Kehidupan Seorang Ayah yang Berjuang dengan Bekicot Goreng
Di tengah keramaian Alun-alun Karanganyar, Wijiyanto (44) menjajakan bekicot goreng setiap malam. Usaha ini telah menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya selama bertahun-tahun. Dari usaha kecil ini, ia mampu menyekolahkan dua anaknya dan merenovasi rumah tempat tinggal keluarganya.
Wijiyanto mengaku bahwa awalnya tidak mudah untuk menjual bekicot sebagai hidangan. Masyarakat pada masa itu masih menganggap bekicot sebagai hewan yang menjijikkan dan tidak layak dikonsumsi. Namun, ia memutuskan untuk mencoba sendiri dan menemukan bahwa rasanya cukup enak.
“Awalnya dulu belum ada yang jual itu jadi hidangan, dulu kata orang, bekicot menjijikan setelah saya coba masak dan rasakan sendiri, ternyata rasanya enak juga,” ujarnya.
Proses Pengolahan yang Rumit
Untuk membuat bekicot layak disajikan, Wijiyanto melakukan beberapa tahap perebusan dan pencucian. Ia merebus daging bekicot selama satu jam, kemudian memisahkan kepala dan isi perut. Setelah itu, daging bekicot dibilas sebanyak 5–7 kali untuk memastikan kebersihannya.
“Awalnya yang beku, itu kita rebus dulu sekitar 1 jam, setelah itu kita masukan ke saringan (ember bolong-bolong) setelah itu dilakukan pembersihan kepala dan kotoran, setelah itu dilakukan perebusan lagi untuk mengempukkan dagingnya sekira 1 jam,” jelasnya.
Setelah bersih, daging bekicot dimasak menggunakan racikan bumbu khas seperti cabai, garam, kemiri, dan bawang putih yang diulek hingga menyatu. Bekicot goreng ini memiliki rasa yang khas dan tahan lama, sehingga banyak diminati oleh pelanggan.
Perjalanan Awal yang Penuh Tantangan
Pada awal berjualan, Wijiyanto menghadapi banyak tantangan. Banyak masyarakat yang enggan mencoba bekicot karena dianggap tidak lazim. Bahkan, ia sering diejek saat menjual di kawasan desa.
“Dulu masih sulit menjual karena masih mengira hidangan daging bekicot bukan makanan yang lazim dikonsumsi manusia dan banyak yang mengejek, meskipun begitu, saya tidak putus asa tetap berjualan,” katanya.
Usaha keliling desa akhirnya berkembang hingga ia bisa mangkal di kawasan Alun-alun Karanganyar. Meski sempat merasa putus asa di awal, ia tetap bertahan demi keluarganya.

Keberhasilan yang Mengubah Hidup
Kini, dagangannya sangat diminati oleh pelanggan. Bekicot goreng yang dijualnya hampir selalu habis sebelum pukul 21.00 WIB. “Kalau habis langsung pulang, kalau gak langsung pulang banyak yang tanya ke saya terus, bahkan ada yang cari sampai ke rumah,” ujarnya.
Selain bekicot goreng, Wijiyanto juga menjual rica keong serta intip titipan keluarganya. Harga jualnya pun masih terjangkau, mulai dari Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per bungkus.
Dalam sehari, ia bisa mengolah sekitar 10 hingga 15 kilogram bekicot dengan omzet kotor mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari. Hasil ini membantu Wijiyanto membiayai pendidikan anak-anaknya sekaligus memperbaiki rumah tempat tinggal keluarganya.
“Hasilnya Alhamdulillah, bisa untuk sekolah anak, memperbaiki rumah sedikit-sedikit. Di sini saya tinggal bersama istri dua anak dan ibu saya,” ujar Wijiyanto.







