Penurunan Kasus DBD di Kabupaten Kediri, Tapi Masih Perlu Waspada
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kediri menunjukkan penurunan signifikan sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa pada tahun 2024 tercatat sebanyak 562 kasus DBD. Sementara itu, pada tahun 2025 jumlah kasus turun menjadi 285. Angka ini menunjukkan tren positif dalam pencegahan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Namun, meskipun angka kasus menurun, perlu tetap diingat bahwa masyarakat tidak boleh lengah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri, Bambang Triyono Putro menyampaikan bahwa kelompok anak-anak masih menjadi penderita terbanyak. Sekitar 60 hingga 65 persen kasus DBD terjadi pada anak usia 5 hingga 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan khusus diperlukan dari orang tua, pihak sekolah, dan lingkungan sekitar.
Bambang menjelaskan bahwa penurunan kasus DBD tidak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama menjelang dan selama musim hujan. Genangan air yang tidak terkontrol menjadi tempat ideal berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Untuk mengatasinya, Dinkes Kabupaten Kediri bersama lintas sektor terus menggalakkan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk atau PSN Plus.
Gerakan PSN Plus melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, hingga masyarakat. Upaya tersebut mencakup langkah-langkah seperti:
- Menguras tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup wadah air untuk mencegah nyamuk bersarang.
- Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menabur larvasida di tempat penampungan air dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah. Kesadaran masyarakat melakukan PSN Plus secara rutin menjadi salah satu faktor penting dalam penurunan kasus DBD di Kabupaten Kediri.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri juga terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, sekolah, dan fasilitas umum terkait bahaya DBD dan pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan jentik berkala di wilayah rawan juga terus digencarkan.
Meski demikian, Bambang mengingatkan agar masyarakat tidak terlena dengan turunnya angka kasus. Menurutnya, potensi penularan tetap tinggi saat curah hujan meningkat dan cuaca tidak menentu. Oleh karena itu, ia berharap masyarakat tetap disiplin menjaga kebersihan lingkungan agar kasus DBD bisa terus ditekan dan tidak kembali meningkat.







