Josepha Alexandra dan Tawaran Beasiswa ke China yang Menimbulkan Kontroversi
Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak, kini menjadi sorotan publik setelah mendapatkan tawaran beasiswa kuliah ke China. Tawaran ini muncul setelah ia viral karena keberaniannya memprotes keputusan juri dalam final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat.
Pada acara tersebut, jawaban Josepha Alexandra mengenai mekanisme pemilihan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dinilai salah oleh dua juri, yakni Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita Widya Budi dan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR Indri Wahyuni. Keputusan itu kemudian diperkuat oleh pembawa acara Shindy Lutfiana. Peristiwa ini akhirnya menarik perhatian luas dari publik hingga pejabat negara.
Salah satu yang memberikan apresiasi adalah anggota MPR RI Rifqinizamy Karsayuda. Ia menawarkan beasiswa kuliah gratis ke China untuk Josepha Alexandra. “Kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China,” ujarnya. Selain itu, ia juga menjanjikan pekerjaan kepada Josepha Alexandra setelah lulus kuliah nanti. “Nanti begitu selesai SMA, Josepha akan diberikan beasiswa sekolah kuliah gratis di China dan nanti akan ada pemberian pekerjaan langsung dari berbagai perusahaan multinasional untuk Josepha kalau sudah lulus dari China,” katanya.
Namun, tawaran tersebut justru memicu kecurigaan dari konten kreator TikTok Bima Yudho. Dalam unggahannya, ia mengaku melihat adanya kejanggalan di balik pemberian beasiswa tersebut. Ia bahkan menyarankan Josepha Alexandra untuk berhati-hati dan tidak langsung menerima tawaran tersebut. “Kalau kata gua hati-hati jangan langsung lu ambil atau jangan lu ambil,” katanya.
Menurut Bima Yudho, penerimaan beasiswa dari pihak MPR dikhawatirkan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kepentingan tertentu. “Karena ibaratnya kalau lu ambil beasiswa ini lu bikin perjanjian dengan iblis, dengan setan, dengan dajjal karena yang ngasih beasiswa ke lu juga orang dari MPR,” katanya. Ia juga menilai tawaran beasiswa tersebut diduga menjadi bagian dari strategi komunikasi untuk meredam polemik yang sedang viral terkait LCC Empat Pilar MPR RI. “Yang mana kita tahu bahwa agenda ini itu untuk memanage communication crisis yang ada di Lomba Cerdas Cermat MPR,” katanya.
Bima Yudho menduga langkah cepat pemberian beasiswa dilakukan agar persoalan kesalahan juri tidak semakin melebar ke isu lain. “Dan di Indonesia tuh kalau ada masalah satu di government bakal kemana-mana jadi mereka buru-buru ini cepat-cepat,” katanya. Selain itu, ia mempertanyakan alasan hanya Josepha Alexandra yang diberikan beasiswa. Padahal dalam kompetisi tersebut, Josepha Alexandra tergabung dalam satu regu bersama siswa lain dari SMAN 1 Pontianak. “Dan yang dikasih beasiswa cuma lu lagi, temen lu gak dapat, terus beasiswanya menurut gua agak janggal ke China,” katanya.
Bima Yudho juga menilai bidang pendidikan di China belum tentu sesuai dengan minat Josepha Alexandra. Ia menduga Josepha Alexandra lebih cocok menempuh pendidikan di bidang komunikasi, politik, atau seni di negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Australia. “Gua yakin anak kayak lu yang udah ikut cerdas cermat pasti tertariknya ke art, komunikasi, politik yang mana China gak bagus untuk bidang ini. Kalau untuk art, komunikasi mending langsung ke US, UK, Australia. Kenapa ke China ? karena murah, budget mereka punya cuma segini,” katanya.
Tak hanya soal beasiswa, Bima Yudho juga menyoroti janji pekerjaan yang diberikan kepada Josepha Alexandra setelah lulus kuliah nanti. Menurutnya, janji tersebut terasa janggal karena Josepha Alexandra sendiri belum menentukan bidang yang ingin digelutinya di masa depan. “Dan lu dijanjiin dapat kerja setelah lulus, kerja apa dulu pak bu tanya. Toh lu juga belum nemu interest lu apa langsung dijanjiin kerja, kerja jadi buzzer ? Hati-hati lho ini long game lho,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Bima Yudho menyarankan agar Josepha Alexandra mencari jalur beasiswa secara mandiri melalui pemerintah negara tujuan atau langsung dari universitas yang dituju. “Mending kalau kata gua cari eksternal beasiswa dari negara tujuannya langsung, goverment atau dari kampusnya langsung. Semangat Josepha jangan mau dijadikan alat politik,” katanya.






