
Indonesia dan Inggris telah mencapai kesepakatan mengenai Economic Growth Partnership (EGP). Kesepakatan ini diharapkan dapat memberikan berbagai fasilitas yang bermanfaat bagi pelaku usaha, termasuk dalam bentuk proyek kolaboratif.
Kesepakatan EGP merupakan kerangka kerja sama yang praktis dan berorientasi pada kepentingan pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa tindak lanjut dari kesepakatan ini bisa menjadi pendorong utama dalam menciptakan lapangan kerja.
“Dengan adanya Economic Growth Partnership ini, dunia usaha berharap ada tindak lanjut yang nyata dalam bentuk fasilitas pasar, konektivitas investasi, serta berbagai proyek kolaboratif lainnya yang bisa mendorong peningkatan ekspor, investasi, serta penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Adapun dalam kesepakatan EGP tersebut, terdapat beberapa bidang pokok kerja sama yang menjadi fokus kedua negara. Di antaranya adalah:
Energi bersih untuk mendorong transisi energi berkelanjutan dan investasi bersih
Ekonomi digital
* Infrastruktur dan transportasi, termasuk investasi dan pengembangan proyek besar yang akan meningkatkan konektivitas dan kapasitas ekonomi
Selain itu, kerja sama juga meliputi:
Pertanian, makanan dan minuman
Perdagangan dan investasi
Pendidikan, layanan kesehatan dan ilmu hayat
Layanan keuangan dan jasa profesional

Shinta merespons positif kesepakatan ini karena dianggap mencerminkan komitmen bersama untuk membuka peluang pasar, mempermudah investasi dua arah, serta mengurangi hambatan perdagangan melalui saling berbagi informasi dan praktik terbaik antara pemerintah dan sektor swasta.
“Kesepakatan ini juga menegaskan pentingnya ketahanan rantai pasok dan persaingan sehat, serta pembangunan yang berkelanjutan, yang semuanya menjadi kerangka kerja untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” tambahnya.
Saat ini, tren perdagangan antara Indonesia dan Inggris menunjukkan perkembangan positif. Shinta menjelaskan bahwa total perdagangan bilateral pada 2024 mencapai sekitar USD 2,7 miliar dengan ekspor Indonesia ke Inggris mencapai sekitar USD 1,8 miliar.
Meskipun angka tersebut masih relatif kecil dibanding total ekspor Indonesia ke seluruh dunia, yang mencapai lebih dari USD 266 miliar pada 2024, hubungan dagang dengan Inggris tetap menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan volume dan nilai tambah produk yang diekspor ke pasar Inggris dan pasar Eropa lebih luas.
Bisa Buka Pasar yang Lebih Luas untuk Produk Indonesia
Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perdagangan dan Perjanjian Internasional Kadin Indonesia, Pahala Mansury, berharap adanya EGP ini bisa membuka akses pasar global yang lebih luas untuk produk Indonesia.
“Harapan kami adalah bahwa economic growth partnership ini dapat diikuti dengan pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia, khususnya industri padat modal seperti garment textile dan juga produk elektronik dan otoparts,” ujarnya.
Ia optimis bahwa pembukaan pasar yang lebih luas akan berjalan mulus dengan keberadaan kesepakatan EGP tersebut. Hal ini karena saat ini Inggris sedang menjadi mitra dagang strategis.
“Kami optimistis bahwa partnership yang sudah ditandatangani akan memuluskan hal tersebut, apalagi dengan peningkatan tensi di Eropa serta Brexit yang sudah terjadi beberapa tahun lalu akan mendorong UK untuk mencari mitra dagang yang strategis di luar kawasan Atlantik,” tambahnya.







