Perjalanan Jurnalis Sumatera ke Chongqing: Melihat Kekuatan Teknologi dan Diplomasi Tiongkok
Di tengah perjalanan jurnalis dari Sumatera yang diundang oleh Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan, terlihat bahwa Tiongkok tidak hanya mengandalkan masjid, kawasan halal, atau dialog dengan masyarakat Muslim. Untuk memahami bagaimana negara ini menjadi kekuatan ekonomi global, mereka harus melihat lebih jauh: laboratorium, pusat riset, dan kawasan industri di Chongqing.
Chongqing, yang merupakan pusat ekonomi dan manufaktur di wilayah barat Tiongkok, menjadi tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Di sini, rombongan jurnalis diberikan kesempatan untuk melihat bagaimana inovasi dibangun sejak dari ruang-ruang penelitian. Dari sini, terlihat bahwa kemajuan Tiongkok tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui investasi panjang dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Global Research and Development (R&D) Center Changan Automobile, pusat penelitian dan pengembangan milik salah satu produsen otomotif terbesar di Tiongkok. Saat rombongan memasuki kompleks tersebut, hampir tidak terdengar suara bising mesin produksi. Ribuan insinyur bekerja di depan layar komputer, menguji perangkat lunak, menganalisis data, dan menyempurnakan berbagai teknologi yang akan digunakan oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Di tempat inilah masa depan industri otomotif Tiongkok sedang dibentuk. Dari laboratorium tersebut lahir berbagai kendaraan listrik, mobil hybrid, sistem mengemudi cerdas, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini menjadi arah baru perkembangan industri otomotif dunia.
Menurut Xiaoxia Jiang, Commentator Global R&D Center Changan Automobile, kendaraan masa depan tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat transportasi. Perkembangan teknologi telah mengubah mobil menjadi perangkat pintar yang mampu berkomunikasi dengan penggunanya, terus diperbarui melalui sistem digital, bahkan belajar dari perilaku pengemudi.
“Kami ingin membawa evolusi kendaraan dari sekadar mesin bergerak menjadi mobile robot yang mampu memahami penggunanya dan terus berkembang melalui teknologi,” kata Xiaoxia Jiang.
Visi tersebut bukan sekadar slogan. Changan saat ini didukung lebih dari 24.000 tenaga riset dan pengembangan, memiliki 44 pusat R&D, 20 perusahaan teknologi, serta lebih dari 200 laboratorium yang tersebar di berbagai negara. Besarnya investasi pada penelitian memperlihatkan bahwa persaingan industri modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi barang dalam jumlah besar. Yang menjadi pembeda justru kemampuan menghasilkan pengetahuan, menciptakan inovasi, dan mengubahnya menjadi teknologi yang memiliki nilai ekonomi.
Transformasi itu terlihat jelas di ruang pamer teknologi Changan. Kendaraan yang dipamerkan tidak hanya menawarkan efisiensi energi, tetapi juga dilengkapi sistem kecerdasan buatan, radar, kamera, sensor, serta perangkat lunak yang dapat diperbarui secara daring. Sebuah slogan besar yang terpampang di ruang pamer merangkum arah perubahan tersebut: “Drive the evolution from mobile machine to mobile robot”.
Namun, penggunaan AI di Chongqing tidak berhenti pada industri otomotif. Selama berada di kota tersebut, rombongan juga mengunjungi perusahaan robotika yang mengembangkan robot patroli untuk kawasan industri. Robot berkaki empat itu mampu melakukan inspeksi secara mandiri, mengenali lingkungan sekitar, mengumpulkan data, hingga membantu pengambilan keputusan secara otomatis.
Teknologi serupa diterapkan di Chongqing Sanfeng Environment Group, perusahaan yang mengolah sampah menjadi energi listrik. Di fasilitas itu, ribuan ton sampah yang masuk setiap hari dipantau menggunakan sistem berbasis AI sehingga proses pembakaran berlangsung lebih efisien, stabil, dan ramah lingkungan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan di Tiongkok bukan lagi sekadar konsep yang berkembang di ruang-ruang penelitian. Teknologi itu telah diterapkan dalam berbagai sektor untuk menyelesaikan persoalan nyata, mulai dari transportasi, manufaktur, keamanan kawasan industri, hingga pengelolaan lingkungan.
