Sejarah Peristiwa Pembongkaran Kuburan Nabi Muhammad SAW
Pada masa lalu, terdapat beberapa upaya jahat yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat mencuri makam Nabi Muhammad SAW. Mereka berencana untuk memindahkan jasad beliau ke wilayah Mesir, Suriah, bahkan ke benua Eropa. Dalam sejarah, pada awal abad ke-7 Hijriyah, al-Hakim al-Ubaidi, seorang penguasa Mesir, terpengaruh oleh bisikan-bisikan dari kaum atheis (zindiq). Untuk meningkatkan kemakmuran ekonomi Mesir, mereka mengusulkan kepada sang penguasa agar memindahkan jasad Nabi Muhammad bersama dua sahabatnya, yakni Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Kondisi ekonomi Mesir saat itu sedang mengalami kesulitan. Oleh karena itu, dengan adanya kuburan Nabi, akan ramai dikunjungi oleh para muslimin di seluruh dunia, serta dapat meraup banyak pendapatan. Usulan tersebut menarik perhatian penguasa Mesir hingga al-Ubaidi berusaha keras untuk melaksanakan rencana pemindahan jasad Rasulullah. Ia mengirimkan perlengkapan dan kekuatan militer yang dipimpin oleh Abul Futuh, karena pembongkaran akan dilakukan secara paksa. Namun, kemudian terjadi perlawanan dan pemberontakan masyarakat Madinah, hingga Abul Futuh hampir terbunuh karena insiden itu.
Keesokannya, datanglah badai angin dan pasir di sekitar Kota Madinah, hingga tunggangan kuda yang dibawa pasukan Abul Futuh mengalami kebutaan dan lumpuh. Badai pasir itu sedemikian kuatnya, sehingga banyak bangunan roboh, menimpa sebagian tentara hingga mengalami cedera berat, dan sebagian tewas di tempat. Al-Hakim al-Ubaidi menempuh cara-cara lain. Ia mengirim beberapa ahli bangunan agar dapat membongkar kuburan Nabi dari bawah tanah. Beberapa utusan menyewa rumah yang sangat berdekatan dengan kuburan. Mereka menggali tanah dari rumah yang mereka sewa sedikit demi sedikit, dengan tujuan agar galian itu sampai ke makam Rasulullah. Namun, di saat mereka melakukan usaha itu, tiba-tiba muncul cahaya di kegelapan malam, dan seketika muncul teriakan orang-orang yang memberitahukan adanya penggalian bawah tanah di sekitar kuburan Nabi.
Setelah para petugas memeriksa dengan seksama, ditemukanlah beberapa orang beserta peralatan khusus yang mereka bawa, yang akhirnya segera diamankan para petugas. Mereka pun ditangkap dan diseret ke pengadilan, sampai kemudian mendapat vonis hukuman mati.

Makam Rasulullah di Masjid Nabawi – (Infomalangraya.com/Amin Madani)
Mimpi Nuruddin Zanki
Aksi pembongkaran kuburan Nabi Muhammad terjadi lagi di masa Sultan al-Malik Nuruddin Zanki (wafat 1174 Masehi). Peristiwanya diawali dengan datangnya dua orang dari Eropa, yang menyamar sebagai ahli ibadah di masjid Nabawi pada 1545 Masehi. Mereka berdua berpakaian layaknya seorang muslim yang taat dan rajin beribadah. Mereka sering melakukan itikaf di Masjid Nabawi, melakukan ziarah ke pemakaman Baqi, bahkan mengaku berpuasa di siang hari.
Dalam jarak ratusan kilometer di Damaskus (Suriah), Sultan Nuruddin tersentak bangun dari tidurnya, karena ia mimpi berjumpa Rasulullah, namun beliau justru meminta tolong kepada Sang Sultan. Tampaknya, keesokan harinya mimpi itu terulang kembali hingga kedua dan ketiga kalinya. Rasulullah betul-betul meminta tolong kepadanya, seraya minta diamankan dari kedatangan dua orang berambut pirang yang akan membongkar kuburannya. Dalam mimpinya itu, Rasulullah menunjuk wajah kedua orang itu, mirip dengan wajah pelancong dari dataran Eropa.
Sang Sultan merundingkan mimpinya bersama menteri pertahanan, sampai kemudian beliau berangkat menuju Kota Madinah sambil dikawal oleh beberapa orang pasukan yang menyertainya. Setelah tiba di Kota Madinah, Sultan memanggil Gubernur Madinah agar menyampaikan pengumuman, bahwa Sultan Nuruddin akan membagi-bagikan hadiah bagi penduduk sekitar, yang rajin melaksanakan salat malam dan beritikaf di masjid Nabawi.
