Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Terdampak Gempa di Kepulauan Sangihe
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 07.41 WITA mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gempa tersebut menimbulkan kepanikan di kalangan warga, sehingga banyak dari mereka memilih untuk mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman. Salah satu tempat pengungsian sementara adalah Gedung Kantor Bupati Kepulauan Sangihe, di mana ratusan warga, termasuk anak-anak dan balita, berkumpul.
Di tengah situasi darurat ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turun tangan dengan memberikan bantuan makanan bagi anak-anak sekolah dan bubur bergizi untuk balita. Aksi kemanusiaan ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak gempa. Bantuan tersebut disambut baik oleh para orang tua yang mengungsi bersama keluarga mereka.
Banyak warga yang belum sempat menyiapkan makanan karena fokus menyelamatkan diri saat gempa terjadi. “Anak-anak belum sempat makan pagi karena kami langsung mencari tempat yang aman. Bantuan makanan dan bubur untuk balita ini sangat membantu kami,” ujar Lan Masye Ponto, salah seorang warga yang berada di lokasi pengungsian.
Pembagian makanan dilakukan secara tertib dengan memprioritaskan anak-anak, balita, serta kelompok rentan lainnya. Petugas SPPG bekerja cepat untuk menyiapkan makanan siap santap dan bubur bergizi yang diberikan kepada warga. Kehadiran SPPG di lokasi menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak situasi darurat gempa.
Hingga siang hari, sejumlah warga masih bertahan di area pengungsian sementara sambil menunggu informasi lebih lanjut terkait kondisi pascagempa dan status keamanan wilayah dari pemerintah daerah serta instansi terkait.
Peringatan Dini Tsunami Berakhir, BMKG Minta Warga Tetap Waspada
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peringatan dini tsunami yang sempat diberlakukan akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 telah resmi berakhir. Gempa kuat tersebut terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 07.41 WITA. Berdasarkan data BMKG, gempa berpusat di wilayah Filipina dengan kedalaman sekitar 105 kilometer dan getarannya dirasakan hingga Kabupaten Kepulauan Sangihe serta sejumlah daerah lainnya di Sulawesi Utara.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Naha Kepulauan Sangihe, Astrid Yesica Lasut, menjelaskan bahwa masyarakat kini dapat kembali beraktivitas seperti biasa setelah status peringatan dini tsunami dicabut. “Dampak peringatan dini tsunami ini tidak hanya untuk Kabupaten Kepulauan Sangihe, tetapi juga menjadi perhatian bagi wilayah kabupaten dan kota lainnya di Sulawesi Utara. Namun untuk peringatan dini tsunami saat ini sudah dinyatakan berakhir, sehingga masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan wilayah sekitarnya bisa kembali melakukan aktivitas seperti semula,” ujarnya dalam wawancara dengan Tribun Manado melalui WhatsApp, Senin (8/6/2026).
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir pantai maupun daerah rawan gempa bumi. “Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa bumi maupun tsunami, seperti pesisir pantai dan sekitarnya, dapat kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas seperti biasa. Akan tetapi tetap selalu waspada dan siaga terhadap informasi resmi dari BMKG,” jelas Astrid.
Astrid menjelaskan potensi gempa susulan masih mungkin terjadi sehingga masyarakat diminta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. “Potensi gempa bumi susulan masih ada. Kami terus melakukan monitoring dan pemantauan untuk mengetahui perkembangan aktivitas kegempaan, termasuk apakah gempa susulan yang terjadi nantinya berpotensi tsunami atau tidak,” tambahnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar hanya mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan pemerintah daerah serta tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Hingga berita ini diturunkan, aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe mulai berangsur normal, meski sebagian warga masih memilih berada di lokasi yang dianggap aman sambil memantau perkembangan situasi.






