Perjalanan Menemukan Identitas sebagai Travel Content Creator
Media sosial telah menjadi ruang yang sangat luas bagi anak muda untuk berkembang, tidak hanya sebagai tempat hiburan tetapi juga sebagai wadah untuk membangun identitas, relasi, dan bahkan karier. Namun di balik konten-konten yang menarik, ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Hal inilah yang dialami oleh Imaniah atau yang akrab disapa Ima.
Ia lahir di Perbaungan pada 15 Desember 1999. Seorang lulusan UINSU dengan hobi traveling, membaca buku, dan menonton. Awalnya, perjalanan kariernya di media sosial tidak langsung menuju dunia traveling seperti sekarang. Ia mulai aktif membuat konten pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 berlangsung. Saat banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Ima memulai langkahnya dengan membuat konten bertema beauty.
“Awalnya aku membuat konten makeup dan lipsync karena suka dunia beauty. Tapi lama-lama aku merasa menjadi beauty creator membutuhkan effort dan waktu yang cukup besar,” ujarnya. Pada masa itu, ia merasa ingin mengeksplor banyak hal lain yang lebih dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Perjalanan tersebut kemudian membawanya mencoba berbagai jenis konten lain, mulai dari motivasi hingga edukasi seperti tips mendapatkan beasiswa, public speaking, cara menjadi MC, bagaimana perempuan membawa diri, sampai penggunaan media sosial secara bijak.
Ubah Dokumentasi Pribadi Jadi Konten
Namun semakin banyak mencoba, semakin ia merasa ada sesuatu yang belum benar-benar ditemukan. Pada tahun 2023, konten traveling yang sebelumnya hanya jadi dokumentasi pribadi mulai ia seriuskan. Responsnya cukup baik. Dari situ Ima mulai menyadari bahwa traveling bukan sekadar hobi atau dokumentasi perjalanan. Ia menemukan sesuatu yang lebih besar, yakni dirinya sendiri.
“Setelah mencoba beberapa niche seperti beauty dan motivasi, aku sadar traveling adalah hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hariku dan paling aku enjoy jalani. Saat traveling dan menceritakan perjalanan lewat konten rasanya seperti menemukan diriku sendiri,” ujarnya. Bagi Ima, setiap perjalanan bukan hanya soal mendatangi tempat baru, tapi juga proses mengenal hidup, mengenal orang lain, sekaligus mengenal dirinya sendiri.
Kecintaannya terhadap traveling sebenarnya sudah muncul sejak duduk di bangku SMA. Saat itu ia aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan komunitas yang membuatnya sering mengunjungi berbagai tempat. Namun untuk menjadi travel creator secara serius, langkah itu baru benar-benar dimulainya pada 2023.
Lingkungan Berpengaruh Besar
Dalam proses menemukan identitas tersebut, Ima juga menyadari satu hal penting, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Menurutnya, lingkungan yang saling mendukung dan bertumbuh bersama bukanlah sesuatu yang mudah ditemukan. Ia bahkan pernah mengalami pengalaman yang cukup menyakitkan hingga merasa dikhianati.
“Aku pernah melewati beberapa pengalaman yang membuat kecewa dan merasa dikhianati. Tapi dari situ aku belajar bahwa cara pandang seseorang terhadap hidup banyak dipengaruhi lingkungannya,” katanya. Ia percaya lingkungan yang positif, suportif, dan terbuka dapat memperluas cara berpikir seseorang. “Dari lingkungan seperti itu kita bisa ikut berkembang,” tambahnya.
Sebagai seorang travel creator, Ima memiliki ketertarikan khusus terhadap budaya dan kehidupan masyarakat lokal. Ketika datang ke tempat baru, ia tidak hanya mencari pemandangan indah untuk direkam. Ia lebih tertarik mempelajari budaya, bahasa, dan cara masyarakat menjaga nilai-nilai leluhur di tengah perkembangan zaman.
Pengalaman yang Membekas
Ada satu destinasi yang menurutnya sangat membekas dalam hidupnya, yakni Waerebo di Flores, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan ke desa adat tersebut bukan hanya menghadirkan pengalaman wisata biasa, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Tempat itu benar-benar mengubah cara pandangku tentang hidup,” katanya. Ia mengaku menemukan suasana kehidupan yang sederhana namun terasa utuh dan hangat. Masyarakat hidup dekat dengan alam, saling berbincang, bertani, dan menjalani hidup tanpa terburu-buru.
