Warga Bondowoso Mengeluhkan Pemadaman Listrik Bergilir
Pemadaman listrik yang terjadi secara bergilir di sejumlah wilayah Kabupaten Bondowoso telah menjadi keluhan warga setempat. Pemadaman ini terjadi hingga tiga kali dalam seminggu dengan durasi sekitar tiga jam per pemadaman. Hal ini menyebabkan berbagai gangguan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kesulitan mendapatkan air bersih dan mengganggu proses pengisian daya perangkat elektronik.
Pengaruh pada Usaha Kecil
Nur Alifah Bahsa, penjual ayam dan es kul-kul di Desa Sumbersalam, Kecamatan Tenggarang, mengaku rumahnya sudah mengalami tiga kali pemadaman dalam sepekan terakhir. Meskipun rumahnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari gardu induk listrik, pemadaman sering terjadi tanpa pemberitahuan.
“Tempo hari itu jam 1 siang mati, biasanya baru nyala pas sudah senja,” ujarnya. Ia khawatir dengan usaha rumahan yang ia jalani, mulai dari penjualan daging ayam hingga es kul-kul. Jika pemadaman berlangsung lama, daging ayam di freezer bisa rusak dan es kul-kul juga tidak bisa disimpan dengan baik.
Senada dengan Nur, Yusi Effendi, pelaku usaha ayam potong asal Desa Grujugan, juga mengeluhkan kondisi ini. Menurutnya, usahanya sangat bergantung pada pasokan listrik. Daging ayam yang disimpan di freezer berisiko rusak jika pemadaman berlangsung lama.
“Kalau lama kualitasnya rusak, sehingga merugikan,” ujarnya. Selain itu, proses pencabutan bulu ayam yang biasanya menggunakan mesin listrik terpaksa dilakukan secara manual saat listrik padam, sehingga membutuhkan waktu lebih lama.
Masalah pada Sistem Air Bersih
Muhtar, warga Desa Sumbersalam, juga mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi tiga kali dalam seminggu. Menurutnya, sumber air di rumahnya menggunakan sumur bor yang ditarik menggunakan pompa air listrik. Saat listrik padam, ia kesulitan mendapatkan air bersih.
“Pulang kerja mau isi daya baterai (charge) lampu padam. Kalau di perumahan itu kan tandonnya kecil ya, kadang nahan kencing juga kalau tiba-tiba air mati,” terangnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemadaman ini terjadi secara bergilir. Beberapa kerabat dan temannya juga mengeluhkan hal serupa, seperti pengakuan temannya di Desa Kembang, Kecamatan Bondowoso, dan Desa Taman, Kecamatan Grujugan.
Penjelasan dari PLN ULP Bondowoso
Dikonfirmasi terpisah, Manajer ULP PLN Bondowoso, Daniel Pramana Putra, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Menurutnya, pengaturan beban dilakukan sebagai langkah mitigasi sementara untuk menjaga sistem kelistrikan tetap aman, andal, dan stabil selama proses pemulihan berlangsung.
“PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa wilayah untuk menjaga keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan,” kata Daniel.
Mengenai informasi blackout yang beredar di masyarakat serta isu menipisnya stok batu bara yang ramai diperbincangkan, Daniel menegaskan hal tersebut bukan menjadi kewenangan PLN ULP Bondowoso.
“Sehingga kami belum dapat memberikan informasi terkait hal tersebut,” katanya.
PLN juga memastikan seluruh keluhan masyarakat diakomodasi melalui aplikasi PLN Mobile maupun Contact Center 123. Sementara itu, tim operasional dan teknisi disiagakan secara bergantian selama 24 jam untuk menjaga keandalan pasokan listrik.
Kapan Pemadaman Akan Berakhir?
Mengenai sampai kapan pemadaman bergilir diberlakukan, Daniel menyebut kebijakan tersebut merupakan kewenangan kantor induk. PLN ULP Bondowoso hanya bertugas melaksanakan pengaturan yang telah ditetapkan.
“Untuk pemadaman, diatur oleh kantor induk dan PLN Bondowoso hanya sebagai pelaksana,” pungkasnya.







