Pengembangan Jaringan Pemantauan Kualitas Udara di Pontianak
Laboratorium Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (Untan) telah mengembangkan jaringan pemantauan kualitas udara yang terhubung dengan jaringan global IQAir. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan informasi akurat dan real-time tentang kondisi polusi udara di Kota Pontianak, khususnya menghadapi masalah kabut asap yang sering melanda Kalimantan Barat.
Perkembangan Awal dan Strategi Pengadaan
Sejak 2024, Laboratorium Geofisika Untan mulai membeli perangkat sensor secara bertahap menggunakan dana penelitian fakultas. Perangkat tersebut kemudian dipasang di sejumlah wilayah strategis di Kota Pontianak, seperti Pontianak Kota, Pontianak Timur, dan Pontianak Tenggara. Kepala Laboratorium Geofisika Untan, Dr. Joko Sampurno, menyatakan bahwa pengadaan perangkat dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran. Tujuan utamanya adalah mencakup seluruh kecamatan di Pontianak.
“Pengadaan kita terbatas karena menggunakan dana penelitian fakultas. Jadi, kita cicil satu tahun satu alat. Target kita nantinya semua kecamatan bisa ter-cover,” ujar Joko Sampurno.
Strategi “cicil” ini memungkinkan laboratorium untuk terus memperluas jaringan pemantauan sesuai dengan kemampuan anggaran.
Integrasi dengan Jaringan Global IQAir
Salah satu keunggulan dari inovasi Laboratorium Geofisika Untan adalah kemampuan menghubungkan perangkat pemantauan lokal dengan ekosistem IQAir, sebuah perusahaan teknologi kualitas udara asal Swiss. Perangkat sensor tersebut dibeli langsung oleh Untan dan menjadi aset laboratorium. Sementara data yang dihasilkan dibagikan ke jaringan global IQAir sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pemantauan kualitas udara dunia.
“Kita beli alat itu dari mereka dan menjadi milik kita. Namun, datanya kita sharing secara global agar menjadi model kualitas udara sedunia, sekaligus bisa langsung diakses oleh masyarakat,” ungkap Joko.
Melalui integrasi tersebut, masyarakat dapat memantau kondisi kualitas udara secara real-time melalui platform AirVisual milik IQAir. Informasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan masyarakat sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Data yang Komprehensif dan Terpadu
Sistem pemantauan tidak hanya menampilkan angka indeks kualitas udara. Data yang tersedia juga dipadukan dengan berbagai sumber informasi, termasuk data satelit dan model simulasi angin. Perpaduan data tersebut dapat membantu melihat pola pergerakan polusi udara, arah angin, hingga potensi penyebaran asap antarwilayah.
“Visual data di situs itu sangat lengkap. Jadi selain angka kualitas udara, kita bisa memprediksi ke mana arah pergerakan kabut dan angin. Kita juga bisa melihat wilayah mana yang berwarna hitam pekat, yang menandakan daerah dengan asap tebal,” jelas Joko.
Berangkat dari Persoalan Lingkungan
Pengembangan jaringan pemantauan kualitas udara tersebut tidak terlepas dari persoalan lingkungan yang berulang setiap tahun di Kalimantan Barat. Sebagai peneliti di bidang geofisika lingkungan sekaligus lulusan program doktor Bioscience Engineering dari UCLouvain, Belgia, Joko melihat banjir dan kabut asap sebagai dua persoalan lingkungan yang kerap terjadi di Pontianak mengikuti perubahan musim.
“Kalau balik ke Pontianak, masalah kita kan tiap tahun cuma dua, yakni musim hujan kita kebanjiran, musim panas atau musim kemarau kita kena asap. Itu saja sebenarnya fokusnya,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan sistem pemantauan lingkungan yang mampu menyediakan informasi secara cepat dan mudah diakses masyarakat.
Kolaborasi dalam Menjaga Aliran Data
Perluasan jaringan pemantauan kualitas udara juga membutuhkan dukungan infrastruktur di lokasi pemasangan perangkat. Salah satu bentuk kolaborasi dilakukan dengan SMA IT Al-Mumtaz Pontianak. Menurut Joko, perangkat sensor membutuhkan pasokan listrik dan koneksi internet yang stabil agar proses pengiriman data ke server dapat berlangsung secara terus-menerus.
“Soalnya kan alat itu begitu di-install, dia butuh dua source. Satu, butuh listrik 24 jam. Terus yang kedua, butuh Wi-Fi. Wi-Fi-nya harus 24 jam juga, karena komunikasi datanya pakai Wi-Fi, per menit datanya masuk,” jelas Joko.
Meski demikian, gangguan koneksi internet tidak serta-merta menyebabkan data yang telah direkam hilang. Sensor tersebut dilengkapi memori internal yang dapat menyimpan data sementara ketika koneksi ke server terputus. “Tapi enaknya begini, alat itu kan punya memori internal. Jadi, meskipun putus komunikasi, dia masih bisa menyimpan data. Begitu terkoneksi kembali ke server, semua simpanan data yang tertunda itu akan langsung dikirim. Asal jangan listriknya yang padam. Kalau listrik mati, selesai sudah, enggak ada data,” ungkapnya.
Selain menjaga ketersediaan listrik dan koneksi internet, sistem yang terhubung dengan jaringan global tersebut juga membantu tim memantau kondisi perangkat. Jika terjadi gangguan pada data maupun koneksi, tim dapat menerima pemberitahuan sehingga perbaikan bisa segera dilakukan.
“Kalau ada masalah, biasanya kita diberi tahu jika ada data yang bermasalah atau terputus. Jadi kita bisa langsung mengoreksinya. Tugas kita sekarang lebih ke arah pemeliharaan (maintenance), instalasi, dan sharing data saja,” pungkasnya.
Ke depan, Laboratorium Geofisika Untan akan terus memperluas jaringan pemantauan kualitas udara melalui pengadaan perangkat secara bertahap dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Targetnya, jaringan tersebut tidak hanya mencakup beberapa titik yang telah tersedia saat ini, tetapi dapat menjangkau setiap kecamatan di Kota Pontianak. Upaya ini diharapkan dapat menghadirkan data kualitas udara secara real-time sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap informasi lingkungan yang terbuka dan mudah dipantau.






