Bantuan Kesehatan untuk Korban Gempa di Flores
Tim relawan Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng bersama tim medis Caritas Keuskupan Ruteng telah memberikan pelayanan kesehatan kepada 655 pasien di berbagai wilayah terdampak gempa selama dua hari, yaitu 19 hingga 20 Agustus 2026. Pelayanan ini dilakukan sebagai bagian dari Posko Tanggap Darurat dan Solidaritas Gempa UNIKA Santu Paulus Ruteng yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Pada hari pertama, dua tim medis bergerak ke beberapa lokasi seperti Robek, Nggorang, Gincu, Ojang, Paralando, Raja Bawang, dan Gongger. Tujuan utamanya adalah menjangkau warga yang membutuhkan layanan kesehatan setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. Tim A melayani 117 pasien di Robek, sementara Tim B melayani 118 pasien di Desa Nggorang. Dalam sehari, kedua tim melayani total 235 pasien.
Pada hari kedua, pelayanan dilanjutkan dengan Tim A bergerak ke Dusun Gincu, Dusun Ojang, dan Paralando, yang masing-masing melayani 81, 81, dan 81 pasien. Sementara itu, Tim B bergerak ke Dusun Raja Bawang dan Dusun Gongger, masing-masing melayani 88 dan 89 pasien. Total pelayanan pada hari kedua mencapai 420 pasien, sehingga jumlah total pasien yang dilayani selama dua hari mencapai 655 orang.
Tim Relawan Bergerak ke Wilayah Terpencil
Selain melayani wilayah yang mudah diakses, tim relawan juga bergerak ke wilayah-wilayah yang lebih terpencil dan membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan. Pada hari ketiga, pelayanan kesehatan terus berlangsung. Tim B berangkat lebih awal dengan membawa persediaan obat-obatan yang tersedia. Mereka menuju Dusun Bea Ri’i dan Dusun Kadung untuk melanjutkan pelayanan kepada masyarakat.
Sementara itu, Tim A menunggu tambahan obat-obatan dari UNIKA Santu Paulus Ruteng. Setelah persediaan obat tiba, tim tersebut akan bergerak menuju Dusun Bajak. Dengan pergerakan ini, harapan besar ditempatkan agar pelayanan kesehatan dapat terus berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Komposisi Tim Relawan
Tim relawan UNIKA Santu Paulus Ruteng terdiri atas lima anggota yang bergabung dalam pelayanan medis bersama Caritas Keuskupan Ruteng. Tim A terdiri dari Putri Raden, Lino (mahasiswa Program Studi Keperawatan), Romo Pepi Bora, serta dokter Caritas dr. Juanli RFP, AWP yang juga menjadi koordinator tim relawan.
Sementara itu, Tim B terdiri atas Yeyen, Aldo (mahasiswa Keperawatan), serta dokter dan suster psikolog dari Caritas. Keterlibatan mahasiswa Keperawatan dalam pelayanan ini tidak hanya menjadi bentuk kemanusiaan tetapi juga memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka selama berada di lingkungan akademik.
Peran Kampus dalam Penanganan Bencana
Rektor UNIKA Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Theol., menyatakan bahwa keterlibatan kampus dalam penanganan bencana merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan perguruan tinggi. Ia menjelaskan bahwa kampus tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga menggerakkan sumber daya yang dimiliki untuk membantu masyarakat ketika menghadapi bencana.
“Dalam situasi bencana seperti ini, kampus tidak boleh berdiri jauh dari masyarakat. Ilmu pengetahuan, tenaga, sumber daya, dan seluruh kekuatan yang kita miliki harus kita hadirkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak,” ujarnya.
Pelayanan Disesuaikan dengan Kebutuhan
Posko Tanggap Darurat dan Solidaritas Gempa UNIKA Santu Paulus Ruteng terus mengoordinasikan pelayanan berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan. Selain pelayanan kesehatan, posko juga mengembangkan berbagai bentuk dukungan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa.
Pergerakan tim medis pada hari ketiga menjadi bagian dari upaya UNIKA memastikan pelayanan tetap berjalan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan. “Kita hadir untuk melayani, kita bergerak dalam solidaritas, dan kita berjalan bersama masyarakat untuk bangkit kembali. Kita satu, kita kuat,” kata Manfred.
Pelayanan yang telah menjangkau 655 pasien dalam dua hari tersebut menjadi bagian dari upaya UNIKA Santu Paulus Ruteng membantu masyarakat terdampak gempa melalui kerja sama relawan, mahasiswa, tenaga kesehatan, Caritas, dan berbagai pihak lainnya.