“Dari situ aku belajar bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu tentang hal besar atau kehidupan yang serba cepat, tapi tentang rasa cukup dan hubungan yang tulus dengan sekitar,” ujarnya.
Kehidupan Traveling yang Penuh Cobaan
Perjalanan traveling tidak selalu berjalan mulus. Ada pula pengalaman lucu sekaligus sulit yang sampai sekarang masih membekas dalam ingatannya. Salah satunya saat melakukan solo riding menuju Waerebo. Di tengah perjalanan, ia sempat mengalami kejadian yang tidak terduga.
“Aku pernah nyungsep di persawahan Lembor pakai motor sewaan sampai akhirnya harus mengganti rugi,” katanya sambil tertawa. Perjalanan tersebut semakin berkesan karena bertepatan dengan ulang tahunnya. Ia mengaku sengaja menyiapkan anggaran lebih besar untuk menikmati birthday trip tersebut. Namun kenyataannya biaya perjalanan justru membengkak akibat kejadian tak terduga.
“Karena itu birthday trip, awalnya aku memang tidak terlalu menekan budget. Tapi setelah kejadian itu budget-nya benar-benar over dari rencana awal,” katanya sambil tertawa. Selain itu ia juga pernah mengalami kejadian kena scam saat berada di Labuan Bajo. Meski demikian, pengalaman-pengalaman tersebut justru menjadi cerita yang kini terasa lucu ketika dikenang kembali.
Gaya Bercerita yang Unik
Dalam membuat konten, Ima memiliki gaya yang cukup khas. Ia membagi kontennya menjadi tiga bentuk utama. Pertama, konten singkat berdurasi sekitar 15–30 detik dengan konsep cinematic dan penjelasan cepat mengenai lokasi. Kedua, konten storytelling berdurasi sekitar satu sampai tiga menit yang lebih fokus pada pengalaman personal selama perjalanan. Ketiga, konten yang mengikuti tren atau tema viral agar tetap relevan dengan perkembangan media sosial.
Menariknya, gaya bercerita dan voice over miliknya perlahan mulai dikenal oleh banyak orang. Saat masih menjadi beauty creator, Ima sempat merasa kesulitan menemukan identitasnya karena persaingan yang begitu besar. Namun ketika beralih ke konten traveling, ia mulai lebih mengenali dirinya sendiri.
Kesempatan Baru dalam Perjalanan Karier
Dalam perjalanan kariernya, Ima juga memperoleh berbagai kesempatan baru. Ia pernah menjadi peserta Forum Indonesia Muda 25 jalur influencer, terpilih sebagai travel creator Tiket.com, serta menjadi pemateri di sejumlah kegiatan mengenai personal branding dan strategi media sosial. Bagi Ima, pengalaman mengikuti Forum Indonesia Muda menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan.
Di forum tersebut, ia bertemu banyak anak muda dari berbagai latar belakang yang memiliki semangat besar untuk membawa perubahan bagi Indonesia. “Aku sadar Indonesia tidak pernah kekurangan anak muda yang pintar, kritis, dan punya kepedulian tinggi terhadap negeri ini,” katanya.
Pesan untuk Generasi Muda
Di tengah perkembangan media sosial saat ini, Ima juga memiliki pesan khusus bagi generasi muda. Ia menilai kemampuan menjadi creator saat ini penting dipelajari siapa saja. “Bagikan apa pun yang ingin dibagikan selama membawa manfaat. Karena hari ini media sosial bukan cuma tempat hiburan, tapi juga ruang membangun peluang, relasi, bahkan personal branding,” ujarnya.
Ke depan, Ima memiliki mimpi besar yang ingin diwujudkannya. Alih-alih lebih tertarik mengejar destinasi luar negeri, daftar perjalanan impiannya justru lebih banyak berisi tempat-tempat di Indonesia. Ia ingin mengenal Indonesia lebih dekat sebelum mengenalkan negeri ini kepada dunia.
“Aku ingin menunjukkan bahwa Indonesia punya alam, budaya, dan cerita yang sangat indah untuk dikenal dunia. Semoga suatu hari nanti aku bisa membawa lebih banyak orang melihat Indonesia dari sudut yang lebih hangat dan bermakna lewat konten-konten yang aku buat,” tutupnya.







