Perjuangan Arema FC dalam Mendapatkan Hak Merek Logo Singa Bertindik
Arema FC terus memperjuangkan kepemilikan sah logo historis Singa Bertindik, meskipun menghadapi tantangan dalam proses pendaftaran merek. Proses ini berjalan di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), namun muncul keberatan dari pihak lain yang menyebabkan gangguan dalam proses tersebut.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi (Inal), menegaskan bahwa keberatan dalam proses pendaftaran merek adalah hal yang wajar dan bagian dari mekanisme hukum yang berlaku. Ia menjelaskan bahwa manajemen klub tetap akan merespons dengan cara yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
“Penyanggahan atau keberatan dalam proses seperti ini merupakan hal yang wajar dan memang menjadi bagian dari mekanisme yang ada,” ujar Inal. “Kami akan merespons dan menindaklanjutinya sesuai dengan tata cara serta ketentuan hukum yang berlaku.”
Logo Singa Bertindik bukan hanya sekadar simbol visual, tetapi juga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sejarah klub dan para pendukungnya. Menurut Inal, hal ini tidak menyurutkan langkah Arema FC dalam memperjuangkan hak atas logo tersebut.
Direktur Legal PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI), Adi Ismanto, menjelaskan bahwa saat ini proses pendaftaran masih berada pada tahap yang memungkinkan pemohon memberikan tanggapan. Setelah adanya surat dari DJKI terkait usulan penolakan, Arema FC masih memiliki kesempatan untuk menyampaikan argumentasi dalam masa sanggah selama 30 hari kerja.
“Dalam proses seperti ini tentu ada alur yang harus kami ikuti. Kalau statusnya masih berupa usulan penolakan, terdapat masa sanggah selama 30 hari kerja untuk memberikan tanggapan,” jelas Adi. “Kami akan mengikuti proses tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.”
Aksi Penimpaan Mural Malang The Glory Land
Sementara itu, jagat suporter Malang dihebohkan oleh aksi penimpaan karya mural legendaris ‘Malang The Glory Land’ di kawasan Stadion Gajayana oleh panitia acara lokal. Mural tersebut ditimpa oleh mural Malang Menyala Bersama untuk menyemarakkan event Festival Mbois yang akan berlangsung di Stadion Gajayana, Kota Malang akhir pekan ini.
Mural yang telah digambar sejak tahun 2016 itu dianggap memiliki nilai historis bagi Aremania maupun warga Malang. Malang The Glory Land atau Malang Tanah Kejayaan merupakan karya dari almarhum Sam Nyek, salah satu tokoh Aremania dari This Is Arema.
Presidium Aremania Utas turut memberikan respons mengenai insiden ini. Humas Presidium Aremania Utas, Dedi Arisandi, menyampaikan bahwa sebagai organisasi suporter pihaknya mendorong penyelesaian persoalan secara damai dan kekeluargaan. Ia menyayangkan tindakan panitia Festival Mbois yang disebut melakukan perubahan terhadap mural tanpa terlebih dahulu berkomunikasi dengan pihak yang membuat atau menginisiasi karya tersebut.
“Kami sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan panitia, karena tidak ada klarifikasi ataupun pemberitahuan kepada yang menginisiasi tulisan atau yang membuat tulisan di tembok hotel ini,” katanya. “Komunikasi seharusnya menjadi langkah awal sebelum mengambil tindakan terhadap sebuah karya yang memiliki nilai emosional bagi sebagian Aremania.”
Langkah yang Diambil oleh Panitia
Pak Wo, sapaan akrab Dedi Arisandi, menegaskan bahwa meskipun mural tersebut bukan milik organisasi, isu yang berkaitan dengan identitas Aremania sering kali menyeret nama organisasi suporter untuk memberikan penjelasan kepada publik. Dalam hal ini, Presidium Aremania Utas hanya sebagai penengah bagi kedua belah pihak agar nantinya persoalan tersebut bisa selesai dan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
“Kami di sini hanya sebagai penengah atau mediator supaya permasalahan ini tidak berlarut-larut ataupun menjadi permasalahan-permasalahan berikutnya,” ujarnya. “Kami meminta seluruh pihak menjaga citra Malang dan Aremania dengan mengedepankan dialog serta menghindari tindakan yang berujung pada sikap arogan maupun anarkis.”
Bentuk tanggung jawab itu, menurut Pak Wo, dapat berupa permintaan maaf maupun langkah lain yang disepakati bersama, termasuk kemungkinan pengecatan ulang apabila memang diperlukan.
“Saya harap dari panitia yang tidak mengklarifikasi ini atau melakukan perbuatan sepihak agar ada klarifikasi kepada yang memiliki tulisan ini dan legowo meminta maaf ataupun bertanggung jawab,” tambahnya.
Penutupan Mural dan Rencana Pengecatan Ulang
Sementara itu, mural Malang Menyala Bersama kini telah ditutup menggunakan cat biru sekitar pukul 16.30 WIB. Dari informasi yang diterima Surya, mural tersebut ditutup sendiri oleh pihak panitia Festival Mbois. Rencananya, setelah tembok tersebut diblok biru akan kembali digambar tulisan Malang The Glory Land.