Orang-orang berdatangan menghadiri acara itu, kecuali dua orang pendatang yang sering beritikaf di pojok kanan dekat makam Rasulullah. Sultan minta Gubernur agar mengecek siapa yang belum hadir dalam undangan tersebut. Akhirnya, dapat dipastikan bahwa dua orang pelancong dari Maroko tidak mau hadir, dengan alasan mereka tidak membutuhkan hadiah dari siapa pun.
Ketika dua orang itu dihadirkan ke hadapan Sultan, mereka terlihat kikuk dan canggung, dan mereka mengaku datang dari Maroko untuk melaksanakan ibadah haji, kemudian memilih itikaf di samping makam Rasulullah. Sultan menanyakan tempat tinggalnya selama di Madinah, sambil berencana untuk mengunjungi penginapannya.
Setiba di penginapan, tidak ada kesan bahwa dua orang itu melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pencurian dan pembongkaran kuburan Nabi. Namun demikian, setelah dicermati wajah mereka, tampaknya mirip sekali dengan sosok dua orang yang ditunjuk oleh Rasulullah di dalam mimpi Nuruddin Zanki.
Entah mengapa, tangan Sang Sultan tiba-tiba tergerak untuk memeriksa tempat tidur mereka, yang ternyata dilapisi oleh kayu dan karpet yang agak mencurigakan. Setelah disingkap sambil memeriksa kayu-kayu itu, ternyata ditemukan terowongan di bagian lantai rumah itu. Kedua penghuni rumah itu gemetar ketakutan. Lalu, Sultan segera memerintahkan agar keduanya diamankan.
Ketika diinterogasi, mereka mengaku utusan dari Pasukan Salib yang diperintahkan membongkar makam Nabi Muhammad, untuk dipindahkan jasadnya ke wilayah Eropa. Keduanya dijanjikan akan dibayar mahal sekiranya sanggup memindahkan makam tersebut.
Konon dalam pengakuannya, kedua orang itu sudah berbulan-bulan menggali tanah dari kamar mereka, dan setiap tengah malam mereka membuang tanah galiannya di sekitar pemakaman Baqi yang terletak di samping kuburan Nabi. Mereka menggali tanah sudah ratusan meter, hingga tinggal beberapa meter sampai ke jasad Rasulullah. Akan tetapi, melalui penglihatan Sultan Nuruddin Zanki dalam mimpinya, Rasulullah terhindar dari kejahatan kedua orang pendatang Maroko itu, sampai kemudian mereka dijatuhi hukuman mati.
Setelah peristiwa itu, demi menjaga keamanan makam Rasulullah, Sultan Nuruddin memerintahkan agar dibuatkan tembok dari bahan besi dan timah yang mengitari makam Rasulullah, hingga dapat terjamin keamanannya hingga saat ini.

Kubah Hijau Masjid Nabi di Masjid Nabawi, Sabtu (11/5/2024). – (Karta/Infomalangraya.com)
Perlindungan Allah
Meskipun pada hakikatnya dalam perlindungan Tuhan, namun secara alamiah Tuhan bekerja melalui tangan-tangan terampil hamba-hamba yang dicintai-Nya. Bagi siapa yang membela agama Allah, niscaya Allah akan melindunginya dan melimpahkan pahala yang terbaik baginya.
Kita semua tahu, Sultan Nuruddin Zanki adalah seorang pemimpin Muslim yang zuhud dan wara. Dia seorang panglima perang tetapi juga bersikap santun kepada bala tentaranya, serta rajin berzikir dan beribadah kepada-Nya. Untuk itu, dalam literatur Islam, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi mengaku banyak mengikuti jejak perjuangan dan meniru gaya kepemimpinan Sultan Nuruddin Zanki.
Namun demikian, upaya-upaya kriminalitas dari orang-orang yang berhati jahat, selalu saja muncul dari zaman ke zaman. Rencana pembongkaran berikutnya, terjadi lagi pada abad ke-7 Hijriyah, ketika sekelompok pasukan tempur dari Syiria datang ke wilayah Madinah, dengan maksud terang-terangan ingin membongkar makam Rasulullah dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Pasukan bersenjata itu menyerbu Babus Salam, pintu utama Masjid Nabawi. Ketika hendak menuju makam Rasulullah, mereka bersama kuda-kudanya ambrol dan terperosok ke dalam reruntuhan tanah. Tak ayal, segala peralatan canggih yang mereka persiapkan ikut jatuh dan hancur berantakan, hingga semuanya terbenam dan terkubur di kedalaman bumi. Tidak seorang pun yang berhasil menyelamatkan diri, hingga peristiwa itu sangat mengejutkan dan mengerikan bagi para penduduk di sekitar kota Madinah.
Itulah peristiwa terakhir dari orang-orang yang kemaruk dan serakah, sampai-sampai berani nekat mencuri kuburan Sang Nabi kekasih Allah, yang tentu akan dijamin keamanan dan perlindungannya dari Allah. Entah melalui kejadian alam, atau melalui firasat dan tangan-tangan terampil para kekasih Allah.






