Perimenopause dan ADHD: Apa yang Harus Diketahui
Perimenopause dan ADHD sama-sama dapat menyebabkan sulit fokus, mudah lupa, serta perubahan suasana hati sehingga sering sulit dibedakan. Perbedaan utamanya terletak pada kapan gejala mulai muncul. Ahli menekankan bahwa perempuan perlu mencatat pola gejala agar memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.
Pada awalnya, gejala tersebut mungkin tampak seperti kegagalan pribadi: lupa menghadiri janji, tidak mampu menyelesaikan email, tiba-tiba marah karena hal sepele, atau kelelahan yang membuat keputusan sederhana sekalipun terasa sangat berat. Bagi banyak perempuan di usia paruh baya, perubahan ini sering kali dianggap sebagai bagian dari perimenopause. Dalam beberapa kasus, anggapan itu memang benar.
Perubahan hormon dapat memengaruhi kualitas tidur, suasana hati, daya ingat, dan konsentrasi. Namun, bagi sebagian perempuan, masa perimenopause juga menjadi saat ketika gejala ADHD yang selama ini tersamarkan menjadi semakin sulit diabaikan. Akibatnya, semakin banyak perempuan yang bertanya-tanya: apakah ini perimenopause, ADHD, atau keduanya? Jawabannya penting karena penanganan yang tepat bergantung pada pemahaman terhadap penyebab gejala tersebut.
Mengapa ADHD dan Perimenopause Terlihat Sangat Mirip?
Keduanya dapat memengaruhi perhatian, daya ingat, tidur, dan suasana hati. Selain itu, fluktuasi hormon selama perimenopause dapat menimbulkan pola gejala yang menyerupai ADHD untuk sementara waktu. Sasha Hamdani, psikiater, pegiat edukasi ADHD, sekaligus penulis buku Self-Care for People with ADHD, menjelaskan bahwa ADHD sebenarnya lebih berkaitan dengan gangguan dalam mengatur fungsi otak daripada sekadar masalah perhatian. Karena itu, terdapat banyak kesamaan gejala antara ADHD dan perimenopause. Hubungan keduanya bukan hanya bersifat emosional atau perilaku, tetapi juga biologis.
Menurut Sandra Kooij, psikiater, profesor ADHD dewasa di Amsterdam University Medical Center, sekaligus salah satu pendiri Head Heart Hormones (H3) Network Foundation, estrogen dan dopamin bekerja sangat erat di dalam otak. Estrogen berperan dalam produksi dopamin sekaligus membantu memperlambat proses penguraiannya. Karena dopamin berfungsi mengatur fokus, motivasi, daya ingat, dan suasana hati, penurunan kadar estrogen dapat memberikan dampak yang cukup besar pada sebagian perempuan.
“Kami menduga perempuan dengan ADHD mengalami ‘pukulan ganda’ saat memasuki perimenopause, yakni kadar dopamin yang rendah atau tidak stabil akibat ADHD ditambah penurunan kadar estrogen,” ujar Kooij. Kondisi tersebut diduga membuat perempuan dengan ADHD mengalami gangguan kognitif dan perubahan suasana hati yang lebih berat selama perimenopause.
Dengan demikian, perimenopause tidak menyebabkan ADHD, tetapi dapat memperlihatkan gejala ADHD yang sebelumnya masih dapat disembunyikan atau dikendalikan.
Petunjuk Terbesar Ada pada Waktu Munculnya Gejala
Perbedaan paling jelas antara ADHD dan gangguan konsentrasi akibat perimenopause terletak pada kapan gejala mulai muncul. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang tanda-tandanya sudah muncul sejak masa kanak-kanak, meskipun sering kali tidak disadari, dianggap sepele, atau berhasil disamarkan. Sebaliknya, gangguan daya ingat dan konsentrasi akibat perimenopause biasanya baru muncul pada usia paruh baya bersamaan dengan gejala hormonal lainnya.
Menurut Kooij, perempuan dengan ADHD umumnya telah mengalami kesulitan berkonsentrasi dan mengingat sepanjang hidup mereka, lalu gejalanya memburuk saat memasuki perimenopause. Sementara itu, perempuan yang tidak memiliki ADHD biasanya baru pertama kali mengalami “brain fog”, mudah lupa, atau sulit berkonsentrasi selama masa transisi menuju menopause.
Hamdani juga menekankan bahwa gejala yang terus muncul selama bertahun-tahun di berbagai situasi—baik di tempat kerja, di rumah, dalam hubungan, maupun aktivitas sehari-hari—lebih mengarah pada ADHD, terutama jika terdapat riwayat keluarga atau pola lama berupa sulit fokus, tidak teratur, maupun kesulitan mengendalikan emosi.
