Perbedaan Nyale Hijau dan Nyale Air dalam Tradisi Bau Nyale
Bau Nyale adalah sebuah ritual tahunan yang sangat sakral bagi masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok. Ritual ini terjadi setiap tahun, dengan momen puncaknya pada tanggal 7–8 Februari 2026. Dalam tradisi ini, masyarakat tidak hanya melakukan penangkapan massal, tetapi juga memandangnya sebagai bentuk perburuan biota laut yang memerlukan ketelitian dan keahlian khusus.
Dalam penangkapan nyale, terdapat dua jenis utama yang sering ditemukan, yaitu Nyale Hijau dan Nyale Air. Keduanya memiliki perbedaan karakteristik fisik dan rasa yang signifikan.
Ciri-ciri Nyale Hijau
Nyale Hijau memiliki warna dominan hijau atau kekuningan dengan tekstur yang lebih padat dan tidak mudah hancur. Dari segi rasa, nyale hijau dikenal sangat gurih dan memiliki kandungan protein tinggi. Jenis ini biasanya hanya muncul pada malam puncak festival, yaitu 7–8 Februari 2026.
Karena kualitasnya yang baik untuk dimasak, baik dalam kuah santan maupun dipepes, harga nyale hijau di pasar cukup tinggi, berkisar antara Rp100.000 hingga Rp150.000 per porsi. Masyarakat sering memilih nyale hijau karena rasanya yang lezat dan daya tahan yang lebih lama dibandingkan jenis lainnya.
Ciri-ciri Nyale Air
Berbeda dengan nyale hijau, nyale air muncul lebih awal sebagai pembuka, atau disebut oleh warga lokal sebagai nyale bekedeq (nyale bermain). Secara fisik, ukuran nyale air cenderung lebih besar namun lebih pendek. Namun, kelemahannya terletak pada daya tahannya yang rendah, karena nyale air sangat rapuh dan mudah mencair setelah ditangkap.
Rasanya pun cenderung lebih pahit dan berisiko memicu gangguan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan. Di pasar tradisional seperti Pasar Kuta Mandalika atau Sengkol, harganya relatif lebih terjangkau, sekitar Rp50.000 per wadah.
Legenda di Balik Bau Nyale
Berdasarkan legenda, cacing laut yang muncul setahun sekali ini merupakan perwujudan Putri Mandalika yang mengorbankan diri demi kedamaian Pulau Lombok. Ritual ini menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan putri tersebut.
Untuk merayakan kemunculan nyale di tahun 2026, para tokoh adat telah menetapkan tanggal 7–8 Februari sebagai puncak festival. Momen ini tidak hanya menjadi ajang penangkapan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merayakan budaya dan tradisi suku Sasak.
Lokasi Favorit untuk Perburuan Nyale
Pesisir selatan Lombok memiliki beberapa titik utama yang selalu dipadati warga saat fajar menyingsing. Berikut adalah beberapa lokasi favorit:
- Pantai Seger: Dianggap sebagai lokasi paling bersejarah karena dipercaya sebagai titik di mana Putri Mandalika menceburkan diri. Di sini berdiri Monumen Putri Mandalika dan sering menjadi pusat hiburan serta prosesi penobatan putri.
- Pantai Senek: Lokasi strategis di depan area hotel berbintang ini menjadi titik keberangkatan para nelayan dengan sampan. Warga biasanya mulai turun ke air sekitar pukul 03.30 WITA untuk menghadang nyale sebelum matahari terbit.
- Pantai Tanjung Aan: Bagi yang menyukai suasana lebih tenang, pantai ini adalah pilihannya. Airnya yang jernih dan asri membuat pergerakan nyale di antara celah karang terlihat sangat jelas.
Selain tiga pantai utama tersebut, perburuan juga tersebar di Pantai Kaliantan, Mawun, Tampah, hingga Selong Belanak.
Alat-alat yang Digunakan dalam Perburuan Nyale
Aktivitas perburuan ini biasanya dimulai pada dini hari sekitar pukul 03.30 WITA hingga matahari terbit. Agar hasil tangkapan maksimal dan keamanan terjaga, para pemburu nyale biasanya menyiapkan empat alat:
Sorok (Jaring Kecil)
Alat menyerupai jaring kecil ini digunakan untuk menyambar nyale yang muncul di permukaan air. Harganya sangat ekonomis, sekitar Rp10-15 ribu, namun banyak juga warga yang membuatnya sendiri.Wadah (Ember atau Panci)
Sebagai tempat menyimpan hasil tangkapan. Warga yang menggunakan sampan biasanya membawa bak besar, sementara mereka yang berjalan kaki cukup membawa ember kecil atau panci.Senter (Lampu Kepala)
Karena perburuan dilakukan dalam kondisi gelap gulita menjelang subuh, lampu penerangan sangat krusial. Penggunaan senter kepala lebih disarankan agar tangan bebas bergerak menangkap nyale.Sepatu atau Alas Kaki
Pantai selatan Lombok memiliki banyak terumbu karang tajam dan duri babi yang bersembunyi di celah batu. Menggunakan sepatu sangat penting untuk melindungi kaki dari luka atau tertusuk duri laut.







