Program GENERASI Trakindo 2026: Membangun Sekolah Ramah Anak melalui Inovasi Siswa
Sekolah yang ramah bagi anak bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti rasa aman untuk berbicara, dihargai oleh teman, serta tahu ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi masalah. Dalam rangka mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih baik, siswa SDN Pelambuan 4 Banjarmasin dan SMP Negeri 1 Lubuk Pakam mengambil inisiatif dengan mengembangkan berbagai inovasi melalui Program GENERASI Trakindo 2026 bertema Sekolah Ramah Anak.
Inovasi di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin: Papan Kompas
Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, kebiasaan mengejek nama orang tua, berkata kasar, atau saling menghina sering dianggap sebagai candaan. Namun, bagi sebagian siswa, hal ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan bahkan memicu pertengkaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, kelompok siswa mengembangkan Papan Kompas (Kontrol Mulut Pastikan Sopan), sebuah media pembelajaran berbasis permainan edukatif.
Papan Kompas dirancang untuk membantu siswa mengendalikan ucapan melalui sistem penghargaan dan konsekuensi. Terinspirasi dari papan perkalian yang biasa digunakan di kelas, Papan Kompas dikembangkan menjadi permainan bertema petualangan agar lebih menarik dan mudah dipahami oleh teman-temannya.
Nur Fazrian, perwakilan kelompok siswa SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, menyebutkan bahwa suasana kelas menjadi lebih nyaman dan siswa mulai terbiasa saling menghargai. “Suasana kelas menjadi lebih damai dan saling menghargai. Yang paling terasa bukan hanya berkurangnya kata-kata kasar, tetapi juga tumbuhnya sikap saling menghargai antarteman sekelas,” katanya.
Guru Pendamping SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, Anugrah Mitria Sari, menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam proses pengembangan inovasi memberikan pengalaman baru. “Yang paling membanggakan bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi bagaimana siswa berani mengenali persoalan di sekitarnya dan mencari jalan keluarnya sendiri. Dari proses itu, anak-anak menjadi lebih peka terhadap cara mereka berkomunikasi dan memahami bahwa setiap anak bisa menjadi bagian dari perubahan di sekolah,” ujarnya.
Inovasi di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam: Perisai Pintar
Di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, siswa menghadapi tantangan berbeda. Sebagian dari mereka enggan datang ke ruang Bimbingan Konseling (BK) karena khawatir dianggap sebagai siswa bermasalah. Mereka justru lebih nyaman berbicara dengan guru BK di luar ruang konseling, seperti di taman atau sudut sekolah.
Untuk mengatasi masalah ini, para siswa mengembangkan Perisai Pintar, sebuah aplikasi yang memungkinkan siswa menyampaikan cerita maupun keluhan secara anonim kepada guru BK. Sebelumnya, sekolah telah menyediakan kotak curhat, tetapi penggunaannya belum efektif. Observasi menunjukkan bahwa sekitar 60 persen siswa mendukung dibuatnya Perisai Pintar.
Angelika Patresia Gultom, perwakilan kelompok siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, menjelaskan bahwa Perisai Pintar menjadi wadah yang lebih nyaman bagi teman-temannya untuk menyampaikan persoalan yang sulit diceritakan secara langsung. “Senang sih, kan saya juga sama teman-teman kan sama-sama seumuran, jadi ngerti gimana perasaannya kalau curhat itu enggak didengar. Jadi kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” katanya.
Mennusuriani Saragih, Guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, menyebutkan bahwa pendekatan Challenge Based Learning (CBL) membantu siswa belajar bekerja sama dan bergotong royong dalam mengembangkan inovasi. “Yang saya lihat dari materi CBL, anak-anak akhirnya bisa bekerja sama, bergotong royong dalam melaksanakan program CBL ini di sekolah,” ujarnya.
Inovasi Lokal Berdampak Luas
Kedua inovasi tersebut merupakan bagian dari Program GENERASI Trakindo 2026 yang tahun ini mengangkat tema Sekolah Ramah Anak dengan pendekatan Challenge Based Learning (CBL). Program ini mendorong siswa untuk mengenali persoalan di lingkungannya, merancang solusi, dan terlibat langsung dalam menciptakan perubahan bersama warga sekolah.
Hingga 2026, Program GENERASI telah menjangkau 205 sekolah yang terdiri dari 30 SDN dan SMPN Mitra serta 175 sekolah imbas di 18 provinsi di Indonesia. Sejak 2021, program ini telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan sekolah dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
Trakindo memberikan pendampingan dan sumber daya yang dibutuhkan sekolah dalam mengembangkan inovasi. Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, guru pendamping menyebut adanya fasilitas riset, pendanaan, dan trainer yang membantu siswa serta guru selama proses pengembangan inovasi. Sementara di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Trakindo memberikan pelatihan kepada guru dan siswa mengenai Sekolah Ramah Anak, serta dukungan material untuk membantu proses riset dan pengembangan inovasi.
Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama Candy Sihombing mengatakan pengalaman kedua sekolah tersebut menunjukkan pentingnya memberi ruang bagi siswa untuk mengenali persoalan di lingkungan mereka dan mengambil bagian dalam mencari solusinya. “Ketika siswa diberikan ruang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan dipercaya untuk mencari solusi, mereka belajar bahwa suara dan gagasan mereka dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah,” ungkap Candy dalam keterangan resmi Trakindo, Kamis (20/8/2026).
“Bagi kami, keberhasilan Program GENERASI tidak hanya terlihat dari lahirnya inovasi, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian dan kepercayaan diri siswa untuk menjadi bagian dari perubahan,” pungkas Candy.