Kemajuan tersebut tentu tidak lahir dalam waktu singkat. Di balik berbagai inovasi yang terlihat, terdapat investasi besar pada penelitian, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia. Laboratorium, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah saling terhubung dalam membangun ekosistem inovasi. Hasil riset tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi produk yang digunakan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Teknologi dan Diplomasi
Melihat berbagai pusat riset dan perusahaan teknologi tersebut kemudian memunculkan satu pertanyaan. Mengapa Tiongkok mengundang wartawan dari Indonesia untuk menyaksikan semua itu secara langsung? Pertanyaan tersebut perlahan menemukan jawabannya sepanjang kunjungan ke Chongqing dan Beijing.
Di balik agenda mengunjungi laboratorium, kawasan industri, hingga lembaga media internasional, tersimpan pesan yang lebih besar. Tiongkok tampaknya tidak hanya ingin memperkenalkan kemajuan teknologi dan ekonominya, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih baik dengan masyarakat Indonesia.
Pilihan mengundang jurnalis dari Sumatera pun bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, ekonomi terbesar di kawasan ASEAN, sekaligus salah satu mitra dagang utama Tiongkok. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran internasional menjadikan hubungan kedua negara terus berkembang, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pendidikan, pariwisata, kebudayaan, dan komunikasi antarmasyarakat.
Wakil Konsul Jenderal Tiongkok di Medan, Yu Lei, mengatakan program kunjungan jurnalis dari Sumatera merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people exchange). Menurutnya, hubungan yang kuat tidak cukup dibangun oleh pemerintah maupun pelaku usaha. Masyarakat kedua negara juga perlu saling mengenal agar kerja sama yang terjalin memiliki fondasi yang lebih kokoh.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Xiang Fangqiang. Dalam pertemuan bersama rombongan jurnalis di Beijing, ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki arti strategis bagi Tiongkok.
Selain menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga dipandang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus menjadi mitra ekonomi yang terus berkembang. Karena itu, hubungan kedua negara perlu diperkuat tidak hanya melalui perdagangan dan investasi, tetapi juga pendidikan, media, kebudayaan, dan pertukaran masyarakat.
“Semakin banyak masyarakat kedua negara saling mengenal, semakin kuat pula hubungan Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya.
Komitmen tersebut juga terlihat ketika rombongan mengunjungi Western China International Communication Organization (WCICO) di Chongqing. Lembaga ini memproduksi berita, dokumenter, foto, video, dan berbagai konten digital dalam beragam bahasa untuk memperkenalkan Chongqing kepada masyarakat internasional.
Tidak hanya pembangunan industri dan investasi yang diperkenalkan, tetapi juga kebudayaan, pendidikan, pariwisata, inovasi, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa media dipandang sebagai salah satu mitra penting dalam memperkenalkan perkembangan Tiongkok kepada dunia.
Deputy General Manager WCICO, Sang Jian, mengatakan pihaknya berharap kerja sama dengan media Indonesia dapat terus diperluas agar informasi mengenai Chongqing semakin mudah diakses masyarakat Indonesia. “Kami berharap dapat bekerja sama dengan lebih banyak media Indonesia sehingga masyarakat Indonesia mengenal Chongqing secara lebih dekat,” kata Sang Jian.
Upaya tersebut juga diwujudkan melalui Belt and Road Journalists’ Station, sebuah program yang memberi kesempatan kepada wartawan dari berbagai negara mengunjungi pusat riset, perusahaan teknologi, perguruan tinggi, hingga berdialog langsung dengan pemerintah daerah dan pelaku industri.
Selama berada di Chongqing dan Beijing, terlihat bahwa pembangunan modern di Tiongkok tidak hanya bertumpu pada laboratorium, pabrik, atau kawasan industri. Negeri itu juga berupaya membangun kepercayaan melalui komunikasi yang lebih terbuka dengan masyarakat internasional. Teknologi dan diplomasi berjalan beriringan, saling melengkapi dalam memperkuat posisi Tiongkok di tengah persaingan global.
Namun, bagi Aceh, pelajaran terbesar dari Chongqing dan Beijing barangkali bukan semata-mata kecanggihan mobil listrik, robot, ataupun strategi diplomasi publik yang dijalankan Tiongkok. Di balik semua itu, tersimpan pertanyaan yang lebih dekat dengan kepentingan daerah ini: peluang apa yang sebenarnya dapat dimanfaatkan Aceh?







