Peningkatan Pendapatan Retribusi Pasar di Kota Blitar
Realisasi pendapatan asli daerah (PAD) retribusi pasar di Kota Blitar hingga Mei 2026 masih mencapai 33,97 persen atau sekitar Rp 735 juta dari target yang ditetapkan sebesar Rp 2,1 miliar. Untuk meningkatkan capaian tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar terus melakukan berbagai inovasi.
Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto, menjelaskan bahwa beberapa langkah dilakukan untuk meningkatkan pendapatan retribusi pasar. Salah satunya adalah dengan menggandeng investor untuk menyelenggarakan even yang memanfaatkan area pasar. Contohnya, saat ini Disperindag bekerja sama dengan pihak ketiga untuk menggelar bazar di halaman Pasar Legi. Selain itu, juga diadakan lomba mewarna untuk anak-anak TK se-Kota Blitar di lantai 2 Pasar Legi.
“Harapan kami, orang tua yang mengantar anaknya dan lewat kios pasar akan tertarik untuk belanja,” ujarnya.
Selain itu, Disperindag juga mengadakan kegiatan outbond bagi anak-anak TK Pembina belanja di Pasar PON setiap minggu. Di Pasar Wage, Disperindag menggelar panggung musik tiap minggu untuk meramaikan suasana pasar.
Revitalisasi Pasar untuk Menarik Minat Masyarakat
Selain mengadakan even, Disperindag juga melakukan revitalisasi beberapa pasar agar lebih menarik minat masyarakat. Misalnya, rencana revitalisasi lantai 2 Pasar Legi tahun ini diharapkan bisa menarik minat investor untuk berjualan di lokasi tersebut. Begitu pula dengan rencana revitalisasi pasar kuliner yang diharapkan dapat mengubah tampilan menjadi lebih menarik dan benar-benar menjadi pusat kuliner di Kota Blitar.
Parminto juga menjelaskan bahwa Disperindag memberikan pelatihan kepada pedagang agar bisa berjualan sesuai tren saat ini, seperti jualan secara online, baik live maupun pembayaran digital.
Tantangan dalam Mencapai Target PAD
Meski ada upaya peningkatan, realisasi pendapatan retribusi pasar pada 2025 tidak memenuhi target. Realisasi pada tahun lalu mencapai 92,08 persen atau sekitar Rp 1,98 miliar dari target sebesar Rp 2,15 miliar. Parminto menjelaskan beberapa faktor penyebabnya.
Salah satu faktornya adalah pasar tradisional mulai sepi pembeli. Hal ini terjadi hampir di semua pasar tradisional di daerah lain karena harus bersaing dengan jual beli online dan toko waralaba. Selain itu, kios maupun los sebagai obyek retribusi mulai kosong atau tutup berjualan karena kondisi pasar yang sepi.
Menurut Parminto, minat masyarakat belanja langsung ke pasar tradisional jauh menurun dibandingkan dulu. “Sekarang masyarakat lebih senang belanja di bakul ethek yang langsung ke rumah, lewat online, dan ke warung yang tersedia lengkap dalam satu tempat,” katanya.
Upaya untuk Mencapai Target Tahun Ini
Parminto berharap dengan berbagai upaya yang dilakukan, realisasi pendapatan retribusi pasar bisa mencapai target tahun ini. Ia menilai, selain revitalisasi pasar dan pengadaan even, pelatihan pedagang juga sangat penting untuk adaptasi terhadap perubahan tren belanja masyarakat.
Dengan kombinasi inovasi dan strategi yang tepat, Disperindag berkomitmen untuk meningkatkan kinerja dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat serta daerah.







