arab lainnya.
Kondisi ini membuat hubungan UEA dan Israel dinilai memasuki fase baru: tetap dekat secara kepentingan, namun lebih hati-hati dalam menampilkan kedekapan tersebut di depan publik.
Kunjungan Netanyahu ke UEA Dibantah, Tapi Koordinasi Tetap Berjalan
Menurut laporan The Wall Street Journal, hubungan antara Israel dan UEA disebut semakin erat di tengah perang melawan Iran. Israel bahkan disebut mengerahkan pasukan dan sistem pertahanan rudal ke negara Teluk itu untuk membantu melindungi UEA dari serangan Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim melakukan kunjungan rahasia ke UEA. Namun, pemerintah UEA langsung membantah klaim tersebut. Netanyahu mengaku bertemu Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Pernyataan itu menjadi pertama kalinya pertemuan kedua pemimpin dipublikasikan. Namun hanya beberapa jam kemudian, Kementerian Luar Negeri UEA langsung membantah laporan tersebut.
“Uni Emirat Arab membantah laporan yang beredar mengenai dugaan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke UEA, atau penerimaan delegasi militer Israel di negara itu,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Koordinasi Keamanan Israel-UEA Semakin Erat
Meski membantah kunjungan Netanyahu, The Wall Street Journal menyebut Israel dan UEA sebenarnya telah menjalin koordinasi erat selama perang Iran berlangsung. Kantor Netanyahu bahkan menyebut kunjungan tersebut menghasilkan “terobosan bersejarah” dalam hubungan bilateral. Pernyataan itu diduga merujuk pada pengerahan sistem pertahanan rudal Iron Dome di luar wilayah Israel dan Amerika Serikat untuk pertama kalinya.
Badan intelijen Mossad Israel juga dilaporkan beberapa kali mengunjungi UEA selama kampanye pengeboman Iran untuk mengoordinasikan operasi. Media publik Israel bahkan melaporkan kepala badan keamanan Shin Bet diam-diam mengunjungi UEA dalam beberapa bulan terakhir.
Yoel Guzansky, peneliti senior di Institute for National Security Studies di Tel Aviv, mengatakan, hubungan Israel dan UEA sebenarnya merupakan yang paling dekat dibanding negara Arab lain. “Hubungan antara Israel dan UEA adalah hubungan terbaik yang pernah dimiliki Israel dengan negara Arab mana pun,” katanya.
Namun ia menambahkan, “Kami juga melihat bahwa bahkan hubungan ini pun memiliki batas.”
UEA Tak Ingin Terlihat Dekat dengan Netanyahu
Meski demikian, Netanyahu dipandang negatif oleh banyak negara kawasan setelah perang Gaza, pendudukan wilayah di Lebanon selatan dan Suriah selatan, serta pembunuhan sejumlah pemimpin militan di kawasan. HA Hellyer, pakar geopolitik Timur Tengah di Royal United Services Institute for Defence and Security Studies, mengatakan, Netanyahu memiliki citra buruk di kawasan.
“Netanyahu secara pribadi dipandang sangat buruk oleh seluruh kawasan sebagai akibat perang Gaza, dan ada surat perintah penangkapan terhadap dirinya dari Mahkamah Pidana Internasional atas kejahatan perang,” ujarnya.
Oleh karena itu, menurut sumber yang dekat dengan pejabat UEA, Abu Dhabi tidak ingin negaranya dijadikan alat politik domestik Israel menjelang pemilu yang akan dihadapi Netanyahu tahun ini. Analis juga menilai UEA sebenarnya ingin hubungan dan koordinasi dengan Israel tetap berlangsung secara diam-diam tanpa dipublikasikan secara luas.
Iran Mengkritik Sikap UEA yang Disebut Memihak AS dan Israel
Ketegangan politik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran secara terbuka melontarkan kecaman keras terhadap Uni Emirat Arab (UEA). Teheran menuding UEA telah berpihak kepada Amerika Serikat dan Israel dalam konflik perang yang terus berkecamuk dan menelan korban di berbagai wilayah strategis.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menyebut UEA sebagai “mitra aktif” dalam agresi yang dilakukan terhadap negaranya. Pernyataan tersebut memicu perhatian internasional karena hubungan Iran dan negara-negara Teluk sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda mereda lewat jalur diplomasi regional.
Namun situasi berubah drastis setelah muncul dugaan adanya koordinasi politik dan keamanan antara UEA, Amerika Serikat, dan Israel di tengah perang yang memanas. Iran juga menyoroti kabar mengenai dugaan pertemuan rahasia Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Meski pihak Abu Dhabi membantah tudingan tersebut, Iran tetap menilai UEA telah mengambil posisi yang merugikan Teheran dalam konflik kawasan. Situasi ini dikhawatirkan semakin memperbesar risiko eskalasi perang di Timur Tengah, terutama karena kawasan Teluk memiliki peran vital dalam jalur energi dan keamanan global. Di tengah meningkatnya saling tuding antarnegara, dunia internasional kini menanti apakah konflik diplomatik Iran dan UEA akan berkembang menjadi ketegangan regional yang lebih luas.






