Ajil Ditto dan Adinia Wirasti Hadir di Cihampelas Walk untuk Promosi Film Sadali
Pemain film drama romantis terbaru berjudul Sadali, yaitu Ajil Ditto dan Adinia Wirasti, menyapa penonton Bandung dalam rangkaian promosi film di Cihampelas Walk (Ciwalk). Film ini merupakan kelanjutan dari film sebelumnya yang berjudul Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu. Dalam Sadali, kisah cinta antara Sadali, Meira, dan Arnaza kembali diangkat dengan konflik perasaan yang lebih dalam dan kompleks.
Ajil Ditto mengungkapkan bahwa proses menunggu kelanjutan cerita Sadali terasa cukup panjang. Namun, penantian tersebut terbayar dengan pengalaman syuting yang tak biasa. Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan dua film ini dilakukan secara bersamaan selama sekitar 30 hari. Setengah pertama dari waktu tersebut digunakan untuk film pertama, sedangkan setengah kedua lebih banyak digunakan untuk film kedua.
Menurutnya, menyelesaikan dua film dalam waktu yang singkat membutuhkan kerja tim yang solid. Ia menyebut proses tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh kru dan pemain. “Itu benar-benar gila sih, tantangan terberatnya justru bagaimana memastikan penonton bisa melihat pertumbuhan karakter, padahal jarak waktunya hanya sekitar tiga tahun,” lanjutnya.
Bagi Ajil, beradu akting dengan Adinia Wirasti menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia mengaku sempat merasa sangat gugup saat pertama kali bertemu lawan mainnya tersebut. “Aku ingat banget pertama kali ketemu Ka Asti di sebuah kafe, gerogi banget, sampai kaki aku nyut-nyutan. Maksudnya, siapa sih yang nggak ingin beradu akting sama Adinia Wirasti,” tuturnya sambil tertawa.
Adinia Wirasti pun mengakui bahwa di awal syuting sempat ada jarak antara dirinya dan Ajil, terutama karena perbedaan usia. Namun, hal itu justru membantu pendalaman karakter di film. “Awalnya mungkin ada gap karena umur, tapi ternyata itu malah membantu. Grogi dan canggungnya kami terjemahkan ke dalam adegan. Lama-lama ngobrol, makin akrab, akhirnya jadi lebih nyantai,” kata Adinia.
Dalam Sadali, hubungan antara karakter Sadali dan Merah digambarkan dengan pendekatan yang lebih dewasa. Adinia menekankan bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga keintiman karakter agar tetap terasa manis dan emosional, tanpa jatuh ke kesan negatif. “Hubungan laki-laki dan perempuan dengan perbedaan usia sering kali punya konotasi negatif. Dari awal kami sangat menjaga supaya hubungan mereka itu terasa manusiawi, hangat, dan emosional, bukan yang bikin penonton merasa risih,” jelasnya.
Ia juga mengaku cukup terkejut dengan respons penonton film pertama, yang ternyata datang dari lintas generasi. Banyak penonton muda yang baru mengenalnya lewat film ini. “Itu menarik banget, ternyata penontonnya jadi lebih luas. Pada akhirnya ini kan cerita tentang hubungan antarmanusia, bukan soal umur,” tambahnya.
Selain membahas film, Ajil dan Adinia juga menyoroti tantangan industri film Indonesia saat ini, khususnya dalam mengajak penonton kembali ke bioskop di tengah kebiasaan menonton lewat platform OTT. “Menuntut penonton datang ke bioskop sekarang itu memang berat. Tapi itu jadi PR bersama. Film maker harus menyuguhkan pengalaman sinematik yang benar-benar beda, yang enggak bisa digantikan layar kecil,” ujar Adinia.
Ia menilai menonton film di bioskop kini telah menjadi pengalaman yang bernilai, sehingga pembuat film dituntut untuk menghadirkan karya yang sepadan dengan usaha penonton datang ke bioskop.
Disutradarai oleh Kuntz Agus, Sadali dibintangi oleh jajaran aktor lintas generasi seperti Ajil Ditto, Adinia Wirasti, Hanggini, Ciara Nadine, Faiz Fishal, dan Deasy Natalia. Film ini tetap mempertahankan kekuatan dialog khas Pidi Baiq yang puitis, sederhana, dan emosional.
Film Sadali akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 Februari 2026.







