Kondisi Publik AS Terhadap Perang Iran
Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika Serikat (AS) melihat perang dengan Iran lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional. Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap perang tersebut tetap rendah, dan ini menjadi isu yang semakin memengaruhi dinamika politik di dalam negeri.
Menurut jajak pendapat Critical Issues dari Universitas Maryland yang dirilis pada 4 Juni 2026, hanya 16 persen pemilih percaya bahwa AS telah memenangkan atau sedang memenangkan perang. Temuan ini menunjukkan bahwa klaim kemenangan yang sering disampaikan oleh Presiden Donald Trump belum diterima secara luas oleh masyarakat.
Lebih lanjut, survei tersebut menemukan bahwa sebagian besar responden, termasuk 33 persen pemilih Partai Republik, menilai perang lebih banyak membawa dampak negatif. Sementara itu, hanya 12 persen responden yang menilai perang memberi manfaat lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan publik terhadap konflik mulai berubah, terutama di kalangan pemilih Republik.
Perubahan Sikap Pemilih Republik
Profesor Shibley Telhami dari Universitas Maryland menyebut temuan ini sebagai titik balik penting. Ia menekankan bahwa sebagian pemilih Republik mulai menganggap perang merugikan kepentingan AS. “Yang benar-benar jelas adalah bahwa hanya sedikit warga Amerika yang berpikir bahwa perang dengan Iran ini melayani kepentingan Amerika,” katanya.
Telhami juga menyebut perubahan sikap sebagian pemilih Republik sebagai perkembangan penting. “Penilaian bahwa perang kini menjadi lebih merugikan kepentingan Amerika di kalangan Partai Republik merupakan titik balik penting karena tampaknya berlaku bagi anggota Partai Republik yang lebih tua maupun yang lebih muda,” ujarnya. Ia bahkan memprediksi bahwa hal ini bisa menjadi pertanda buruk bagi Trump di masa mendatang.
Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Perang antara AS dan Iran telah memicu gangguan di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur pelayaran energi terpenting di dunia ini kini terganggu, sehingga memicu lonjakan harga minyak dan gas global. Meski gencatan senjata tercapai pada 6 April, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya berakhir.
Menurut jajak pendapat Institute for Global Affairs (IGA), 79 persen pemilih AS mengatakan perang telah memengaruhi biaya hidup mereka. Temuan ini mencakup mayoritas pemilih Republik, Demokrat, maupun independen. “Ini sudah menjadi masalah ekonomi sekarang,” kata Telhami. “Ini bukan lagi sekadar latihan militer di luar negeri. Ini bukan lagi hanya sesuatu yang terjadi di luar negeri.”
Trump Tetap Memegang Kebijakan Militer
Di tengah meningkatnya kritik terhadap perang, Trump tetap mempertahankan kebijakannya dan menegaskan bahwa tujuan utama konflik adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. “Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun,” katanya bulan lalu. “Saya hanya memikirkan satu hal: Kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja. Hanya itu yang memotivasi saya.”
Trump juga menolak anggapan bahwa strategi perangnya dipengaruhi pertimbangan politik menjelang pemilu. “Saya tidak peduli dengan pemilu paruh waktu,” ujarnya kepada wartawan. Namun, Telhami menilai tekanan politik dan ekonomi tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan oleh Gedung Putih. “Dia peduli karena banyak alasan, salah satunya adalah warisan, khususnya di bidang ekonomi,” katanya.
Dukungan untuk Perang Tetap Lemah
Direktur Program Institute for Global Affairs, Jonathan Guyer, mengatakan perang Iran tetap menjadi salah satu konflik luar negeri yang paling tidak populer di kalangan pemilih Amerika. “Ini hanyalah perang yang sangat tidak populer,” katanya. Menurut dia, penolakan publik tidak hanya dipengaruhi persoalan ekonomi, tetapi juga kelelahan masyarakat terhadap keterlibatan militer AS di Timur Tengah.
Guyer menilai perang Iran juga berkaitan dengan meningkatnya kritik terhadap kebijakan luar negeri Washington, hubungan AS dengan Israel, dan besarnya anggaran pertahanan Amerika. “Ketidakpopuleran Israel, ketidakpopuleran perang Iran, ketidakpopuleran militerisme AS — semua ini memiliki banyak resonansi dan tampaknya benar-benar menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri penting bagi warga Amerika,” katanya.
Para analis menilai rendahnya dukungan publik terhadap perang Iran dapat menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik dalam beberapa bulan menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.







