Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan pembangunan proyek energi surya yang ambisius, yaitu pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) dan sistem penyimpanan energi (BESS) dengan kapasitas 33 GW. Proyek ini merupakan langkah awal dari rencana besar pemerintah dalam transisi energi nasional. Namun, tantangan-tantangan besar masih menghadang, mulai dari regulasi, kepastian investasi hingga kesiapan infrastruktur jaringan transmisi.
Persiapan Awal untuk Pembangunan PLTS dan BESS
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memulai persiapan tahap awal untuk proyek PLTS 100 GW. Salah satu hal yang menjadi fokus adalah identifikasi lahan yang dapat digunakan untuk pengembangan PLTS dan BESS. Dalam kerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), pihaknya telah memetakan sekitar 24.000 hektare lahan yang akan digunakan untuk proyek tersebut.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa pihaknya juga telah menentukan besaran kapasitas pembangkit untuk tahap awal. “Kapasitas awal yang direncanakan adalah 17 GW untuk PLTS dan 33 GW untuk BESS,” ujarnya. Pemerintah juga tengah menyusun rancangan peraturan presiden untuk mempercepat implementasi proyek ini, karena pembangunan skala besar melibatkan banyak kementerian dan lembaga terkait.
Regulasi dan Keberlanjutan Proyek
Menurut Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman, pengembangan PLTS dan BESS dalam skala besar konsisten dengan arah Kebijakan Energi Nasional (KEN). Kapasitas PLTS dan BESS yang dirancang pemerintah juga mempertimbangkan kebutuhan sistem kelistrikan nasional. Menurut Saleh, sistem penyimpanan energi menjadi bagian penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik, terutama karena sifat intermiten dari PLTS.
Selain itu, Saleh menekankan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada iklim investasi. Keterlibatan investor swasta menjadi faktor penting dalam mendukung realisasi proyek. Pemerintah perlu memastikan kemudahan investasi serta menciptakan skema tarif listrik yang menarik bagi investor.
Potensi Percepatan Pengembangan Industri Surya
Proyek PLTS dan BESS juga berpotensi menjadi momentum percepatan pengembangan industri surya nasional. Saleh menegaskan bahwa industri dalam negeri perlu segera diperkuat mengingat pasar yang akan tercipta cukup besar. “Industri dalam negeri dari hulu ke hilir PLTS harus tumbuh lebih cepat karena sudah ada captive market 17 GW dari PLN,” katanya.
Managing Director Energy Shift Indonesia Putra Adhiguna menilai bahwa kapasitas awal yang direncanakan pemerintah masih masuk akal sebagai langkah awal. “Ini cukup realistis sebagai langkah awal pembuktian,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa kombinasi kapasitas PLTS dan BESS yang direncanakan pemerintah tergolong lazim dalam pengembangan energi terbarukan modern. Skema ini menunjukkan upaya pemerintah untuk memastikan listrik yang dihasilkan PLTS tetap dapat dimanfaatkan saat produksi surya menurun.
Tantangan Investasi dan Risiko Ekonomi
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa manfaat paling nyata dari proyek PLTS tahap awal berada pada sisi fiskal dan pengurangan konsumsi bahan bakar fosil di sektor kelistrikan. Saat ini, PLN masih mengonsumsi sekitar 4 juta kiloliter bahan bakar minyak (BBM) setiap tahun untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Penggantian sebagian kapasitas pembangkit diesel dengan kombinasi PLTS dan BESS berpotensi menghasilkan penghematan yang signifikan.
Namun, Yusuf mengingatkan bahwa manfaat tersebut hanya dapat direalisasikan jika pemerintah mampu menghadirkan kerangka pengadaan yang jelas dan memberikan kepastian bagi investor. Selain tantangan regulasi, Yusuf menilai kapasitas kelembagaan juga menjadi faktor krusial. Berbagai target ambisius di sektor energi seringkali tidak diikuti kemampuan eksekusi yang memadai. Oleh karena itu, keberhasilan proyek ini juga ditentukan oleh kemampuan institusi untuk mengimplementasikannya.
Data Kapasitas PLTS di Indonesia
Kapasitas pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan signifikan terjadi sejak 2023 seiring dorongan transisi energi. Tren ini menunjukkan akselerasi pengembangan energi bersih.
| Tahun | Kapasitas (MW) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| 2019 | 142,7 | – |
| 2020 | 170,7 | 19,6% |
| 2021 | 207,7 | 21,7% |
| 2022 | 292,3 | 40,7% |
| 2023 | 600,0 | 105,2% |
| 2024 | 909,4 | 51,6% |
| 2025 | 1494,1 | 64,3% |







