Mengenal Lymphatic Walking dan Fungsinya dalam Sistem Limfatik
Jalan kaki dengan postur tegak, lengan dibiarkan mengayun, tubuh bergerak rileks, lalu napas dibuat dalam dan teratur. Dalam dunia wellness, aktivitas ini dikenal sebagai lymphatic walking atau jalan kaki untuk sistem limfatik. Meski tidak memiliki nama terapi atau protokol latihan yang terstandardisasi, konsep ini tetap menarik untuk dibahas karena hubungannya dengan aliran limfa.
Sistem limfatik memiliki jaringan pembuluh yang mengembalikan kelebihan cairan dari jaringan ke sirkulasi darah sekaligus berperan dalam sistem imun. Berbeda dengan darah yang didorong jantung, pergerakan limfa juga terbantu oleh kontraksi otot, gerakan tubuh, pernapasan, serta kontraksi pembuluh limfatik itu sendiri. Aktivitas sehari-hari, seperti berjalan dan stretching, membuat otot berkontraksi dan relaksasi sehingga membantu cairan limfa bergerak.
Studi klasik terhadap delapan laki-laki menemukan bahwa kontraksi otot kaki saat olahraga meningkatkan pembersihan cairan dari jaringan otot sekitar 3—6 kali dibandingkan ketika beristirahat. Para peneliti menyimpulkan perubahan bentuk otot selama kontraksi membantu mendorong aliran limfa. Penelitian yang lebih baru terhadap 20 orang sehat menggunakan ultrasonografi juga menemukan bahwa diameter thoracic duct atau duktus torasikus, pembuluh limfatik terbesar tubuh, meningkat secara signifikan setelah aktivitas fisik. Temuan ini menunjukkan peningkatan aliran limfatik sebagai respons terhadap olahraga.
Peran Nafas Dalam Lymphatic Walking
Versi lymphatic walking yang beredar biasanya ikut menekankan pernapasan dalam atau diafragmatik. Ada alasan fisiologis di balik gagasan tersebut. Perubahan tekanan di dada dan perut selama bernapas dapat memengaruhi pergerakan limfa melalui duktus torasikus. Studi ultrasonografi pada orang sehat menunjukkan diameter bagian terminal duktus torasikus berubah selama menarik napas dan mengembuskan napas.
Namun, bukti mengenai seberapa besar pernapasan benar-benar meningkatkan aliran limfa masih belum pasti. Sebuah tinjauan terhadap 23 studi manusia dan hewan menemukan bahwa pernapasan memengaruhi tekanan atau aliran duktus torasikus pada sebagian besar studi, tetapi hasil antarpenelitian sangat bervariasi. Jadi, bernapas dalam sambil berjalan boleh saja dilakukan, tetapi belum ada bukti bahwa kombinasi tersebut menghasilkan efek khusus yang tidak didapat dari aktivitas fisik biasa.
Apakah Lymphatic Walking Lebih Baik Daripada Jalan Kaki Biasa?
Penelitian yang tersedia mendukung aktivitas fisik dan kontraksi otot sebagai faktor yang membantu pergerakan limfa. Artinya, berjalan biasa pada dasarnya sudah menjadi inti dari lymphatic walking.
Tinjauan sistematis terhadap 12 studi dan 367 pasien limfedema (pembengkakan pada jaringan tubuh akibat penumpukan cairan getah bening) tungkai menemukan olahraga tampaknya memberikan manfaat kecil terhadap kualitas hidup, fungsi fisik, nyeri, dan volume tungkai. Namun, kualitas bukti rendah dan jenis latihan sangat beragam, sehingga para peneliti belum dapat menentukan satu latihan tertentu yang terbaik.
Sebuah metaanalisis pada orang dengan atau berisiko mengalami limfedema terkait kanker juga menunjukkan latihan aerobik dan resistance training secara umum aman serta dapat meningkatkan kekuatan, fungsi, kelelahan, dan kualitas hidup. Tidak ada bukti bahwa seseorang harus melakukan lymphatic walking untuk memperoleh manfaat tersebut.
Klaim Detoksifikasi dalam Lymphatic Walking
Sistem limfatik memang membantu menjaga keseimbangan cairan, mengangkut berbagai molekul, dan merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Namun, tidak ada bukti lymphatic walking dapat mengeluarkan racun, membersihkan tubuh, membakar lemak secara khusus, atau meningkatkan sistem imun melebihi manfaat aktivitas fisik biasa.
Tubuh memiliki hati, ginjal, paru-paru, saluran cerna, dan berbagai sistem biologis lain yang terus memproses serta membuang zat yang tidak diperlukan. Jadi, jika seseorang menikmati lymphatic walking karena membuatnya lebih sering bangun dan bergerak, manfaat utamanya tetap berjalan kaki. Kontraksi otot dan pernapasan memang ikut mendukung fisiologi normal sistem limfatik, tetapi tidak perlu teknik khusus untuk membuat sistem limfatik orang sehat bekerja.
Untuk orang dengan pembengkakan menetap atau limfedema akibat operasi, kanker, radioterapi, atau kondisi medis lainnya, latihan sebaiknya menjadi bagian dari penanganan yang disesuaikan dengan kondisi individual.
Jalan Kaki Cuma 10 Detik, Apa Itu Micro-Walk? Berapa Langkah per Menit agar Jalan Kaki Termasuk Olahraga? Jalan Kaki Saja Cukup untuk Menurunkan Kolesterol?







