Tragedi Berdarah di Mojokerto: Seorang Pria Diduga Tega Menghabisi Nyawa Ibu Mertuanya dan Melukai Istrinya
Tragedi berdarah yang terjadi di Dusun Sumber Tempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menggegerkan warga setempat. Seorang pria berinisial ES (44), yang sehari-hari bekerja sebagai badut hiburan, diduga tega menghabisi nyawa ibu mertuanya sendiri dan melukai istrinya hingga kritis.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari Kamis pagi, dan membuat warga sekitar panik setelah menemukan jejak darah di sekitar rumah korban. Korban meninggal diketahui bernama Siti Arafah (54), sementara sang istri, Sri Wahyuni, ditemukan dalam kondisi terluka parah dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Warga awalnya curiga setelah melihat tangan pelaku berlumuran darah saat melintas di depan rumah tetangga. Kecurigaan semakin kuat ketika rumah korban ditemukan dalam keadaan terkunci dari luar. Saat warga mengintip dari lubang ventilasi, terlihat genangan darah di dalam rumah. Temuan itu langsung dilaporkan kepada aparat desa dan kepolisian.
Tidak butuh waktu lama, polisi dan tim medis datang ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban dan olah tempat kejadian perkara (TKP). Menurut keterangan warga di lokasi, pelaku diduga sempat berusaha menutupi aksinya sebelum melarikan diri.
Salah seorang tetangga mengaku awalnya tidak menyangka telah terjadi pembunuhan brutal di rumah tersebut. “Saya lihat tangannya ada darah. Dia bilang kena kaca. Tapi saya sudah curiga ada sesuatu,” ujar seorang warga.
Warga kemudian mencoba membuka rumah korban, namun pintu terkunci dari luar. Setelah berhasil melihat ke dalam melalui ventilasi pintu, warga mendapati bercak darah yang cukup banyak di bagian tengah rumah.
Korban Ditemukan Bersimbah Darah
Saat petugas datang ke lokasi, Siti Arafah ditemukan meninggal dunia di dalam rumah. Sementara Sri Wahyuni masih dalam kondisi hidup meski mengalami luka serius dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif.
Polisi menyebut terdapat dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Namun hingga kini, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil autopsi tim forensik. “Betul ada satu korban meninggal dunia dan satu korban lagi masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit,” ujar pihak kepolisian.
Petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, termasuk beberapa senjata tajam yang diduga digunakan pelaku.
Pelaku Sempat Kabur ke Surabaya
Usai kejadian, ES melarikan diri menggunakan kendaraan umum. Polisi bergerak cepat melakukan pengejaran dan akhirnya berhasil menangkap pelaku kurang dari enam jam setelah kejadian. Pelaku diamankan di kawasan Asemrowo, Surabaya, dengan bantuan tim gabungan Resmob dan Jatanras serta dukungan Polsek setempat.
“Alhamdulillah kurang dari enam jam pelaku berhasil diamankan di daerah Asemrowo Surabaya,” kata polisi. Saat ditangkap, pelaku disebut tidak melakukan perlawanan.
Diduga Dipicu Konflik Rumah Tangga dan Ekonomi
Berdasarkan keterangan warga sekitar, rumah tangga pelaku dan istrinya disebut sering dilanda pertengkaran. Faktor ekonomi diduga menjadi salah satu pemicu utama konflik. Tetangga menyebut pelaku memiliki banyak utang dan kondisi ekonomi keluarga cukup sulit. Sang istri bahkan disebut harus bekerja di luar rumah demi membantu kebutuhan sehari-hari.
“Sering cekcok karena faktor ekonomi juga, utangnya ke sana kemari,” ujar warga. Selain masalah ekonomi, muncul dugaan adanya persoalan kecemburuan dalam rumah tangga pasangan tersebut. Warga mengungkapkan pelaku sempat curiga terhadap aktivitas istrinya yang bekerja di luar rumah.
Meski demikian, polisi belum menyimpulkan motif pasti dan masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku serta saksi-saksi.
Polisi Dalami Luka Korban dan Senjata yang Digunakan
Dari hasil pemeriksaan awal, korban meninggal diketahui mengalami luka di bagian leher akibat benda tajam. Namun polisi masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan detail penyebab kematian. Sementara itu, istri pelaku masih menjalani perawatan medis sehingga belum bisa dimintai keterangan secara lengkap.
Polisi memastikan proses penyidikan terus berjalan untuk mengungkap secara utuh kronologi serta motif pelaku. Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang berujung maut seperti ini kembali menunjukkan bahwa konflik ekonomi dan relasi keluarga yang tidak sehat dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem ketika tidak ditangani sejak awal.
Di banyak kasus, pertengkaran yang dianggap “biasa” oleh lingkungan sekitar ternyata menyimpan tekanan psikologis yang serius. Kecepatan polisi menangkap pelaku memang patut diapresiasi, namun tragedi ini juga menjadi pengingat pentingnya deteksi dini terhadap kekerasan domestik, terutama ketika pertengkaran dalam rumah tangga sudah terjadi berulang kali dan mulai melibatkan ancaman fisik.