Tanda-Tanda yang Mengarah ke ADHD
Kemungkinan ADHD lebih besar jika seseorang dapat menelusuri kesulitan serupa hingga bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun sebelumnya, meskipun selama ini masih mampu mengatasinya. Gejalanya dapat berupa kebiasaan menunda pekerjaan, kesulitan mengatur waktu, sering kehilangan barang, sulit menyelesaikan tugas, emosi yang mudah meledak, merasa sangat kewalahan, belanja impulsif, sering memotong pembicaraan orang lain, terlalu banyak menerima tanggung jawab, atau merasa aktivitas sehari-hari membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan orang lain.
Pada perempuan yang berprestasi tinggi, ADHD tidak selalu tampak sebagai kekacauan yang terlihat jelas. Kondisi tersebut justru bisa terlihat sebagai kebiasaan mempersiapkan segala sesuatu secara berlebihan, selalu berusaha menyenangkan orang lain, perfeksionisme, bekerja hingga larut malam untuk mengejar pekerjaan, atau memanfaatkan rasa cemas sebagai pendorong produktivitas. Namun, ketika perimenopause datang, kualitas tidur memburuk, kadar estrogen berfluktuasi, dan strategi yang selama ini membantu mereka tetap produktif mulai tidak lagi efektif.
Tanda-Tanda yang Mengarah ke Perimenopause
Kemungkinan perimenopause lebih besar jika gejalanya baru muncul pada usia paruh baya dan disertai tanda-tanda perubahan hormon lainnya. Gejala tersebut dapat berupa menstruasi yang tidak teratur, sensasi panas mendadak (hot flashes), keringat malam, gangguan tidur, nyeri sendi, gangguan saluran kemih, jantung berdebar, migrain, maupun perubahan suasana hati yang berkaitan dengan siklus menstruasi.
Perimenopause juga dapat memperburuk kecemasan, mudah tersinggung, dan suasana hati yang rendah sehingga konsentrasi dan daya ingat ikut menurun meskipun seseorang tidak memiliki ADHD. Masalahnya, banyak perempuan datang ke dokter bukan hanya dengan satu keluhan, melainkan berbagai gejala sekaligus, seperti insomnia, mudah marah, pelupa, merasa kewalahan, kelelahan, dan merasa tidak lagi mengenali dirinya sendiri.
Sangat Mungkin Mengalami Keduanya
Bagi perempuan yang telah mengetahui dirinya mengidap ADHD, perimenopause dapat memperparah gejalanya. Sementara bagi mereka yang belum pernah didiagnosis, masa ini dapat mengungkap karakteristik ADHD yang sebelumnya tertutupi oleh rutinitas, strategi mengatasi masalah, atau kemampuan bertahan yang dimiliki. Kooij mengatakan perempuan dengan ADHD yang mengalami peningkatan gejala selama perimenopause sering merasa kehilangan kendali atas suasana hati, mudah marah, sulit tidur, dan semakin sulit berkonsentrasi. Dalam beberapa kasus, dampaknya bahkan cukup berat hingga mengganggu pekerjaan.
Karena itu, menganggap semua gejala tersebut hanya sebagai akibat stres atau sekadar perubahan hormon dapat membuat perempuan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. “Fenomena ini benar-benar nyata, dan perempuan berhak didengarkan serta mendapatkan pengobatan yang sesuai,” kata Hamdani.
Hal yang Perlu Dicatat Sebelum Berkonsultasi
Sebelum menemui tenaga kesehatan, buatlah catatan sederhana selama beberapa minggu. Catat kapan gejala mulai muncul, apakah berubah mengikuti siklus menstruasi, bagaimana kualitas tidur berubah, dan di mana gangguan paling banyak dirasakan, baik di tempat kerja, di rumah, dalam hubungan, maupun semuanya. Tuliskan pula pola yang telah berlangsung sejak lama, seperti kesulitan belajar saat sekolah, kebiasaan tidak teratur, emosi yang intens, riwayat ADHD dalam keluarga, atau perasaan selalu berusaha keras hanya untuk mampu mengikuti ritme kehidupan sehari-hari.
Saat berkonsultasi, berikan contoh yang spesifik, bukan sekadar mengatakan “saya sulit fokus”. Misalnya, “Saya mulai sering melewatkan tenggat waktu yang dulu selalu bisa saya penuhi”, “Saya sering lupa isi percakapan”, “Saya mudah marah dengan cara yang terasa tidak seperti diri saya sendiri”, atau “Cara-cara yang dulu membantu saya mengatasi masalah kini tidak lagi berhasil.” Tujuannya bukan untuk mendiagnosis diri sendiri, melainkan memberikan informasi yang cukup kepada dokter atau psikolog yang memahami menopause maupun ADHD agar dapat melihat keterkaitan seluruh gejala.
Sebab, baik penyebabnya ADHD, perimenopause, maupun keduanya, pertanyaan yang tepat bukanlah “Apa yang salah dengan diri saya?”, melainkan “Dukungan seperti apa yang dibutuhkan otak dan tubuh saya saat ini?”







