Kenaikan Harga Daging Ayam di Madiun dan Sukoharjo
Harga daging ayam di berbagai pasar tradisional kini mencapai Rp42 ribu per kilogram. Fenomena ini menjadi perhatian masyarakat setelah mengalami peningkatan yang signifikan, terutama ketika aktivitas sekolah kembali berjalan. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi pola belanja konsumen, tetapi juga berdampak pada volume penjualan pedagang.
Di Pasar Besar Kota Madiun, Jawa Timur, harga daging ayam kini berada di kisaran Rp42 ribu per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang berada di sekitar Rp35 ribu. Pedagang ayam, Purwati, mengatakan kenaikan mulai terasa setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) kembali berjalan pada Juni 2026.
“Biasanya Rp 35 ribu. Setelah anak sekolah masuk, langsung setiap hari melonjak Rp 1.000, Rp 1.000 sampai sekarang Rp 42 ribu,” ujarnya.
Sebelumnya, harga ayam bahkan sempat turun hingga Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram ketika sekolah masih libur. “Katanya karena MBG (Makan Bergizi Gratis). Kalau kemarin sekolah libur, harga stabil, bahkan turun drastis bisa sampai Rp 28 ribu – Rp 30 ribu. Habis anak sekolah masuk, langsung melonjak terus,” tambahnya.
Warga Mulai Kurangi Belanja Ayam
Kenaikan harga membuat masyarakat harus menyesuaikan pola belanja. Salah satu perubahan yang terlihat adalah ukuran potongan ayam yang dibuat lebih kecil agar satu kilogram bisa menghasilkan lebih banyak potongan.
Purwati mengatakan, konsumen yang sebelumnya meminta satu kilogram ayam dipotong menjadi sekitar 10 bagian, kini meminta potongan lebih kecil sehingga bisa mendapatkan 12 hingga 14 potong.
“Mengurangi sekali. Biasanya satu kilo bisa jadi 10, sekarang katanya jadi 12 sampai 14. Dipotong kecil-kecil,” ungkapnya.
Dampak kenaikan harga juga dirasakan langsung oleh pedagang. Salah satu pedagang mengaku volume penjualannya turun cukup tajam. Jika sebelumnya mampu menjual sekitar 50 kilogram ayam dalam sehari ketika harga berada di Rp35 ribu, kini menjual 30 kilogram saja terasa sulit.
“Kalau dulu pas harga Rp 35 ribu banyak, bisa 50 kilo. Sekarang 30 saja sulit,” keluhnya.
Konsumen pun mulai mengurangi jumlah pembelian. Noviana, salah seorang pembeli, mengaku terkejut dengan harga ayam yang kini mencapai Rp42 ribu per kilogram.
“Naik, kaget. Biasanya terakhir beli Rp 36 ribu, Rp.37 ribu, terus Rp.38 ribu. Sekarang Rp.42 ribu,” ujarnya.
Jika sebelumnya mampu membeli dua kilogram ayam, kini ia hanya membeli satu kilogram untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
“Ya, kita kan rakyat biasa. Jadi jangan terlalu tinggi,” tutupnya.
Harga Tinggi Juga Terjadi di Sukoharjo
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Di Pasar Ir. Soekarno, harga daging ayam juga mencapai Rp42 ribu per kilogram. Pedagang ayam, Sapardi Ahmad Muslim, mengatakan kenaikan tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah pasokan ayam dari peternak yang mulai berkurang.
Ketika stok menipis dan harga meningkat, permintaan masyarakat pun ikut mengalami penurunan.
“Ini menurun. Ini ya kurang lebih 4-5 kuintal. Yang sebelumnya ya mungkin bisa 6 sampai 7 kuintal. Sekarang paling 4 lah, kurang lebih,” ungkapnya.
Pedagang juga harus menghadapi keluhan konsumen yang merasa harga ayam sudah terlalu tinggi.
“Ya kalau dari masyarakat otomatis. Otomatis komplain harganya kok terlalu tinggi. Mau beli daging kan mikir kok. Ya mikir-mikir, untuk dibelikan yang lainnya, mungkin sembako lah. Kalau daging kan hanya tambahan kan,” kata dia.
Mendag Sebut Harga Mendekati Rp 40 Ribu Masih Ideal
Di tengah keluhan masyarakat, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan pandangan berbeda mengenai harga ayam yang mendekati Rp40 ribu per kilogram. Saat meninjau Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo pada Kamis (20/8/2026), Budi mengatakan harga ayam yang berada di sekitar angka tersebut justru menunjukkan bahwa peternak tidak berada dalam posisi merugi.
Harga eceran tertinggi (HET) daging ayam sendiri berada di angka Rp40 ribu per kilogram.
“Harga ayam dulu kan pernah turun, ya. Pernah harga ayam itu kan dulu Rp 36.000. Harga acuannya kan Rp 40.000,” ucapnya kepada Kompas.com.
“Jadi justru kalau mendekati Rp 40.000 itu bagus, ya. Karena apa? Karena apa? Karena peternak tidak dirugikan. Kalau harga Rp 36.000 terus, peternaknya bisa tutup,” lanjutnya.
Menurut Budi, penentuan harga ayam perlu mempertimbangkan kepentingan produsen sekaligus konsumen. Harga yang terlalu rendah memang menguntungkan pembeli, tetapi berpotensi membuat peternak mengalami kerugian.
“Ya, makanya. Jadi HET itu harga yang ideal antara produsen dan konsumen. Kita melihat, menilai, harus dua-duanya,”
“Kita tidak hanya melihat produsen, kita juga tidak hanya melihat konsumen. Kalau konsumen, pasti kan maunya harganya di bawah,” terangnya.
Kenaikan harga ayam yang kini menyentuh Rp42 ribu per kilogram akhirnya menciptakan dua persoalan sekaligus. Di satu sisi, konsumen harus mengurangi pembelian dan menyesuaikan pengeluaran rumah tangga. Di sisi lain, pedagang menghadapi penurunan volume penjualan ketika harga semakin tinggi.
Sementara bagi peternak, harga yang mendekati acuan pemerintah dinilai dapat menjaga keberlangsungan usaha. Kondisi tersebut membuat harga ayam menjadi persoalan keseimbangan antara daya beli masyarakat, keuntungan pedagang, dan keberlangsungan produksi peternak.







